Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Menjenguk Umi.


__ADS_3

Setelah perdebatan sampai akhrinya Cahaya terbagun karena suara ribut. Membuat Mala bernafas lega, ia segera membawa sang putri keluar dari ruangan itu. 


Sulaiman yang melihat tingkah tidak beradab sang cucu sangat geram. Lelaki itu ngomel-ngomel kepada Mala dan Satria. Namun, kedua orang itu malah pergi meninggalkannya membuat kemarahan Sulaiman menjadi-jadi.


"Kalian memang cucu tidak berakhlak! Tidak punya tata krama sama orang!" maki Sulaiman sampai ke depan mobil milik Satria. 


"Kakek, kami hanya ingin menjenguk Umi. Kakek diajak nggak mau? Yang salah kami atau kakek?" tanya Mala yang mulai kesal akan sikap Kakeknya yang berlagak seperti Kakek yang dizalimi oleh cucunya. 


"Kakek punya mobil dan kaki. Kalau Kakek mau pergi, ya akan pergi!" jelasnya masih marah. 


"Ya sudah, kami pamit. Assalamualaikum," ucap Mala sambil mencium punggung tangan lelaki itu. 


Walaupun dengan berat hati, Sulaiman tetap menerima tangan cucunya dan melepaskan kepergian mereka. 


Sekesal-kesalnya orang tua, mereka tetap menyayangi anak dan cucunya. Sebab, didalam darah mereka mengalir juga darah sang anak dan cucu. Hal itu membuat Sulaiman yang dari luar nampak marah. Namun, didalam hatinya sangat mengkhawatirkan keadaan anak dan cucunya. 


Namun, yang namanya orang tua. Mereka terlalu gengsi untuk mengatakan hal itu dan memilih meminta diperhatikan oleh sang anak atau cucu. 


Setelah di dalam mobil, Satria memulai membuka pembicaraan.


"Maaf ya Nur, aku belum memberi tahu kamu juga Umi masuk rumah sakit," jelas Satria menyesal karena sempat tidak mau bercerita kepada sang istri.


"Gak pa-pa, Kak. Aku paham ko', jelas Mala tulus. Dia tahu bagaimana keadaan suaminya yang sangat tertekan. 


"Tapi, kenapa Kakek bersikap seperti tadi ya, Nur?" tanya Satria masih bingung akan sikap Kakek Sulaiman. 


"Kakek memang begitu orangnya, di luar aja dia pemarah. Tapi, sebenarnya hatinya sangat lembut, Kak. Maklum dia sudah menjadi Al-Quran buruk," jelas Mala. 


Satria mengerutkan kedua alisnya berpikir sejenak setelah mendengar penuturan sang istri.


"Maksudnya Al-Quran buruk apa,  Nur?" tanya Satria penasaran.


"Kakak tahu 'kan Al-Quran buruk? Maksudnya Al-Quran yang sudah lama. Tulisannya saja susah dibaca bahkan ada yang koyak dan tidak bisa dibaca. Namun, bagaimanapun keadaannya dia tetap wajib kita muliakan," jelas Mala. 


Istilah yang baru Satria ketahui, akan tetapi sangat pas untuk kakek Sulaiman. Walaupun bagaimana sikap dan perwatakan lelaki itu. Mereka harus tetap menghormati sang kakek. Itu 'lahistilah Al-Quran buruk atau lama. Walaupun sulit dibaca bahkan sebagian tulisan ada yang hilang. Namun, tetap dihormati dan dijaga. 


Setelah pembacaan itu mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga tidak terasa mereka sudah memasuki area rumah sakit. 


Cahaya yang melihat tempat baru mulai beraksi. Balita itu menunjuk keluar dengan wajah yang sangat menggemaskan. 

__ADS_1


"Sabar Cha-Cha, nanti kita akan turun juga," jelas Mala yang gemas akan sikap sang putri begitu juga dengan Satria. 


Akhirnya mereka keluar dari mobil, setelah memarkirkan mobil di area parkir tentunya. Satria menelpon sang bapak memberitahukan kedatangan mereka, sekaligus ingin tahu dimana ruangan sang umi. 


"Ayo," ajak Satria setelah selesai menelepon.


Kini mereka berjalan sambil bergandengan tangan dengan Cahaya digendong Satria. Sebab, balita itu yang masih belum bisa berjalan sendiri. 


"Kak, apa boleh membawa anak kecil kerumah sakit?" tanya Mala yang teringat akan peraturan rumah sakit. 


Satria terdiam sesaat kemudian menatap sang istri. 


"Sebenarnya tidak boleh sih, Nur? Tapi, bagaimana ya? Kita tidak mungkin meninggalkan Cha-Cha," jelas Satria bingung sampai mereka dikejutkan oleh panggilan seseorang.


"Mala! Satria!"


Ternyata yang memanggil mereka adalah Tasya istrinya Azzam itu mendekat dengan senyum yang mengembang.


"Kalian baru datang?" tanyanya ketika telah berada di hadapan Mala dan Satria.


"Iya, Mbak. Tapi, kami bingung mau masuk kedalam," jelas Mala ragu. 


"Terimakasih, Sya," jelas Satria yang merasa tidak nyaman.


"Nggak papa, Ko'. Kalian memang harus masuk, kasihan Bapak. Dia seperti tidak bersemangat," jelas Tasya memberitahukan keadaan sang bapak mertua.


"Nanti, kami telepon ya. Jika, sudah selesai menjenguk Umi," jelas Satria sambil menyerahkan sang putri untuk dijaga Tasya. 


Wanita itu hanya mengangguk dan membawa sang keponakan yang berada digendongnya menuju ruangan khusus untuk para dokter beristirahat.


"Kak,  nggak papa titip Cha-Cha sama Mbak Tasya?" tanya Mala masih ragu. 


"Makanya, kita cepat menemui Umi dan Bapak. Kamu juga dengar 'kan apa yang Tasya katakan tadi," jelas Satria sambil membawa langkahnya menuju ruangan sang umi.


Mala hanya mampu mengikuti perintah suaminya sampai mereka sampai di ruangan VIP rumah sakit tersebut. 


"Apa benar disini, Kak?" tanya Mala ragu. 


Satria tidak menjawab pertanyaan sang isitri, dia mengetuk pintu dan tidak berapa lama keluarlah lelaki yang sangat mereka kenal. 

__ADS_1


"Bapak!" panggil mereka kompak saking terkejutnya akan penampilan lelaki itu. 


"Kalian? Ayo masuk," ajaknya dengan raut mata berbinar melihat kedatangan sang putri dan menantunya. 


Kini mata Mala tertuju ke arah tempat  tidur, dimana sang umi terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang melekat di badan wanita itu. 


Air matanya menetes tanpa permisi, jatuh dan membasahi kedua pipinya. Dengan tangan bergetar ia mencoba mendekat dan meraih tangan sang umi.


"Umi," lirih Mala dengan pilu. Belum selesai dengan masalah kecelakaan pesawat sang mertua yang sampai saat ini masih dicari oleh tim sar. Kini Mala harus melihat keadaan sang umi yang sangat memperhatikan. 


Hati anak mana yang mampu melihat wanita yang sangat berarti dalam hidupnya kini terbaring tidak berdaya. Walaupun Azzahra hanya ibu susu buat Mala. Namun, ikatakan perasaan mereka sangat kuat. Sebab, di dalam tubuh Mala mengalir darah wanita itu. 


"La, maaf 'kan Bapak," lirih Udin menyesal. Dia benar-benar tidak tahu jika sang istri tengah hamil muda dan rentan keguguran. Sebab, usia kandungan yang masih muda. 


Udin yang sedang bekerja dikejutkan oleh panggilan dari asistensi rumah tangga yang mengatakan jika sang istri terjatuh dan mengeluarkan darah. Pikiran Udin saat itu sangat kalut dengan membawa mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah.


"Bapak kenapa Umi tidak bangun?" lirih Mala yang melihat sang umi  tidak  merespon panggilannya. 


"Umimu baru selesai dioperasi, nanti malam baru efek obat biusnya baru hilang," jelas Udin sama seperti yang dijelaskan oleh dokter yang mengoperasi sang istri.


"Kenapa Tuhan melakukan ini! Kenapa aku tidak boleh bahagia? Kenapa?"


Mala meraung-raung sambil menangis, Satria yang melihat keadaan sang istri segera memeluk wanita itu. Satria membisikkan lafas istighfar kepada istrinya, sebab Satria tidak ingin istrinya sampai depresi yang berlebihan. 


"Mala," lirih Udin yang ikut memeluk sang putri. 


"Dokter! Pak, panggilkan Dokter!" teriak Satria panik dengan keadaan istrinya yang kejang-kejang. 


"Ya Robb, ujian apalagi ini?" batin Satria. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2