
"Saya bisa!" teriak Aziz membuat semua orang menatapnya. Sebenarnya urusan Aziz dan Satria telah selesai, lelaki itu memperhatikan dan mendengar apa yang disampaikan oleh Mala. Sehingga membuat hatinya tergerak dan menyatakan sanggup akan permintaan wanita hamil tersebut.
"Walaupun di dunia ini sulit melakukannya, akan tetapi saya akan berusaha sekuat tenaga. Jika saya tetap tidak mampu, maka nanti di Yaumul akhir. Saya akan meminta kepada Sang Pengadil yang Paling adil untuk mengabulkan permintaan saya."
Semua orang tertegun akan setiap ucapan yang Aziz keluarkan. Lelaki itu benar-benar berubah, ternyata selama di dunia perkantoran mampu membuka hati dan pikiran seorang Ahmad Aziz. Lelaki yang selalu merasa benar dan pongah akan segala pencapaiannya.
Namun, Aziz sekarang membuat mereka melihat sosok yang baru. Tidak ada Aziz yang dulu, sombong dan terkesan arogan.
Bukan kehendak seorang Ahmad Aziz berwatak seperti dulu, semua terjadi pasti ada akar permasalahannya.
Ahmad Aziz merupakan anak pertama dan juga anak lelaki membuat Aziz kecil sering diasingkan oleh orang tuanya sendiri setelah kehadiran adiknya, Fatimah. Aziz kecil sangatlah kesepian dan menderita, ia harus selalu mengalah akan apapun yang melibatkan sang adik.
Kata pilih kasih pernah diucapkan oleh Aziz kepada kedua orang tuanya sebagai bentuk protes akan perilaku orang tuanya yang menganggap Aziz hanya sebagai anak angkat saja.
Psikis dan mental seorang Aziz sudah tertimpa sejak kecil dan ketika ia dewasa, lelaki itu menjadi sombong dan arogan karena ingin membuktikan kepada orang tuanya agar mereka bisa melihat keberadaan seorang Aziz.
Namun, sayang sesuatu yang telah menjadi watak amatlah sulit dihilangkan, bahkan apa yang diharapkan tidak pernah terwujud hingga sang ayah menghadap Sang Khalik sekalipun. Aziz tetaplah anak yang diasingkan, hingga ia harus bercerai dengan sang istri. Semua akibat pilih kasih yang ia lakukan terhadap istrinya, karena suka membela Fatimah sang adik.
Kebiasaan, hal itu yang terjadi kepada Aziz saat itu, ia yang didik untuk selalu melindungi sang adik terbawa hingga dewasa dan sampai memiliki anak serta istri.
Akan tetapi, setelah ia bertemu dengan Ikbal dan Marissa orang tua Satria yang bijak. Seorang Aziz di gembleng dan di arahkan supaya menjadi Manusia yang lebih baik lagi.
Jika, kita bertemu dengan orang bijak? Maka kita akan di ajari dan diarahkan agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Namun, jika kita bertemu dengan orang yang tidak bijak? Maka kita hanya akan disudutkan dan direndahkan tanpa ada rasa belas kasihan.
Aziz sangat berhutang budi kepada kedua orang tua Satria dan ia telah berniat untuk mengabdikan dirinya kepada mereka yang telah mau mengajaknya dalam kehidupan yang lebih baik.
Satria merasa sangat bangga akan perubahan yang signifikan sang abi dan merasa bersyukur telah diberikan nikmat dunia yang tiada tara.
Satria mengajak sang abi duduk di dekat sang istri dan meminta lelaki itu mengusap perut istrinya yang sudah membesar tersebut.
__ADS_1
"Bi, tolong usap perut, Nur. Lalu doakan 'lah anak kami," pinta Satria penuh harap, akan tetapi mendapatkan gelengan kepala lelaki itu.
"Ada apa, Bi?" tanya Mala penasaran.
"Maafkan saya, kamu bukan lagi mahram saya," balasnya dengan rasa penyesalan membuat semua orang memandangnya dengan tatapan sendu.
Mala menggelengkan kepala dan membantah apa yang diucapkan oleh sang abi, "Abi, didunia ini hanya ada mantan suami dan mantan istri. Tidak ada mantan anak dan orang tua."
Aziz menatap Mala dengan mata yang sudah mengembun, lelaki itu tidak bisa menahan rasa sesak di dada mendengar ucapan wanita hamil tersebut. Sekuat-kuatnya seorang Aziz akan tetapi ia juga Manusia, tangisnya pecah seketika setelah mendengar penuturan Mala.
"Aku sayang Abi. Mau dunia berhenti berputar sekalipun? Abi Aziz tetaplah Abiku."
Seketika suasana yang tadinya bersahaja, langsung berubah menjadi kesedihan yang membuat semua orang meneteskan air mata.
Betapa luas hati wanita hamil itu yang dengan mudahnya memaafkan orang yang dulu pernah menghina dan mencaci-makinya. Semua orang tahu bahwa seorang Mala memiliki sikap seperti cermin, ia akan membalas semua perbuatan orang terhadapnya.
Orang yang bersalah memang pantas dihukum, akan tetapi jika orang tersebut mau berubah menjadi lebih baik dan mengakui semua kesalahannya. Maka kita akan berdosa jika tidak memberikan kesempatan untuk orang tersebut, atau bahkan kita malah menghukum orang tersebut atas perbuatannya di masa lalu. Hal itu berarti kita tidak ada bedanya dengan mereka yang pernah melakukan kesalahan.
***
Setelah acara Tasyakur kemarin, Mala kembali lagi dengan kehidupan yang membosankan. Wanita hamil itu tidak henti-hentinya mengomel terhadap siapa saja yang masuk ke kamarnya. Sama seperti saat ini, wanita hamil itu tengah mengomeli sang suami yang katanya mau menjadi suami siaga buatnya.
"Aku gak suka, Kak!" teriak Mala dengan kerasnya, akan tetapi seolah tuli. Suaminya tetap menyodorkan sendok yang berisi bubur kacang hijau kepada sang istri.
"Kakak! Kakak gak dengar apa kataku!" pekik Mala semakin kesal. Namun, sama seperti sebelumnya, suaminya itu tidak menggubris ucapannya.
"Kakak! Kalau begini aku nangis nih!" bentaknya dan berakting seolah-olah istri yang dizalimi.
Terdengar hembusan nafas panjang dari lelaki yang tengah duduk ditepi tempat tidur tersebut, dengan lembut ia meletakkan mangkuk yang sedari tadi dipegang keatas meja kecil disampingnya.
__ADS_1
Satria segera memeluk istrinya yang sudah seperti nenek lampir saja, dengan penampilan rambut kusut dan wajah yang kusam akibat masa kehamilan yang menyiksa.
Lelaki itu dengan lembut membelai rambut istrinya dan sesekali mencium pucuk kepala sang istri. Dia tahu jika istrinya tersiksa seperti ini, akan tetapi mau bagaimana lagi? Ini adalah fase yang sangat sulit bagi seorang wanita hamil. Fase dimana harus menyiapkan mental dan fisik untuk melahirkan seorang anak.
Satria telah mendapatkan banyak sekali wajengan baik dari orang tuanya sendiri hingga sang mertua. Jika, ia harus sabar dan ikhlas menghadapi sang istri jika berperilaku seperti anak kecil.
Namun, Satria juga Manusia. Kadang ia merasa lelah akan ini semua, akan tetapi jika ia teringat akan bayi yang dikandung sang istri. Maka semangatnya kembali membara.
Satria membuang nafasnya pelan lalu menatap wajah istrinya yang telah berubah jauh dari sebelumnya, "Nur, aku hanya meminta kamu makan. Tolong kasihanilah anak kita."
Tangis Mala tiba-tiba pecah seketika, entah mengapa ia malah merasa cemburu akan ucapan sang suami.
Satria semakin bingung akan sikap sang istri dan bertanya, "Kenapa kamu menangis, Nur? Kasihan anak kita, nanti dia juga ikut bersedih."
Namun, ucapan Satria disalah artikan oleh Mala.
"Kakak hanya sayang sama anak kita! Kakak tidak sayang sama aku! Kakak pilih kasih! Aku benci Kakak!"
"Allahu Akbar!"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1