
...Matahari bersinar terang benderang menerpa bumi, bunyi burung saling bersahutan menandakan betapa riang hari ini. Namun tidak seindah dan secerah matahari dikediaman Mala dan Satria tenggah terjadi perdebatan hebat....
"Kak, ayo kita kerumah bapak" Pinta Mala kepada sang suami yang enggan meninggalkan toko yang baru mereka buka.
"Tunggu bapak kesini aja Nur, gak usah repot-repot kesana" Jelas Satria yang geram akan keras kepala sang istri yang ngotot menghampiri sang bapak.
"Kelamaan kak, ini sudah jam 9, sudah terlalu siang untuk berbelanja kepasar" Balas Mala masih bersekukuh akan pendiriannya.
"Kalau kamu mau? Pergi saja sendiri. Aku mau jaga toko aja sapa tahu ada yang beli"
...Mandegar ucapan sang suami membuat Mala semakin kesal akan sang suami yang tidak bisa diajak konformi....
"Kalau begitu kakak tinggal saja sendirian disini, aku bakalan nginap ditempat bapak" Ucap Mala sambil menghentakkan kaki seking kesalnya.
"Ya sudah, pergi sana" Balas Satria cuek, dia enggan membujuk sang istri yang suka melawan hinga suara ibu-ibu mengagetkan mereka.
"Nak, tokonya baru buka ya? " Tanya sang ibu dengan ramah.
"Iya bu, mau berbelanja? " Jawab Satria tak kalah ramah.
"Iya, ada gula sama kopi nak? "
"Ada bu, tunggu saya ambilkan dulu ya, oh iya mau berapa kilo gulanya bu? Dan kopi apa yang ibu mau? " Tanya Satria memperjelas permintaan pembeli pertamanya.
...Mala yang dicuekin oleh sang suami akhhirnya duduk di kursi kasir, dia jadi enggan untuk meninggalkan sang suami sendiri di toko. Takut digodain sama ibu-ibu pikirnya....
"Kamu cucu ibu Aisyah kan? " Tanya ibu itu ketika melihat Mala.
"Iya bu" Jawab Mala sambil menundukkan kepala malu.
"Ibu mau berapa kilo gulanya tadi? " Tanya Satria kembali karna perhatian sang ibu yang teralihkan kepada sang istri.
"Oh iya ibu lupa nak, gulanya 1 kg saja. Kalau kopinya yang bungkus sedang kopi kapal api ya nak"
...Satria segera mengambilkan pesanan sang ibu dengan cekatan....
"Ini bu" Ucap Satria sambil menyerahkan pesanan sang ibu.
"Berapa semuanya nak? "
"Gula 1 kg : 12 ribu kalau kopi yang ukuran sedang 10 jadi semuanya 22 ribu bu" Jelas Satria, lalu sang ibu memberi uang 50 ribu kepada Satria.
"Tunggu kembaliannya bu" Ucap Satria yang ingin mengambil kembalian di meja kasir.
__ADS_1
"Minggir Nur" Ujar Satria mengusir sang istri yang masih anteng duduk dikursi kasir.
...Mala bagun dari duduknya sambil menatap tajam sang suami....
"Ibu Aishya orang yang sangat baik, beliau suka sekali bersedekah" Ucap ibu itu mengagetkan Mala dan Satria.
"Iya bu" Balas mereka kompak.
"Ini kembaliannya bu 38 ribu" Ucap Satria menyerahkan uang kembalian sang ibu.
"Semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah"
"Amin" Ucap Mala dan Satria mengaminkan ucapan sang ibu yang sambil berlalu pergi.
...Ketika sang ibu itu sudah cukup jauh, Satria mulai kepo akan sang istri....
"Nur, emangnya nenek kamu terkenal ya sampai setelah beliau meninggal orang tetap mendoakannya? " Tanya Satria sambil menarik bangku untuk duduk disamping sang istri yang masih tidak beranjak jauh dari meja kasir.
"Nenek Aisyah memang baik kak, walau mulutnya rada pedas jika kita melakukan kesalahan. Namun lembut dalam kasih sayang kepada semua orang yang ditemunya" Jelas Mala menginggat sang nenek.
...Jelas Mala sangat tahu siapa neneknya sebab dia tinggal bersama neneknya hampir 12 tahun lamanya. Sifat dan watak sang nenek amat Mala tahu....
Tittt....
...Suara bunyi kelason dari sebuah mobil pick up masuk kehalaman rumah mangagetkan Mala dan Satria. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang bapak....
"Bapak bawak banyak barang?" Ucap Satria bingung melihat mobil sang mertua yang penuh.
"Iya nak, untuk mengisi toko kalian" Balas pak Udin sambil turun dari mobinya.
"Geratis pak? " Tanya Mala yang mendegar ucapan sang bapak.
"Ya enggak lah, bisa bangkrut bapak kalau geratis" Balas sang bapak sambil menurunkan barang-barang dimobil dibantu oleh Satria.
"Ya sapa tahu pak" Balas Mala sambil memandori dua orang lelaki dihadapannya tanpa niat membantu sama sekali.
"Jadi bagaimana pembayarannya pak? " Tanya Satria sambil sibuk mengakat barang.
"Nanti bapak kasih kuntasi barang-barang ini kalian bayar kalau sudah laku saja"
...Mendengar penuturan sang bapak membuat Mala dan Satria tersenyum lebar sambil mengucapkan hamdalah....
"Alhamdulillah" Ucap mereka kompak.
__ADS_1
...Hati Udin menghngat jika dia bisa membantu meringankan beban orang lain apa lagi sang puri yang dulu selalu dia caci maki. Namun didalam hatinya tidak tega melakukan hal itu, akan tetapi rasa malu dan rendah yang membuatnya melakukan hal yang tidak seharusnya di lakukan....
...Apalah seorang Samsudin yang hanya seorang mantan preman pasar, kata-kata itulah yang membuatnya merasa hina dan tak pantas ikut andil dalam mendidik sang putri hinga dia alihkan hak asuh kepada sang kakak ipar Azzahra dan sang mertua pak Ibrahim....
"Bapak jagan melamun nanti tidak selesai ini pekerjaan" Protes Mala yang melihat sang bapak hanya melamun tidak bergerak membantu mereka.
"Iya Mala" Jawab pak Udin sambil mengakat barang-barang yang sudah diturunkan oleh Satria ke bawah untuk di bawa ketoko.
...Pekerjaan akan terasa ringan jika dikerjakan bersama dengan hati yang riang. Hinga semua barang sudah berpindah masuk kedalam toko. Satria dan Mala terus menyusun barang-barang sesuai tempatnya....
...Pak Udin yang melihat sang putri dan Satria yang kompak dalam memulai bisnis kecil mereka merasa kasihan. Bukan tanpa sebab dia memikirkan keadaan sang putri yang pasti akan kelelahan akibat membantu mengangkat-angkat barang, belum lagi harus mengurusi rumah sendirian. Hinga dia teringat akan permintaan Suci....
"Nak, bagaimana kalau kalian terima Suci berkerja disini? Bapak tidak tega melihat Mala kelelahan" Ucap pak Udin memberi alasan untuk mereka menerima Suci.
...Mala dan Satria saling menatap, terkejut mendegar penuturan sang bapak....
"Kalau Satria seterah Nur aja pak" Ucap Satria melemparkan tanggung jawab.
...Memang suami tidak berakhlak pikir Mala....
"Mala takut pak kalau Suci nanti merebut kak Satria dari Mala" Ucap Mala sambil menundukkan kepala malu.
...Mendengar ucapan Mala pak Udin dan Satria saling menatap lalu tersenyum geli....
"Nak, bapak sangat tahu Suci. Dia tidak akan mengambil yang bukan haknya, sebab bapak sudah sering menguji kejujurannya. Kasihanilah dia nak, nasip kalian sama bedanya dia yatim ditinggal bapaknya kalau kamu ditinggal ibu. Namun kamu masih dikelilingi oleh orang-orang yang selalu memperhatikan kamu dan menyayangi berbeda dengan Suci yang hanya memiliki neneknya saja" Jelas pak Udin panjang lebar.
...Mendegar penjelasan sang bapak membuat hati Mala terenyuh sakit karna dia tahu bagaimana kejamnya menyandang anak yatim....
"Kalau begitu boleh pak" Jawabnya memangtapkan hati.
"Boleh apa Nur? " Tanya Satria yang ingin mengerjai sang istri.
"Ya menerima Suci lah kak"
"Alhamdulillah ada teman baru"
"Maksudnya? "
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung......
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*