Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Terima Nasib


__ADS_3

Mau atau pun tidak? Mala dan Satria dipisahkan oleh sang umi, Udin sang bapak pun ikut mendukung membuat pasangan suami istri itu hanya mampu berdoa agar mereka bisa tabah menerima hukuman ini.


Udin mengajak Satria tinggal di rumahnya untuk beberapa waktu, lelaki itu ingin mengajari menantunya itu cara mengendalikan nafsu  syahwatnya dan menerima nasib mereka dengan lapang dada. 


Udin adalah duda di tinggal mati sang istri dan sudah bertahun-tahun lelaki itu belajar mengendalikan nafsu syahwatnya, agar tidak menjadi seperti bintang yang hanya pakai nafsu tanpa akal. 


Lelaki itu juga menjelaskan akan hukumnya melakukan pelepasan tanpa bersama pasangan (onani) itu haram hal itu telah di jelaskan oleh Rosullulah. Udin juga mengajarkan cara agar Satria bisa memuaskan nafsu batinya dengan cara memperbanyak berzikir, kadang sebagai Manusia kita batin akan kelaparan. Cara membuat batin menjadi kenyang adalah dengan berzikir mengingat Sang Robb.


Namun, kepergian sang suami membuat Mala murung. Wanita hamil itu menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di dalam kamar. 


Azzahra yang sebagai umi merasa khawatir akan keadaan sang putri, akan tetapi mau bagaimana lagi? Wanita itu juga tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi, apa lagi waktu Mala operasi yang hanya menghitung hari. 


Azzahra paham akan perasaan Mala, karena ia juga merasakan hal yang sama. Walaupun ia menikah karena ingin membahagiakan sang putri, akan tetapi ia tidak bisa membohongi dirinya jika ia membutuh kasih sayang juga. Apalagi mereka yang merupakan pengantin baru belum juga menjalankan ibadah kamar itu, membuat Azzahra semakin gelisah. 


Menikah merupakan ibadah yang panjang, di dalamnya banyak sekali hal yang mendatangkan pahala. Namun, tidak bisa di pungkiri jika tua ataupun muda, kalau berstatus suami istri maka akan saling memerlukan hubungan batin. 

__ADS_1


Hal itu yang di raskaan oleh kedua wanita berbeda usia itu, akan tetapi Azzahra mencoba menghibur sang putri, "La, sudah melamunya! Kamu sedang hamil, perbanyaklah membaca Al-Qur'an. Siapa tahu nanti anak kamu bisa jadi Hafis."


Mala hanya diam tidak menangapi ucapan uminya tersebut, pilirannya berkeliaran entah kemana. 


Azzahra yang melihat sang putri diam saja segera mendekati wanita hamil itu yang tengah duduk di kursi meja rias sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. 


"Mala, kamu harus kuat! Supaya anak kamu juga kuat," jelas Azzahra memberi semangat dan motivasi untuk sang putri.


Mala menatap pantulan wajah sang umi, wanita yang merawatnya di waktu bayi tersebut sudah nampak menua, terlihat dari kerutan halus di wajah nya yang jika diperhatiankan secara dekat.


Azzahra terkejut mendengar ucapan sang putri lalu meletakan kedua tangannya di atas bahu wanita hamil itu dan berkata, "Janganlah putus asa akan Rahmat Allah! Sesungguhnya Rahmat Allah sangat luas."


Mala menoleh kebelakan dan menatap sang umi dengan sorot mata sendu, lalu berkata, "Aku bukan termasuk golongan orang-orang yang berputus asa, Umi. Tetapi, anak ini akan sulit bertahan."


Azzahra menjadi emosi mendengar penuturan Mala, wanita itu membalikkan tubuh sang putri menghadap kearahnya. Kini posisi mereka sang berhadapan, Mala duduk di kursi dan Azzahra yang berdiri sambil menatap tajam sang putri.

__ADS_1


"Ucapan adalah doa," kata Azzahra yang merasa kecewa akan sikap Mala yang berputus asa. 


Mala membalas tatapan tajam sang umi dan berkata, "Dokter Tasya telah mengatakan, jika anak yang akan aku lahirkan akan sulit bertahan hidup."


Plakkk… .


"Kamu pantas menerimanya!"


.


.


.


...Bersambung ••• •...

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2