Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Kepulangan Marissa dan Ikbal


__ADS_3

"Apa!" teriak Marissa terkejut akan pernyataan tersebut hingga ponsel miliknya terjatuh seking kagetnya. 


"Ada apa, Mi?" tanya Ikbal yang ikut kaget akan teriakan istrinya segera menghampiri wanita tersebut. Dia heran melihat tingkah istrinya berteriak tadi, entah apa yang dilakukan oleh wanita itu.


"Halo, ini masih tersambung," Ikbal mengambil  ponsel istrinya yang terjatuh di lantai dengan keadaan masih menyala dan menampakkan Satria serta Mala yang menatap dirinya intens. Dia baru menyadari bahwa istrinya tadi melakukan panggil vidio call.


"Astagfirullah, Papi!" teriakan Satria membuat Ikbal binggung, "Ada apa?" tanyanya heran sambil menatap nanar layar ponsel yang menampakkan putranya seperti orang menahan amarah.


"Aurat! Aurat!" sakras Satria. 


"Oh, maaf. Mami, kamu berbicaralah," pinta Ikbal yang baru sadar kalau dirinya hanya mengunakan handuk saja sebab baru habis mandi. Dia menyerahkan ponsel yang di pegangnya kepada wanita itu yang masih diam membisu. 


"Mami!" panggil Ikbal lagi. Dia heran akan tingkah istrinya yang tidak merespon panggilnya, "apa sebenarnya yang terjadi?" batin Ikbal. 


"Mami, kenapa, Pi?" pertanyaan sang putra membuat Ikbal mengalihkan perhatiannya kembali kelayar ponsel, "Papi enggak tahu?" balas Ikbal sambil menggeleng "emangnya, apa yang kalian bicarakan tadi?" tanyanya penasaran setelah melihat perubahan sang istri.


"Bukan apa-apa!" 


Ikbal hanya menatap binggung kepada sikap istrinya yang tiba-tiba berteriak dan mengambil alih ponsel dengan kasar membuat Ikbal menaruh curiga. 


"Sat, Mami sibuk! Nanti lagi teleponnya," jelas Marissa sambil menutup panggil vidio call tersebut secara sepihak. 


Ikbal menatap nanar istrinya tersebut dengan segala praduga. 


"Papi! Ayo kita ke kantor," ajak Marissa yang ingin menghidari tatapan suaminya tersebut.


"Mami, ingin ke kantor dengan pakaian itu?" tanya Ikbal sambil menunjuk pakaian yang di kenakan istrinya.


Marissa kesal, dia baru menyadari kalau belum mandi dan masih mengunakan pakaian piyamanya. Semua ini sebab putranya yang meminta panggil vidio call tadi.


"Mami mau mandi dulu, dan Papi, pakai baju dulu," jelasnya seraya ingin berlalu. Namun, tanganya dicegat oleh sang suami. 


"Ada apa?" tanyanya ketus. 


"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Ikbal mulai menginterogasi istrinya tersebut.


"Apanya? Mami mau cepat-cepat ke kantor," jelas Marissa yang ingin menghindari pertanyaan suaminya. 

__ADS_1


"Mami mau ke kantor?" tanya Ikbal meyakinkan ucapan istrinya yang mendapatkan anggukan dari wanita tersebut.


Ikbal mebuang nafas panjang, entah bagaimana caranya semua ini bisa terjadi. Namun, yang pasti dia akan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki keadaan.


"Mi, perusahaan Permata Grub bukan milik kita lagi," Ikbal mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya, "semuanya sudah dialih namakan, dan kita hanya memiliki anak cabang di tanah air."


Marissa hanya mampu mematung, dia yang ikut dalam semua langkah yang telah di buat oleh Pak Rudy dan suaminya paham betul akan apa yang tengah terjadi. Namun, dia tidak bisa menerima semua ini dengan begitu saja. 


"Tapi, Pi!"


"Kita akan pulang hari ini," balas Ikbal sambil meninggalkan istrinya yang masih berdiri mematung di tempat.


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa semuanya jadi seperti ini?" batin Marissa sambil menangis.


Setelah perdebatan tadi, Ikbal mendiamkan istrinya. Lelaki itu lebih memilih menyibukan diri akan keberangkatannya ke tanah air, dia yakin ada sesuatu yang di semunyikan istrinya setiap kali di tanya perihal apa yang bicarakan wanita itu ditelepon dengan sang putra. Sebelum pulang ke tanah air Ikbal berpamitan dengan Pak Rudy yang kebetulan mengantarkan mereka hingga ke bandara. 


"Pak Ikbal, apa Anda yakin akan pulang ketanah air?" tanya Rudy hati-hati. 


"Iya Pak, terimakasih Anda sudah berjuang hingga detik ini. Namun, sepertinya tidak ada yang bisa kita lakukan lagi untuk mendapatkan Permata Grub," jelas Ikbal sambil menjabat tangan lelaki yang selama ini berperan penting dalam perusahan yang harus lepas dari genggaman mereka. 


Ikbal hanya mengangguk mengangapi ucapan lelaki tersebut, menurutnya semua ini adalah jalan dari Sang Robb untuk dirinya bermusabah diri. Berbeda dengan istrinya, Marissa yang datang langsung marah-marah kepada Pak Rudy yang menurutnya telah gagal menjadi astiten yang baik.


"Anda seharus mencari tahu siapa yang telah mengambil perusahaan! Bukan hanya meminta maaf," teriak Marissa meluapkan emosinya. 


"Maaf Buk Marissa, saya sudah katakan sebelumnya bahwa inisial SS yang telah mengambil perusahaan," jelas Rudy sambil menatap tajam wanita dihadapannya akibat tersinggung akan tuduhan kejam tersebut.


"Sudah Mi, malu dilihat orang," jelas Ikbal mengingatkan istrinya bahwa mereka menjadi pusat perhatian. 


"Biarkan! Kita yang susah akibat kecerobohan dia," teriak Marissa sambil menujuk wajah Pak Rudy.


Karna malu, akhirnya Ikbal menyeret istrinya menuju pesawat yang sebetar lagi akan berangkat. Meninggalkan Pak Rudy yang masih menatap nanar pasangan suami--istri tersebut sambil membatin.


"Semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan."


***


Marissa masih saja mengoceh didalam pesawat membuat Ikbal kesal, perjalanan yang memakan waktu cukup lama terlebih mendegar ucapan kasar dari sang istri membuat dirinya benar-benar pusing. 

__ADS_1


"Mi, bisakah kamu diam?" tanya Ikbal sambil menatap jengah wanita di sampingnya. 


"Bagaimana, Mami biasa diam? Papi, tahu kalau kita jatuh miskin!" terak Marissa meluapkan amarahnya yang mendapat teguran salah seorang pramugari.


"Mohon maaf Ibu, apakah Anda bisa tenang?"


Marissa menatap tajam wanta yang berpakaian serba putih tersebut. 


"Bisa!" balasnya ketus. 


"Maafkan istri saya, dia lagi datang bulan," jelas Ikbal yang mendapat anggukan kepala pramugari tersebut. Setelah pramugari itu pergi, Marissa menatap tajam ke arah suaminya. 


"Papi berbohong?" tudunya kejam. 


"Astagfirullah, Mi. Berbohong itu dosa," jelas Ikbal sambil menggelengkan kepala menolak keras tuduh itu. 


"Tadi, Papi bilang Mami datang bulan! Padahal enggak tuh," balasnya ketus. 


"Benarkah? Tapi, yang Papi tahu kalau Mami marah-marah terus berati datang bulan," jelas Ikbal beramsumsi. 


"Sudahlan, bicara dengan Papi susah," celetus Marissa sambil membuang muka. 


Akhirnya, Ikbal bisa membuat mulut laknat istrinya diam. Dia tidak ada niat berbondong sama sekali, lelaki itu hanya menghitung tanggal muda sekarang yang berati istrinya akan datang bulan.  Benar atau tidak Wallaohi.


Setelah perdebatan itu Marissa milih beristirahat, dia harus menyiapkan energi yang lebih untuk perdebatan berikutnya setelah sampai di tanah air. Jangan sampai kdia kelelahan dan masuk RS apalagi sampai deperesi. 


Ikbal melihat istrinya yang menutup mata menandakan wanita itu akan tertidur bernafas lega. Lelaki itu menatap keluar jendela, melihat awan-awan putih yang mereka lalui. Pikirannya tertuju akan semua yang terjadi, dia tidak pernah marah kepada Sang Pencipta. Namun, sebagai Manusia biasa kadang ia lelah. Tentu dia juga merasakan hal tersebut, lelah akan ujian yang seakan tidak pernah ada akhirnya. Satu hal yang harus dia cari tahu, siapakah inisial SS tersebut? Lalu apa alasan SS mengambil alih perusahan Permata grub dan meninggalkan cabangnya begitu saja. Semua masih misteri. 


.


.


.


...Bersambung … ....


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2