Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Konflik Rumah Tangga Baru


__ADS_3

"Umi kenapa marah-marah?  Ini 'kan rumah tangganya kami."


Semua mata tertuju kepada Mala, terlebih lagi Azzahra. Sama seperti yang disiram oleh bensin, begitu juga kemarahan wanita itu.


Azzahra yang menerima berita jika Satria menikahi Suci membuat wanita itu naik pitam. Semua berawal dari suaminya yang menerima telepon dari Mala yang meberitahukan jika Satria ia nikahkan dengan Suci. Sebagaimana nazar yang dulu pernah ia ucapkan, Udin hanya menjadi pendengar yang baik untuk sang putri. 


Namun, semua berubah menjadi mencekam dikala sang isrti mendengar pembicaraan mereka.


Azzahra merasa jika Mala itu bodoh, mau-maunya berbagi suami. Sedangkan selama ini semua kasih sayang selalu Satria berikan kepadanya. Akan tetapi, dengan mudahnya Mala menikahkan sang suami dengan wanita lain. 


"Iya! Umi tahu jika ini rumah tangga kalian! Tapi, apa kamu tahu jika Umimu ini punya hak terhadap kamu!" 


Ungkapan Azzahra penuh akan penekanan dan emosi, ia merasa jika putrinya yang dulu telah tiada. Kini hanya ada seorang wanita yang tidak ia kenali lagi, sebab dulu jika ia marah. Maka putrinya itu akan memahami apa yang ia inginkan. Seolah kontak batin mereka terputus begitu saja. 


"Umi, jika marah maka duduk 'lah," pinta Mala dengan lemah lembut. Namun, semua diluar perkiraannya. Sang Umi semakin marah dan meluapkan emosinya dengan mengebu-gebu. 


"Umi tanya sama kamu, La! Bagaimana Umimu ini tidak marah! Jika, putrinya dimadu!"


Kali ini Satria yang angkat bicara, ia juga ikut andil akan kemarahan sang Umi. Atau lebih tepatnya pelaku utama. 


"Umi, aku tahu jika perasaan Umi sakit. Tapi, Umi juga harus memahami jika ada batasan yang memang harus kita jaga."


Penjelasan Satria yang ingin membukakan pikiran sang Umi, malahan dianggap srbagai bentuk pembenaran akan yang terjadi.


"Jadi! Kamu mau bilang jika pernikahan kamu dengan wanita itu! Benar dan diperbolehkan!" jelas Azzahra sambil menunjuk Suci yang sedari tadi hanya diam dan menundikkan kepala. Dia tidak menyangka jika baru semalam setatusnya berubah, akan tetapi pagi ini telah menerima konflik rumah tangga. 


"Mak, bisa tolong jagakan Chacha?" pinta Mala kepada Mak Diam, semua sebab uminya. Semua orang berkumpul dan mau tidak mau ART itu juga ikut masuk kedalam rumah tangga mereka. 


Dengan tangan gemetar Mak Diam mengendong Cahaya, kemudian berlalu seperti permintaan Mala. Karena, Mala tidak ingin anaknya mengalami gangguan sikis. Disebabkan oleh pertengkaran orang dewasa.


Setelah kepergian Mak Diam, Azzahra mulai melakukan searangannya. 

__ADS_1


"Sat! Umi minta hari ini juga ceraikan wanita itu!" pinta Azzahra yang tidak ingin dibantah.


Satria hanya mampu membuang nafas panjang, bukan dirinya yang mengiginkan pernikahan ini? Tapi, sang istri 'lah yang menyeretnya dalam pernikahan yang terkesan sebuah paksaan. 


"Ra, sudahlah. Jangan seperti ini! Kita hanya bisa menasehati mereka. Tapi, kita tidak bisa memutuskan perkara apapun," jelas Udin membujuk istrinya agar mau meredam amarah.


Azzahra hanya mampu menagis dalam diam, dirinya yang tertekan akan kehilangan bayi yang baru hidup beberapa minggu dalam rahimnya. Namun, hal yang paling menyakitkan adalah ia tidak bisa hamil lagi. Sebab, rahimnya telah diangkat. Setelah proses pengursan, tanpa pengetahuannya. Sang suami menyetujui untuk pengangkatan rahim.


Kini dia hanya 'lah seorang wanita mandul, ingin marah. Namun, kepada siapa? Karena hal itu membuatnya tanpa sadar mudah emosi dan tidak bisa berpikir jernih lagi.


"Umi, aku tahu jika Umi tidak setuju akan pernikahan Kak Satria dengan Suci. Tapi, satu hal yang harus Umi tahu. Jika, kami bukan 'lah anak kecil lagi. Kami sudah berumah tangga, yang berarti kami memiliki hak untuk mengatur rumah tangga kami. Umi, memiliki kewajiban untuk mengingatkan."


Apa yang dijelaskan oleh Mala membuat Azzahra semakin marah. Dia merasa jika tidak dihargai lagi, seperti ia hanya orang yang ingin ikut campur dalam rumah tangga mereka.


"Ra, ayo tenangkan dirimu," pinta Udin yang melihat air muka wajah sang istri yang sudah memerah. 


"Iya, Umi tahu! Jika kalian sudah DEWASA! Sudah bisa mengurus semuanya sendiri dan tidak memerlukan pendapat wanita ini lagi!"


Azzahra mengais sambil terduduk, Udin yang melihat keadaan sang istri segera memeluk tubuh wanita yang dulu ia nikahi karena permintaan putrinya. Tubuh keduanya saling menyatu dengan keadaan Azzahra menangis dengan tubuh yang bergetar hebat. 


Cacian dan makian yang dulu tidak pernah diucapkan, saat ini semuanya keluar begitu saja. Entah setan apa yang merasuki, akan tetapi wanita itu seperti orang kesurupan.


Suci yang melihat keadaan Azzahra sepeti itu segera mendekat dan membacakan ayat-ayat suci. Sambil berharap kepada Sang Robb agar beban yang dirasakan bisa ditarik kembali. 


"Kenapa kalian jahat sama Umi? Apa salah Umi selama ini sama kalian! Umi hanya tidak ingin kalian sampai bercerai."


Antara mau ketawa dan marah mendengar kata-kata sang Umi, yang memiliki empati yang besar kepada mereka. Namun, kata-kata terakhir yang membuat Mala merasa agak aneh.


"Tidak ingin kami bercerai? Tapi, minta diceraikan," batin Mala. 


"Ra, sudah jangan seperti ini," pinta Udin mengigatkan istrinya.

__ADS_1


Namun, raungan dan tangisan sanh istri semakin menjadi hingga akhirnya wanita itu menyakiti dirinya tanpa sadar. 


Satria yang melihat hal itu segera menahan tubuh sang umi, dibantu oleh Pak Udin. 


Hingga akhirnya Mala detang mendekat dan menampar pipi sang umi. Apa yang dilakukan oleh Mala membuat semua orang tercengang terlebih lagi dengan Azzahra. Dia tidak pernah menyangka jika putrinya bisa melakukan hal ini kepadanya. 


Hanya, gara-gara ia meminta agar tidak ada poligami dalam rumah tangga mereka. Padahal niat hatinya ingin rumah tangga sang putri tetap utuh, tidak seperti rumah tangganya dulu yang berujung pada perceraian.


"Meratapi atau berteriak dengan meraung-raung (Niyahah), memukul-mukul wajah dan merobek pakaian ditimpa suatu masalah!" teriak Mala dengan lantang. Setelah itu ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapnya.


"Rasulullah SAW bersabda,


لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ


“Bukan dari golongan kami siapa yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliah (meratap).”


Sunyi sejenak, tidak ada yang mampu berbicara setelah kata-kata itu keluar. Semua seperti ditampar keras akan kata-kata Mala. Seperti rekanasi, Mala yang kini menampakkan wujudnya seperti dulu. 


Gadis hitam manis yang memiliki semangat hidup yang tinggi dan tidak akan pernah menyerah akan keadaan. Apalagi ujian dari Sang Robb. 


"Ada apa, kumpul disini?"


Semua mata menatap lelaki yang baru datang tersebut. 


"Ya Robb, salah alamat sepertinya," batinya. 


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2