
Cukup lama Pak Rudy dan Suci bertamu, hingga waktu sore akhirnya mereka berdua pamit karena ada keperluan lain.
Sebenarnya Pak Rudy ingin menemui kliennya di tanah air dan ternyata ia mendapatkan berita jika Mala telah melahirkan, sehingga mengajak Suci untuk bertemu dengan anaknya Mala.
Pak Rudy juga sudah mengetahui jika Mala pernah meminta Suci untuk menjadi ibu bagi anak-anak mereka nanti, hal itu membuat Pak Rudy perlu mengajak Suci untuk bertemu dengan ibu dan anak tersebut.
Kini Pak Rudy tengah berada di dalam mobil bersama Suci setelah pamitan dengan Udin dan Azzahra walaupun Mala dan Satria yang belum keluar dari kamar. Pak Rudy memahami jika paska operasi yang dijalani oleh Mala memang harus sed di tempat tidur.
"Tri, kamu tidak apa-apa 'kan jika kita tinggal di tanah air?" tanya Pak Rudy sambil menghidupkan mesin mobil dan mulai keluar dari halaman rumah Satria dan Mala.
"Iya, Yah. Lagian Ayah juga ada urusan di sini," jawab Suci sambil tersenyum kearah Pak Rudy, setelah itu ia mengalihkan perhatiannya ke luar jendela mobil.
Mungkin Suci sudah memaafkan semua kesalahan Pak Rudy dan kini memanggil lelaki itu dengan sebutan Ayah. Namun, masih ada perasaan sungkan yang ia rasakan karena memang baru beberapa bulan ini ia berhubungan intens dengan lelaki yang kini tengah mengemudikan mobil.
Kata maaf memang berat diucap apa lagi memberikan maaf memang tidak 'lah mudah, akan tetapi jika menyimpan dendam didalam hati sama saja mengotori hati sendiri. Hal itu yang membuat Suci atau Sulastri menerima dengan hati yang lapang apa yang pernah dilakukan oleh Pak Rudy.
Semua orang punya niat baik, akan tetapi masih banyak yang salah penyampaianny, mungkin itu yang terjadi kepada Pak Rudy.
__ADS_1
Setelah pembicaraan tadi, mereka terhanyut dengan pikiran masing-masing.
"Semoga ada jalannya," batin Suci.
***
Di rumah Satria dan Mala terjadi kegaduhan, setelah kepergian Suci kedua pasangan suami istri itu adu argumen. Semua gara-gara Azzahra yang menjadi kompornya, wanita itu mengatakan jika Suci dan Pak Rudy ingin menagih janji yang dulu pernah Mala ucapkan.
"Kakak dengar 'kan kata Umi, tadi!" pekik Mala dengan lelehan air mata. Dia tidak terima akan kedatangan Suci yang tiba-tiba dan ingin menagih janji.
"Nur, kamu ingat pesan Kakek Sulaiman? Beliau mengatakan 'Jika janji adalah hutang dan hukum hutang wajib dibayar'," ucap Satria pelan mengingatkan istrinya itu.
Mala terdiam seketika, sekuat apa pun ia menolak kehadiran Suci? Gadis itu akan tetapi menjadi bayangan yang nyata untuk hidupnya karena sebuah janji yang pernah diucap.
"Suci kesini bukan karena hal itu!" kata Udin tiba-tiba di tengah suasana yang masih terasa memanas.
Lelaki biasanya lebih menggunakan logika daripada perasaan, berbeda dengan kaum wanita yang selalu mengutamakan perasaan di atas segalanya dan baru berpikir setelah tertimpa masalah.
__ADS_1
"Dari mana kamu bisa berkata seperti itu, Mas! Tadi 'kan sudah jelas jika pak Rudy ingin menagih janji Mala!" bantah Azzahra yang tidak sependapat dengan suaminya.
Udin menatap istrinya dan menjelaskan alasan utama Pak Rudy datang karena ada perjalanan bisnis dan kebetulan lelaki itu menerima berita jika Mala sudah melahirkan. Karena merasa Suci harus tahu tentang ini maka Pak Rudy membawanya.
Semuanya terdiam dalam pikiran masing-masing, akan tetapi dengan pikiran yang sama yaitu tentang kedatangan Suci dan Pak Rudy. Kehadiran kedua orang itu masih meninggalkan tanda tanya besar bagi mereka.
"Semoga hal baik selalu menyertai kalian, Nak," batin Udin.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1