Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Mengulang Malam Pertama


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam di ufuk timur, kilaunya mulai tidak nampak lagi. Siang di gantikan dengan malam, waktu bergulir kian cepat, bagaikan hembusan angin yang datang menerpa dahan pohon yang rindang. Hidup di dunia yang penuh akan keindahan ciptaan Tuhan. Surga dunia memang sangat sejuk dipandang, akan tetapi sifatnya yang semu membuat semua orang menjadi jenuh. Malam ini Satria akan melukiskan kisah cintanya bersama sang istri tercinta, lelaki itu mengajak wanita hamil itu keluar. Setelah sholat isya dan makan malam, dia membawa istrinya menuju tepi pantai. Pemandangan yang indah terhampang luas, sejauh mata memandang. Sejuknya tiupan angin malam membuat malam ini terasa sejuk. Satria mengenggam erat tangan istrinya sambil sesekali mencium tangan wanita yang ia cintai karena Allah tersebut, tidak lupa ia menguarkan kata-kata mutiaranya. Alias rayuan gombal.


"Nur, engkau bagaikan cahaya yang terang di dalam gelapnya malam. Seperti bintang yang berkedip-kedip indah di atas sana. Cahayamu membuatku tak jemu-jemu memandang. Engkaulah cahaya dalam hidupku, yang akan selalu menyinari jalanku menuju Sang Robb. Cahayamu tidak pernah redup di dalam sanu--bariku."


"Sudah ngombalnya?" tanya Mala sambil terkekeh kecil melihat perubahan wajah suaminya itu. 


"Kamu ini! Membuyarkan angan-anganku," celetus Satria memasang wajah kecewa. 


"Hahahaha, Kakak ini ada-ada aja sih. Kita ini bukan lagi anak muda, Kak! Kita sebentar lagi akan menjadi orang tua."


Satria terdiam sesaat mendegar penuturan istrinya, ia tersenyum sebelum menimpali ucapan istrinya tersebut, "Nur! Kita memang akan menjadi orang tua, akan tetapi jiwa kita tetap muda. Aku mencintaimu dari awal sampai akhir, kamu akan tetap menjadi yang paling utama di hatiku."


Wajah Mala memerah padam, wanita hamil itu malu akibat pujian suaminya yang membuat hatinya berbunga-bunga. Ada kalanya luka datang, akan tetapi percayalah bahwa bahagia pula akan datang. Seperti setelah hujan baru nampak pelangi, setelah kesusahan maka ada kemudahan. Pasangan suami--istri itu pun menghabiskan malam yang indah di bawah kelap--kelip bintang. Hingga Satria mulai meracau lagi.


"Nur! Apa kamu ingat pertama kali aku mengaulimu?"


Mala menatap suaminya yang duduk sambil menadah ke atas langit, saat ini mereka sedang duduk di saung-saung yang disediakan sepanjang bibir pantai. Sambil mengayunkan kaki yang menjuntai, mereka berdua kembali membuka lembaran yang pernah dilalui bersama. 


"Ingatlah Kak, itukan pertama kali aku disentuh selain mahromku," jelas Mala dengan wajah merah seperti kepiting rebus. Dia antara senang dan malu menceritakan hal itu, akan tetapi karena tidak ada siapa-siapa. Wanita hamil itu ingin nostalgia bersama lelaki yang telah sepenuhnya bertanggung jawab atas hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat nanti. 


"Hahahaha … ."


Tawa renyah Satria mengisi kesunyian yang tadi sempat tercipta, lelaki itu sampai memegangi perutnya seking lepasnya dia tertawa. Lain halnya dengan Mala, wanita hamil itu menampakkan wajah masam melihat tingkah suaminya. 


"Kak! Hentikan tawamu, kita di tempat orang! Bukan di rumah sendiri," celetus Mala sambil menepuk pelan bahu suaminya itu. 

__ADS_1


"Iya, aku tahu! Tapi, lucu aja jika ingat waktu itu," ujar Satria sambil menahan tawanya. 


"Ah, Kakak memang nyebelin!" ujar Mala sambil berlalu. Wanita hamil itu meninggalkan suaminya yang kembali tertawa lepas. Dia benar-benar kesal akan lelaki itu, sambil menghentak-hentakkan kakinya seking kesal.


"Nur, Nur, kamu memang tidak berubah. Di bagian luar kamu memang bar-bar, akan tetapi di bagian dalam kamu sangat lembut. Hal itu yang membuat aku semakin cinta sama kamu dan tidak ingin kehilangan wanita yang sangat berharga sepertimu. Aku yakin tidak akan ada lagi wanita yang seperti kamu di dunia ini! Cuma kamu satu-satunya di dalam hatiku ini."


 Satria hanya memandangi punggung istrinya dari jauh, dia akan membiarkan wanita hamil itu tenang dulu baru kembali menjahilinya. Teringat akan ekspresi yang diperlihatkan oleh istrinya tadi membuat Satria semangat untuk menjahili wanita hamil itu lagi nanti. 


"Satria! Kamu Satria 'kan?"


Satria terkejut akan panggilan wanita yang asing di telinganya, dia segera berbalik guna melihat siapa pemilik suara tersebut. Lelaki itu semakin kaget ketika melihat siapa yang datang mendekatinya.


"Kamu!"


***


"Ah, apa sih yang aku pikirkan? Ayo La! Sadar!"


Wanita hamil itu menepuk-nepuk pipinya, dia terlalu bahagia memikirkan betapa indahnya masa-masa bersama sang suami. Mala mengingat kembali bagaimana pertama kalinya ia bertemu dengan Satria, pemuda blasteran yang dulu suka sekali mencuri-curi pandang kepadanya. Betapa indah kenangan itu, menyukai seseorang dalam diam. Mengagumi maha karya Tuhan yang indah, membuat hati menjadi tenang. Hal itu yang pertama kali Mala rasakan. 


"Ayo La! Tidur! Jangan sampai suamimu datang dan melihat keadaan kamu sekarang yang tidak henti-hentinya mengagumi lelaki itu."


Mala berbicara sendiri, ia mengingatkan dirinya yang sedang tidak bersahabat. Hingga wanita hamil itu memejamkan mata, akan tetapi ia baru sadar jika suaminya belum juga kembali. Hal ini membuatnya gelisah, akan tetapi tidak beberapa lama terdengar suara pintu terbuka. Terdengar jelas suara langkah kaki mendekat dan naik keatas tempat tidur. 


"Nur!" lirih Satria seraya memeluk istrinya yang berbaring membelakangi dirinya. 

__ADS_1


Mala hanya diam, berpura-pura tidur. Wanita hamil itu gugup setengah mati, perasaannya kembali seperti saat malam pertama kali suaminya meminta hak. Sekarang wajah Mala merah padam seking merasa gugup dan malu. 


Satria membuang nafas kasar, sebab tidak mendapatkan jawaban istrinya ia memilih menutup matanya. Saat ini lelaki itu tengah gundah--gulana antara ingin jujur atau tidak memberitahukan yang sebenarnya, hingga dia berfikir akan mengajak istrinya pulang saja esok pagi. 


"Aku rasa helingnya sudah sampai disini saja," gumam Satria, akan tetapi gumam itu masih terdengar oleh Mala. Wanita hamil itu menyibak selimutnya dan berbalik menatap sang suami yang terkejut.


"Nu--ur! Ka--amu be--lum tidur?" tanya  Satria tergagap saking terkejutnya. 


"Kenapa kita cepat sekali pulang?" tanya Mala tidak suka akan keputusan suaminya tadi. 


"Ah, itu?" Satria bingung mau menjawab apa? Jika ia jujur? Bisa membuat istrinya cemburu. Namun, jika tidak mengatakan hal sebenarnya maka berdosa. 


"Kak! Jawab!" bentak Mala geram. Wanita hamil itu melihat gelagat aneh dari sikap suaminya. 


"Aku tadi bertemu sese… ."


"Sese …, siapa?" desak Mala semakin curiga. 


"Dia… ."


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung… ....


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2