Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Bantuan Dari Saudara


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian. 


Suci sering sekali datang menjenguk Mala dan juga mengajak Cahaya bermain bersama. Seperti sudah terbiasa akan kedatangan Suci, balita itu akan menangis jika akan ditinggal pergi oleh Suci.


Satria berusaha melakukan yang terbaik, akan tetapi dia hanya Manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Apalagi dia harus menjalankan perusahan seorang diri. 


Setelah kepergian kedua orang tuanya, Satria merubah sikapnya menjadi dingin akan setiap orang. Tidak terkecuali sang istri. 


Namun, bagi Mala itu hal yang wajar. Sebab, suaminya mengalami musibah yang berat. Sama seperti dirinya, akan tetapi ia berusa untuk tabah dan kuat. Walapun hatinya lelah akan ujian yang datang silih berganti. 


Karena keadaan mereka saat ini tengah dilanda oleh miskinnya iman. Namun, mereka tetap menjalankan peran masing-masing sebaik mungkin. 


Tidak ada gunanya mengeluh karena tidak akan menyelesaikan masalah. Membuat Mala dan Satria seperti orang yang berbeda. 


Sama seperti saat ini, mereka makan malam bersama dalam keadaan diam. Walaupun masih ada ocehan dari Cahaya yang menemani hingga makan malam yang biasanya penuh akan warna. Kini terasa hambar dan abu-abu.


Setelah makan malam mereka melanjutkan aktivitas untuk tidur. Tidak ada canda dan tawa lagi. Semuanya sunyi, akan tetapi ketika Mala telah menidurkan  putrinya. Wanita itu mengajak sang suami untuk berbicara dari hati ke hati. 


"Kak, jangan tidur dulu. Aku mau berbicara sebentar," pinta Mala yang menghentikan aktivitas suaminya yang telah menarik selimut.


Dengan wajah yang masam dan terkesan terpaksa. Satria menuruti keinginan istrinya. Kini mereka duduk di sofa yang tersedia di dalam kamar mereka. Duduk saling berhadapan seperti dua orang yang asing. 


"Kamu mau bicara apa, Nur?" tanya Satria dengan raut wajah tidak sedap dipandang. 


Setelah tim sar menemukan jasad kedua orangtuanya, kehidupan Satria seakan jungkir balik. Tidak semangat dan mudah marah. Semua disebabkan oleh perasaan lelah. Lelah bekerja, lelah mengurus anak dan istri. Lelah ini dan itu. Membuat sikapnya menjadi dingin dan tempramental. 


"Aku ingin melamar Suci jadi maduku," jelas Mala dengan sorot mata serius.


Dengan enggan Satria hanya mampu membuang nafas panjang setelah mendengar penuturan sang istri. Sambil menatap langit-langit kamar ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Hal ini sudah pernah mereka bahas sebelumnya. Namun, tidak ada kepastian yang menjelaskan masalah ini hingga larut dan hanyut begitu saja.


"Kak," panggil Mala ketika tidak ada respon dari sang suami. 


"Terserah kamu, Nur! Aku lelah, kamu tahu bukan beberapa bulan ini aku harus mengurus perusahan dan swalayan milik kita yang kini telah menjadi Mall."

__ADS_1


Akhirnya Satria mengutarakan perasaannya. Setelah menjalankan perusahan Cahaya Permata, Satria juga harus menjalankan Mall yang dulunya hanya swalayan biasa. Karena suntikan dana yang besar dari Pak Marcel.


Satria sudah berusaha menolak permintaan lelaki itu. Namun, Pak Marcel tetap mengirimkan suntikan dana dan memperbesar usaha Satria hingga menjadi Mall yang besar seperti sekarang dalam hitungan bulan saja. 


Beban yang berat ditambah musibah yang terjadi, membuat Satria benar-benar ingin mengakhiri hidupnya. Jika, saja ia tidak ingat kepada Sang Robb? Mungkin kini dirinya hanya tinggal nama saja. 


"Oleh sebab itu, Kak. Aku ingin Suci membantumu. Walaupun menjadi madu untukku, terlebih janji yang pernah aku buat dulu."


Mala mengatur nafas, sebelum melanjutkan ucapannya agar lebih tenang.


"Kak, Pak Rudy juga setuju jika kamu menjadi suaminya Suci. Lagi Pun Kakak memerlukan wanita hebat dibelakang Kakak. Karena dibalik lelaki yang sukses ada wanita yang hebat dibelakangnya."


Satria tersenyum sinis akan pernyataan istrinya, yang seolah-olah mereka sedang memanfaatkan Suci untuk dijadikan landasan akan masalah yang tengah mereka hadapi. Walaupun Satria merasa lelah akan pekerjaan yang harus ia jalani. Akan tetapi dia tetap masih bisa berpikir logis, dengan tidak mau membebani banyak orang tentang masalah yang memang harus mereka hadapi.


"Nur, kamu sebenarnya mau menjadikan Suci sebagai apa? Madu? Teman? Babysitter? Atau …," Satria menggantung ucapannya. Dia tidak ingin memancing kemarahan istrinya yang suka meledak-ledak itu. 


"Atau apa?" tanya Mala penasaran. 


Kening Mala mengkerut, dia berpikir apa maksud dari ucapan sang suami. Sampai ia memahami tujuan dari yang suaminya utarakan. 


"Masalah nafkah? Itu wajib kamu berikan, Kak. Aku tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Aku hanya ingin menjalani rumah tangga ini dengan saling bahu-membahu. Ingat Kak, kita ini partner."


Satria tertegun seketika setelah mendengar penuturan sang istri. Sampai dalam hatinya bertanya-tanya.


"Apakah tidak ada rasa cemburu didalam hatinya," batin Satria. 


Ketika dalam rumah tangga telah tidak ada perasaan saling cemburu. Itu bisa dipertanyakan, sebab cemburu adalah bumbu yang paling manis dalam berumah tangga. Jika, tidak ada cemburu. Maka suatu hubungan terasa hampa, bahkan terkesan tidak sedap lagi untuk dijalani. 


"Ada apa, Kak?" tanya Mala polos membuat suaminya meringis. 


"Apa kamu yakin?" tanya Satria memastikan bahwa istrinya tidak lagi bercanda.


"Insya Allah, aku hanya ingin menjalankan perinta Allah. Janji adalah hutang, aku juga tidak mau nanti jika di yaumul akhir dituntut oleh Suci karena tidak membayar nazar yang telah aku ucapkan," jelas Mala dengan mantap. 

__ADS_1


"Tapi, Nur. Aku yang ragu," lirih Satria sambil menundukkan kepalanya.


Mala segera menghampiri suaminya dan memeluk lelaki itu sambil mengusap punggu sang suami. 


Cara yang sering Mala lakukan jika suaminya dalam keadaan tertekan, sambil terus berzikir agar setan tidak merasuki mereka. Karena Mala trauma akan lepasnya zikir dan salawat yang membuatnya sampai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


"Kakak, bukan remaja lagi. Jadi, tidak usah grogi atau nervous mau malam pertama," jelas Mala dengan cekikikan menggoda sang suami membuat lelaki itu menata kerahnya dengan tajam.


"Kamu jangan asal bicara, Nur!" ujar Satria yang merasa risih akan sikap istrinya seperti itu. 


"Kita tidak bisa memunafikkan hal itu! Lihatlah sekarang, kita mempunyai Cha-Cha. Lagian, cepat atau lambat. Jika, Kakak sudah menikahi Suci. Wajib hukumnya Kakak memberikan nafkah."


Satria semakin takut untuk menikahi Suci. Nampak dari raut wajahnya yang terlihat tegang membuat sang istri tertawa renyah. 


"Hahaha… , Kak. Kita sudah menganggap Suci menjadi saudara sejak lama. Jadi, jangan anggap Suci yang sekarang sebagai orang lain," jelas Mala yang tahu akan perasaan suaminya.


"Apa Kakak, ingat? Ketika kita menikah dulu? Kakak juga belum menyentuhku dalam waktu lama," tambah Mala. 


Pikiran Satria kembali ke waktu awal mereka menikah, yang penuh akan drama dan ujian. Tidak mudah untuk mereka melewati ujian demi ujian yang datang silih berganti tiada henti sampai di titik ini. Satria tersentak akan janjinya yang akan menjaga Suci, ketika wanita itu pertama kali datang meminta pekerjaan kepadanya.


Janji yang telah diucapkan Satria kepada Pak Udin sang mertua, sebelum mereka mengetahui siapa Suci yang sebenarnya.


"Aku tidak bisa mengelak lagi," batin Satria. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2