Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Berusaha dan Berdoa


__ADS_3

Semua hal yang terjadi belum memiliki jalan keluar, akan tetapi semua orang berusaha sebaik mungkin menjalankan hari-hari seperti biasanya. Begitu juga dengan Ikbal dan Satria, dua lelaki itu bersiap-siap untuk ke kantor. Mereka akan mulai berusaha lagi dari nol, merajut asa demi masa depan.


"Di mana, Umi?" tanya Satria ketika tidak melihat wanita itu berada di meja makan. 


"Umi, pulang Kak. Di disuruh Abang Azzam untuk mempercepat pernikhannya dengan Bapak," jelas Mala sambil memgambilkan lauk--pauk untuk suaminya. 


"Mala, kamu ikut bersama kami. Hari ini, kamu ke kantor polisi untuk melakukan laporan."


Mala menatap wajah mertuanya sebelum berbicara, "maaf, Pi! Mala akan kekantor polisi bersama Mami," jelas Mala yang menang sudah meminta ibu mertuanya untuk menemani. 


"Kenapa dengan, Mami? Aku bisa antarkan kamu."


Mala mentap suaminya, dia tahu kalau lelaki itu masih belum bisa melepasnya jika bersama Marissa. 


"Mami, hanya ingin membantu, tidak ada niat lain. Lagi pula kami pergi bertiga."


"Maksudnya?"


"Suci akan ikut, Kak," jelas Mala. Dia memiliki rencana yang sudah di diskusikan oleh mereka bertiga ketika sedang memasak tadi, walau Marissa hanya menemani karena tidak tahun harus membatu apa? Sebab, memang tidak pernah mengurus dapur. 


"Suci!" panggil Satria. Dia melihat gadis itu menunduk. "Kamu di rumah saja, jangan keluar!" pinta Satria sambil menatap nanar wajah gadis itu. 


"Wahay lelaki beristri, tolong tundukan pandanganmu dari yang bukan mahrom," ujar Mala dengan penuh penekanan membuat semua mata tertuju kepadanya. Satria paham akan sindirian itu segera membuang wajahnya. 


"Dasar tukang cemburuan," cibir Satria.


Mala yang mendegar cibiran itu langsung menatap tajam suaminya membuat Papi Ikbal tergelak. 


"Hahaha …, ini masih pagi."


Mala mendunduk mendegar ucapan mertuanya. Setelah sarapan mereka bersiap-siap untuk berangkat dengan tujuan dan maksud masing-masing.


"Nur, kamu ikut kami ya!" pinta Satria yang kesekian kalinya membujuk istrinya.


"Kak, aku sudah bilang! Aku akan pergi bersama Suci dan Mami," terang Mala kesal akan tidak kepercayaan suaminya.


"Biarlah Sat, lagian mereka bersama Mamimu."


Semua mata menatap Ikbal, Marissa yang di jadikan tameng dari tadi akhirnya angkat bicara. 


"Itu baru rencana! Bukan berati Mami bersedia," terangnya. 

__ADS_1


"Tukan! biar kalian ikut kami saja."


Semua orang terkejut akibat adanya suara klakson mobil dari luar membuat mereka semua keluar ingin melihat siapa yang datang. 


"Mobil siapa?" gumam Satria penasaran.


"Abang!" teriak Mala girang melihat abangnya keluar dari mobil dengan gaya cool.


Pemuda itu mendekat dan mengucapkan salam dengan senyum yang terus mengembang membuat semua mata yang memandangnya merasa teduh begitupun Suci, gadis itu hingga tidak berkedip menatap pemuda yang baru turun dari mobil dan terus mendekat. Hati Suci bagaikan bunga yang mekar dipagi hari, sulit dijabarkan dengan kata-kata perasaannya saat. Walaupun ini bukan pertemuan pertamanya dengan pemuda itu.


"Assalamualaikum." Azzam mengucapkan salam dan mendekat.


"Waallaikum sallam," semua orang kompak menjawab salam pemuda itu. 


"Dek, ayo."


Mala menatap suaminya, dia butuh izin lelaki yang berdiri tegap dengan setelan jas tersebut. Satria hanya bisa membuang nafas panjang, bukan dia tidak percaya kepada Azzam. Namun, dia khawatir akan keadaan orang yang di sayanginya terlebih setelah kejadian kemarin malam yang membuat dirinya serasa ingin mengurung sang istri di rumah saja. 


"Kenapa, diam?" Azzam menatap heran, dia mendekati adiknya lalu mengelus perut yang mulai menonjol tersebut dengan sayang. 


"Apa kabar kamu di sana Sayang?"


Satria segera menarik tangan Azzam dengan kasar membuat pemuda itu menatap jengah kearahnya. Ikbal yang juga melihat tingkah putranya segera melerai agar tidak menimbulkan masalah.


"Tapi… ."


"Kita bisa terlambat," balas Ikbal memotong ucapan Satria. Lelaki itu hanya bisa membuat wajah muram hatinya sangat berat berpisah dari sang istri. 


"Nur, aku berangkat, ya! Abang Azzam, jaga istriku dengan baik."


Azzam ingin sekali tertawa, tetapi dia tahan sebab tidak ingin mmembuatiparnya tersebut mengeluarkan kata-kata mutiara. 


...***...


Setelah kepergian Ikbal dan Satria tidak lupa mereka memberi wajengan yang sangat berat kepada Azzam, membuat pemuda itu hanya mengganguk kepala saja dari tadi. 


"Ingat! Hati-hati," ujar Marissa sambil masuk kemobil. Azzam hanya mengangguk saja, hingga mobil yang dikendarainya muali meninggalkan halaman rumah. 


"Dek, setelah dari kantor kamu mau ke mana?"


Mala menatap abangnya yang mengemudi dengan santai, "ke kekantor polisi, Bang. Setelah itu, ke rumah sakit."

__ADS_1


Azzam masih fokus mengendarai mobil tanpa menatap adiknya, dia hanya mengganggukkan kepala tanda paham hingga mobil yang di kendarainya mulai memasuki jalan raya besar. Tidak ada pembicaraan setelah itu, mereka semua diam dengan pikiran masing-masing.


"Dek, aku mau bertanya sebelum kita masuk kedalam."


Mala menghentikan aktifitasnya yang membuka set mobil lalu menatap abangnya nanar, "ada apa, Kak?"


"Apa benar kamu menyuruh Umi menikah dengan Bapakmu?"


Mala tersenyum lalu mengganguk membenarkan ucapan abangnya tersebut. Azzam membuang nafas kasar sebelum melanjutkan ucapnya.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan? Aku akan memantumu."


Setelah mengucapkan kata itu Azzam segera keluar mobil di susul ketiga wanita yang berbeda usaia tersebut.


"Suci, ayo!" ajak Mala. Karena gadis itu ragu untuk turun berbeda dengan sang mertua yanh sudah keluar terlebih dahulu. 


"Mbak, kenapa saya juga harus ikut?"


Mala hanya tersenyum dia menarik pelan tangan gadis itu, menuntunya masuk. Karna Mala hanya melakukan laporan, maka prosesnya sangat cepat. Namun, ada hal yang membuat Suci heran. Kenapa Ibu Marissa memisahkan diri dari mereka? Dan beliau berkata akan menyusul pulang. 


"Mbak, ke mana Ibu Marissa?" tanya Suci penasaran.


"Mami, ada urusan. Kamu jangan terlalu pikirkan dia," jelas Mala. Semuanya sudah seperti yang dia rencanakan sebelumnya.


"Ayo, masuk."


Mala dan Suci segera masuk ke mobil setelah dipanggil Azzam. Pemuda itu langsung tancap gas setelah membawa dua penumpangnya ke tempat selanjutnya. Suci sangat gusar, entah kenapa perasaannya menjadi tidak nyaman.


"Dek, kita mau ke mana?"


"Ke rumah sakit, Kak."


Setelah mendegar jawaban adiknya, Azzam segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang biasanya adiknya kunjungi. Dia sudah mendegar semua berita tentang adiknya dari sang Umi. Jadi, sebisa mungkin dia akan melakukan yang terbaik. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya? Hanya hanya Sang Robblah yang menentukan hasilnya. Semua yang dilakukan oleh Manusia hanya sebagai wujud ikhtiar kepada Sang Robb. Azzam sangat tahu akan hal itu, hal yang bisa ia lakukan adalah sebisa mungkin membatu adiknya tersebut.


"Semoga kamu sanggub menghadapi cobaan ini!" batin Azzam.


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung… ....


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2