
Setelah ijab kobul selesai, Mala mengajak putrinya untuk masuk kedalam kamar. Sedangkan Satria dan Suci malam ini akan tidur bersama sebagai bentuk dari sebuah kewajiban sebagai suami istri.
Tentu ada persetujan yang mereka lakukan, Mala hanya suaminya membagi hari. Seminggu dengan Suci dan seminggu lagi dengan dirinya.
Satria hanya mengikuti keinginan Mala, sedangkan Suci ingin menyeruakan ketidak setujuannya.
Namun, dirinya malu. Sebab dia hanya istri kedua dan wajib hukumnya menghormati istri tua. Yaitu Mala.
Oleh sebab itu ia hanya diam dan menurut. Hingga diajak oleh Satria masuk kedalam kamar yang mereka akan tempati bersama malam ini.
"Ci, Abang nggak akan ngapain kamu 'ko. Jadi, jangan takut," jelas Satria yang tahu akan kegelisahan wanita itu.
"Iya, tidak untuk malam ini? Tapi, malam-malam yang akan datang?" batin Suci.
"Ayo naik sini," pinta Satria sambil menepuk tempat tidur didampinginya. Mereka baru saja selesai mengerjakan solat isa berjamaah dengan setatus baru.
Suci akhirnya hanya mampu pasrah dan menuruti keinginan Satria yang sekarang bersatatus suaminya. Seseorang yang sudah sah di mata hukum dan agama atas dirinya.
Serta memiliki tanggung jawab penuh atas selaga perbuatan yang ia lakukan dan menaggung dosanya hingga yaumul akhir.
"Abang hanya ingin berbagi cerita denganmu, boleh?" tanya Satria mulai mengajak istri barunya adaptasi dengan setatus baru mereka.
Sama seperti pernikahan pertamanya, ia hanya ingin berbicara berdua. Berbagi cerita seperti majelis ilmu, yang diisi oleh dirinya dan juga sang istri.
Ketika Satria teringat akan malam pertamanya dengan Mala, ia hanya mampu tersenyum kecut. Semua yang mereka lalui sangatlah banyak, samapi sulit diceritakan.
Namun, satu hal yang Satria mulai terapkan dalam hubungan poligami ini adalah. Tidak menyebut atau menceritakan tentang istri yang pertama ketika bersama istri kedua. Begitupun sebaliknya, sebagai bentuk menghargai perasan istri-istrinya.
"Ci, Abang mau bertanya sesuatu sama kamu, boleh?" tanya Satria ketika istrinya itu telah naik keatas tempat tidur. Walaupun sang istri memberi jarak, alias pembatas yang sangat nampak dimata Satria. Namun, ia paham akan hal itu dan membuarkannya saja.
"Ci, kamu tahu jika wanita itu dikatakan Jahil?" tanya Satria memulai majelis ilmu mereka.
Suci hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaan itu, sebab ia merasa belum panas untuk membantah atau mengemukakan pendapat didepan sang suami.
"Wanita dikatakan Jahil? Sebab, mereka tidak tahu tentang urusan agama dan enggan untuk mempelajari ilmu syariat. Khususnya yang berhubungan dengan kewanitaan," jelas Satria yang membuat sang istri menatapnya.
__ADS_1
Itulah cara Satria, ia memancing lawan bicaranya dengan seusatu yang membuat orang yang berhadapan dengannya tertarik dan penasaran akan apa yang ia ucapkan. Lalu, mendengarkn cerita yang akan ia sampaikan tanpa menggurui ataupun menghakimi siapapun.
"Rasulullah SAW bersabda, 'Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”
"Jangan sampai karna malas atau enggan menuntut ilmu syari, akhirnya tidak tahu tentang perkara-pekara kewanitaan."
"Sampai-sampai cara mandi besar saja tidak paham, bacaan-bacaan mandi besar seperti : setelah haid, nifas, dan jubub misalnya?" jelas Satria yang mulai mengarah akan hal-hal yang sensitif.
Walapun, ia adalah lelaki. Namun, ia paham akan hal-hal seperti itu. Sebab, selama menjadi santri dipondok. Ia memperlajari ilmu fiqih, semua tetang yang akan diterapkan setelah dari pondok. Yaitu, kehidupan selanjutnya seperti sekarang. Ilmu itu sangat luas jangkauannya dan bagi Satria jika bisa diterapkan maka hal yang luar biasa.
Karena salah satu amalan yang akan tetap mengalir, walaupun telah menghadap Ilahi adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Dan terus diamalkan.
"Jadi, kamu tahu apa yang boleh dan tidak boleh? Dilakukan saat dalam tiga perkara tadi?"
Karena penasaran dan ingin tahu, akhirnya Suci membuka suara. Setelah tadi hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh suaminya.
"Aku hanya tahu tentang haid, Bang. Kalau, nifas dan Junub aku kurang tahu," jelas Suci jujur apa adanya tanpa ada yang ditutupi.
Malu bertanya, sesat dijalan. Daripada sesat? Lebih baik bertanya. Itu yang ada dipikiranya.
"Kenapa tidak menunggu selesai? Maksudku, sama seperti darah haid. Kita menunggu darah itu selesai keluar, baru mandi besar," jelas Suci mulai mengeluarkan argumennya.
Hal itu membuat Satria semakin bersemangat untuk mengajari istrinya. Karena, sudah ada tanda-tanda jika sang istri mulai terbiasa akan kebersamaan mereka.
Cinta datang karena terbiasa, hal itu yang Satria rasakan bersama Mala. Walapun diawal tidak ada rass, akan tetapi sejalannya waktu. Benih-benih cinta itu tumbuh, terlebih mereka sudah mencintai Sang Robb. Jika, cinta Tuhan sudah didapat. Maka akan mudah mendapatkan cinta makhluk-Nya.
"Darah haid dan nifas bisa dikatakan sama, dalam bentuk. Tapi, dari makna berbeda."
Suci semakin penasaran, hingga tanpa sadar mendekati suaminya dan menatap intens lelaki itu. Menanti jawaban apa yang akan sang suami samapikan.
Satria yang melihat tingkah istrinya itu, memiliki ide untuk mengerjai sang istri.
"Hoam, Abang ngantuk, Ci. Besok kita sambung ya," jelas Satria sambil berbaring dan menutup matanya.
Binggo… .
__ADS_1
Suci menggoyangkan lenganya dan meminta agar ia menjelaskan sampaii selesai.
"Iya, iya, tapi sini dulu," pinta Satria sambil merentangkan tanganya agar sang istri mau masuk dalam dekapannya.
Ada keraguan yang terpancar jelas dari kedua bola mata Suci. Antara malu dan merasa risih, cukup lama dia hanya diam mematung hingga suara sang suami mengagetkannya.
"Ya, sudah Abang tidur," jelas Satria sambil memelakangi sanh istri. Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang menandakan jika lelaki itu telah tertidur.
Tubuh Satria memang sedang lelah, sebab seharian berkerja. Ditambah masalah yang terus datang membuat lelaki itu tidak memerlukan lama untuk tertidur.
Lain halnya dengan Suci, wanita itu mengutuk kebodohannya. Karena tidak mau menuruti keinginan sang suami dan membuat ia mati akan perasan penasaran.
Karena tidak tahan lagi, Suci berselancar diponselnya. Mencari tahu sendiri hukum-hukum yang sang suamj belum sempat jelaskan. Hingga ia tertidur karena tidak tahan lagi akan rasa kantuk.
Pagi harinya.
Keadaan rumah gempar disebabkan kedatangan sang umi. Satria yang baru keluar dari kamar dan ingin berangkat kerja, ditahan untuk tidak kekantor.
Sang Umi marah besar kepada ketiga orang itu, Mala, Suci dan Satria saat ini tengah diadili. Seperti terdakwa yang akan menerima ponis bersalah dari hakim.
"Kalian tahu apa kesalahan kalian semua!" teriak Azzahra dengan emosi yang meledak-ledak.
"Ra, tenangkan dirimu. Ayo beristigfar," ajak sang suami.
"Umi kenapa marah-marah? Ini 'kan rumah tangganya kami."
Deg… .
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...