Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Masa Indah Kehamilan


__ADS_3

"Apa Kakek menggaulinya?" tanya Satria yang mendapat pukulan di kepala dan umpatan kasar sang kakek. 


"Dasar lelaki mesum!"


"Kakek, jangan seperti itu!" pekik Mala tidak terima suaminya dipukul di kepala oleh sang kakek. 


"Sari! Suamimu ini perlu di ruqyah agar setan yang ada di tubuhnya pergi."


Akhirnya terjadi perdebatan panjang lebar anatara kakek dan dua cucunya tersebut.


Hidup didunia memang penuh akan ujian dan masalah, akan tetapi kita sebagai Manusia yang memiliki akal fikir agar bisa menyikapi semuanya dengan bijaksana. 


Laksana sepeti di dalam kapal yang berada ditengah lautan. Kita harus siap akan badai yang kapanpun datang menerjang. Berusaha dan berdoa adalah cara kita menghadapi semuanya dengan sebaik mungkin. 


Percayalah Sang Robb bersama dengan orang-orang yang sabar dan bertawakal. 


***


Waktu terus bergulir seiring pergantian siang dan malam, hingga tidak terasa kehamilan Mala telah memasuki usia 7 bulan. Para keluarga sepakat mengadakan syukuran terlebih lagi Kakek Sulaiaman yang sudah pulang kealamnya membuat semua hati merasa lega karena tidak akan mendegar perkataan tajam lelaki paruh baya itu.


Ketika Kakek Sulaiaman masih ada di rumah semua orang diseprot oleh lelaki paruh baya itu, mualai dari Udin dan Azzahra yang menikah tanpa memberi tahunya. 


Satria dan Mala juga ikut dapat semprotan dari sang Kakek karena menikah juga tidak memberi tahunya hingga Azzam yang datang untuk menjenguk sang adikpun ikut kena semprot oleh sang Kakek membuat pemuda itu mengutuk dirinya sendiri karena mau datang kerumah sang adik yang ternyata ada kakek mereka.


Kata 'Aman dan damai' selalu mereka sematkan setela kepergian Kakek Sualaiman. Seperti kata orang tua dulu, kalau orang seperti Kakek Sulaiman adalah 'Al-Qur'an usang. Dibaca TIDAK BISA, dibuang DURHAKA (berdosa). Karena hal itulah semua yang disemprot oleh sang Kakek hanya mampu diam dan menerima semua cercaan lelaki paruh baya tersebut.


Namun, lain halnya dengan Mala yang memang berani. Wanita hamil itu selalu saja mencari celah untuk menjatuhkan sang kakek sehingga kakeknya mau betah lama-lama disana. 


Disebabkan oleh tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab membuat sanh kakek mau tidak mau harus kembali berpisah dengan orang terkasihinya.


Keluarga tetaplah keluarga, tidak akan ada bekasnya selama darah yang sama masih mengalir. Hal itulah membuat keluarga para pengejar cinta Robb selalu terikat satu sama lain. Sama seperti saat ini ketika mereka menyelenggarakan tasyakur 7 bulanan Mala. 


"Siapa yang akan memimpin doa?" tanya Satria sambil duduk disamping sang istri.


"Bapak," jawab Mala singkat. 

__ADS_1


"Assalamualaiku."


Semua mata tertuju kepada seseorang yang mengucapkan salam, terlibat lelaki dengan pakaian kantoran yang masih berdiri diambang pintu membuat Azzam berinisiatif menghampiri dan berniat mengajak lelaki tersebut. 


"Silahkan masuk, Pak," ujar Azzam sopan membuat lelaki tersebut tertawa lepas seking gemas akan Azzam.


"Hahahaha, kamu ini Zam," ucapnya sambil menarik kuping Azzam yang membuat pemuda itu menjerit kesakitan.


"Aw! Sakit!" pekiknya dan segera melepaskan tangan lelaki itu dari telinganya. 


Lelaki itu samakin tertawa lepas melihat tingkah Azzam lalu berkata, "Emangnya siapa yang berani menarik telingamu, Zam?."


Pertanyaan itu membuat kesadaran Azzam kembali seketika, ia tahu jika hanya satu orang yang berani melakukan hal tersebut yaitu abinya.


Azzam memperhatikan baik-baik wajah lelaki dihadapannya yang mengunakan kemeja dan setelan jas khas orang kantoran. Namun, setelah pemuda itu memperhatikan wajah lelaki itu dia langsung berteriak. 


"Abi! Abinya Azzam? Abi kandungku? Abi Aziz!."


Teriakkan Azzam yang mengatakan abi menarik perhatian semua orang hingga mendekati mereka berdua. 


Azzahra juga ikut memperhatikan lelaki yang masih berdiri diambang pintu tersebut dengan perasaan tidak percaya. 


Ketika pandangan lelaki itu tertuju kepada Satria dia langsung mendekat dan menyampaikan maksud kedatangannya. 


"Mohon maaf Pak Satria, ini ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani oleh anda," jelasnya sambil menyodorkan map yang ia bawa kepada Satria sesuai dengan perintah yang di berikan kepadanya. 


Satria tersenyum menerima map yang berisi berkas itu lalu mengajak Abi Aziz masuk kedalam karena ada yang ingin ia jelaskan kepada lelaki tersebut. 


Satria telah mengetahui akan kedatangan Abi Aziz karena telah diberitahukan oleh sang mami sebelumnya. Satria yang menempatkan Abi Aziz sebagai OB ternyata mendapatkan perhatian dari mami dan juga papinya, kedua orang tuanya melihat potensi yang sangat besar pada diri Aziz lalu berinisiatif menempatkan lelaki itu sebagai bawahan mereka. 


Satria tentu mengetahui hal tersebut dan mengizinkannya, walaupun perushan di jalaankan oleh kedua orang tuanya akan tetapi segala sesuatu tetap atas izinya karena pemilik sah perusahan tersebut. 


Aziz segera mengangkuti langkah Satria menuru ke kamar meninggalkan mereka semua yang memiliki tanda tanya besar dan juga keterkejutan akan penampilannya yang sekarang.


Ternyata Aziz sangat beruntung bertemu dan berinteraksi dengan kedua orang tua Satria yang ternyata sangatlah bijak. Aziz diarahkan dengan baik dan dibina agar bisa bersaing dengan para kariyawan yang memiliki pendidikan lebih tinggi darinya.

__ADS_1


Setelah kepergian Satria dan Abi Aziz, Mala mengajak seluruh anggota keluarganya untuk kembali memulai acara tasyakur 7 bulan kehamilannya yang sempat tertunda akibat kedatangan Abi Aziz tadi. 


"Pak, ayo mulai acaranya. Bapak 'kan yang harus membacakan doa," terang Mala membuat semua orang menatapnya dan tersenyum.


Akhirnya mereka memulai acara tasyakur 7 bulanan untuk Mala, berdoa dan berharap akan hal-hal baik akan menyertai wanita hamil tersebut. Walaupun sebagai Manusia yang memiliki keterbatasan dan juga ketidak mampuan dalam setiap ujian yang akan Sang Robb berikan. 


Mala merasa sangat istimewa hari ini, dijadikan ratu dan dilayani seolah ia sangat 'lah berharga. Wanita hamil itu tidak kuasa menahan haru hingga meneteskan air mata. 


Azzahra yang melihat sang putri menagis lalu bertanya, "La, kamu kenapa nagis? Apa karena suami sibuk akan urusannya sampai tidak memperhatikamu?."


Mala memggelengkan kepala menjawab pertanyaan uminya tersebut. 


"Lalu apa, Nak?" tanya Azzahra lagi. 


"Aku terharu, Umi. Aku bagaikan ratu sekarang, tidak seperti dulu yang selalu dijadikan babu."


Kata-kata Mala sangat mengenai hati Udin. Dia 'lah orang yang sering memperlakukan sang putri seperi babu yang tidak berati. 


"Maafkan Bapak, Nak. Bapak mengakui semua keslahan yang pernah Bapak lakukan kepadamu, dulu."


Mala segera mendekati sang bapak dan memeluk lelaki itu agar merasa tenang, setelahnya ia menatap satu persatu anggota keluarganya dan berkata, "Aku hanya berharap kalian akan selalu berkumpul seperti ini, wwalaupun aku telah tiada."


Azzam angkat bicara, ia tidak suka akan kata-kata sang adik yang menurutnya pesimis dan terkesan  mendahului takdir. 


"Dek, ingat! Ucapan adalah doa," terangnya.


"Aku hanya berharap, Bang. Kita akan menjadi keluarga sampai akhirat dan jika kita berpisah di dunia, aku ingin kita tetap saling mengingat dan berjanji akan tidak melupakan satu sama lain, kalian bisa 'kan?" tanya Mala dengan penuh harap. 


"Saya bisa!"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2