
Malang memang tidak berbau, akan tetapi bisa kita elak jika merasa tidak nyaman. Entah siapa yang memulai semuanya, sesuatu yang sebenarnya belum boleh dilakukan. Namun, dilakukan oleh pasangan suami--istri tersebut. Azzahra yang mencemaskan Mala dan Satria yang tidak keluar-keluar kamar sedari tadi merasa gelisah. Dia akhirnya berinisiatif mengetuk pintu kamar pasangan suami--istri tersebut.
Tok
Tok
Tok
"Nak! Makanan sudah siap," ujar Azzahra dibalik pintu kamar. Namun, sepi terasa. Tidak ada sahutan dari dalam, membuat hal-hal yang negatif menghantui Azzahra.
"Nak! Buka pintunya! Umi takut! Satria! Mala!.
Seakan-akan sia-sia yang dilakukannya membuat Azzahra semakin ketakutan dan memukul-mukul pintu kamar tersebut kian keras.
"Mala! Satria! Jika kalian tidak membukakan pintu maka Umi akan… ."
Klek
Pintu kamar dibuka dan menampakan Satria yang hanya mengeluarkan kepala saja, "Umi, kami baik-baik saja! Tolong jangan ribut-ribut, soalnya Nur lagi tidur."
Azzahra terdiam sesaat, akan tetapi ia merasa ada sesuatu yang mencurigakan dari Satria. Hal tersebut membuat Azzahra memaksa untuk masuk kedalam kamar.
"Mana-mana? Umi mau lihat," ujar Azzahra seraya mendorong pintu, akan tetapi ditahan kuat oleh Satria.
"Umi!" bentak Satria yang geram akan sikap keras kepala sang umi tersebut. Dia menyesal mengizinkan wanita itu tinggal di rumahnya, bisa bahaya jika Umi tahu apa yang mereka tadi lakukan. Pikirnya.
"Satria! Kamu mau durhaka sama Umi? Ingat kamu tidak boleh meninggikan suara dihadapan Umi, ingat! Umi ini orang tua kamu juga," jelas Azzahra dengan kobaran amarah.
Satria akhirnya mengalah, jika hukum agama yang keluar dari mulut uminya tersebut? Maka akan sulit untuk didebat. Azzahra menerobos masuk dan melihat Satria yang hanya mengenakan handuk. Dia tidak bisa menahan diri agar tidak bertanya.
"Kamu kenapa hanya mengenakan handuk, Sat?" tanyanya dengan nada penuh curiga.
Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung mau menjawab apa.
"Anu, Mi."
"Mi!" tanya Azzahra sedikit berteriak.
__ADS_1
"Umi! ssttt … , Nur sedang tidur," jelas Satria seraya melirik tempat tidur di mana ada sang istri yang tengah terlelap akibat ulahnya.
Mala terbatai di tempat tidur gara-gara ulah Satria yang meminta haknya. Wanita hamil itu kelelahan dan akhirnya terlelap.
"Maafkan, Umi," bisik Azzahra pelan sambil berlalu keluar dari kamar. Namun, ketika di ambang pintu ia mengingatkan Satria agar mengajak Mala makan siang jika wanita hamil tersebut telah bangun.
Satria hanya mengangguk menanggapi ucapan uminya tersebut dan menutup pintu sesaat wanita itu telah beranjak menjauh.
"Untung Umi tidak meneruskan langkahnya tadi, jikanya bisa gawat," ucap Satria pelan seraya berlalu menuju kamar mandi guna membersihkan tubuhnya yang lengket akibat melakukan ibadah bersama istrinya tadi. Walau tidak merasa puas karena dahaganya yang telah kerongkongan, akan tetapi setidaknya ada air segar yang mengalir dengan damai di hatinya.
***
Malam harinya, setelah sholat isya dan makan malam bersama. Mereka duduk di ruang tamu mengobrol ringan tentang rencana operasi Mala yang akan dilangsungkan beberapa minggu mendatang.
Dokter Tasya yang menghubungi Satria lewat telepon tadi sore yang memberitahukan bahwa jadwal operasi Mala sudah ditentukan. Dokter Tasya juga berpesan agar Satria siap--siaga dengan segala kemungkinan.
"Sat, kamu bisa menghandle semuanya sendirian? Biarkan Umi membantu," bujuk Azzahra agar Satria mau melunak. Dia yang juga mendengar penjelasan dari Dokter Tasya yang mengatakan semua kemungkinan yang akan terjadi membuat ia merasa khawatir akan keadaan Mala.
"Insya Allah, Umi. Ada Allah bersama kami," jawab Satria seraya menggenggam erat tangan sang istri.
"Iya, Umi. Lagian Dokter Tasya tadi berpesan hanya boleh ada satu orang yang jagain aku," ujar Mala menimpali ucapan suaminya.
Hening sejenak menemani mereka bertiga hingga suara ketukan pintu disusul suara yang tidak asing mengucapkan salam terdengar jelas. Azzahra segera bagun dari posisi duduknya dan berlalu menuju pintu guna membukakan tamu yang datang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, kenapa sih bertamu malam-malam?" balas Azzahra sewot kepada lelaki dihadapannya. Namun, lelaki itu hanya nyengir tanpa dosa dan menerobos masuk kedalam.
"Apa kabar, Nak?" tanya Udin seraya duduk sofa dengan santai.
Ya, lelaki yang menyebalkan dan selalu bertamu tanpa diundang itu adalah Udin. Bapaknya Mala itu sudah seperti jelangkung saja, datang 'tak dijemput, pulang 'tak diantar. Itulah Udin.
"Alhamdulillah baik, Pak," jawab Satria dan Mala kompak membuat Udin tersenyum lebar.
"Nanti-nanti kamu jangan bertamu kesini lagi! Merepotkan saja," celetus Azzahra membuat semua mata tertuju padanya.
"Ini rumah anakku juga, Ra," balas Udin 'tak kalah sewot juga.
__ADS_1
"Umi! Bapak! Aku mau berbicara dengan kalian boleh?" tanya Mala membuat Udin dan Azzahra menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Azzahra segera menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa dengan kasar, ia penasaran akan hal apa yang akan disampaikan oleh putrinya itu.
"Boleh, La!" jawab Azzahra ragu-ragu. Namun, berbeda dengan Udin yang hanya diam membisu. Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki tersebut.
"Aku ingin melihat pernikahan kalian sebelum melakukan operasi, boleh?" tanya Mala dengan mata yang berbinar-binar menunggu jawaban kedua orang tuanya itu yang seketika menegang.
"Nur, seharusnya kamu tidak memikirkan hal ini terlebih dahulu. Kamu harus fokus dengan operasi pengangkatan tumor saja, ya," pinta Satria mencoba mengalihkan pikiran sang istri.
Udin dan Azzahra hanya mampu diam seribu bahasa, antara enggan menolak dan enggan mengiyakan. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
"Kak, janji adalah hutang! Dan hutang wajib dibayar," jelas Mala sambil menatap suaminya dalam.
Satria hanya mampu menelan silvernya kasar, ia merasa diintimidasi oleh istrinya sendiri. Satria segera mengalihkan tatapan matanya kepada kedua orang tuanya tersebut yang sedari tadi diam saja. Seolah meminta bantuan Satria berdehem menetralkan perasaannya.
"Ehem… , apa Umi dan Bapak bisa memenuhi permintaan, Nur?" tanyanya dengan perasaan yang tidak menentu.
"Insya Allah, Bapak sanggup. Kapan kamu mau menikah denganku, Ra?" tanya Udin sambil menatap lekat wajah wanita yang duduk disampingnya tersebut.
Azzahra terpanjat kaget, "Aku!"
Semua mata tertuju ke arahnya seolah-olah meminta jawaban yang pasti darinya. Rasa-rasanya Azzahra ingin masuk kedalam lubang yang dalam dan bersembunyi di dalam sana selama-lamanya seking kaget dan malu.
"Menjadi Manusia yang lebih baik butuh pengorbanan, Ra," ujar Udin bijak. Namun, hal itu semakin membuat Azzahra terpojok.
"Jadi, apa jawaban, Umi?" tanya Mala dengan penuh harap. Satria juga menunggu jawaban dari sang umi, dengan perasaan tegang seperti menunggu jawaban dari kelulusan sekolah saja. Pikirnya.
"Umi?"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...