
Ujian demi ujian akan selalu menghampiri setiap Manusia, akan tetapi percayalah bahwa setelah ujian pasti akan ada hasilnya. Sama seperti istilah 'Setelah hujan ada pelangi', 'Setelah malam datanglah siang', 'Dibalik kesulitan ada kemudahan.'
Hal itu yang patut kita pegang dan percaya, yakin jika semua pasti akan berlalu. Hari esok adalah rahasia, hadapi hari ini dengan memperbaiki kesalahan yang kita lakukan kemarin agar esok nanti lebih baik.
Setelah melewati operasi yang memakan waktu cukup lama, akhirnya tumor yang berada di dalam perut Mala telah diangkat. Tumor yang diperkirakan berada dalam rahim, akan tetapi ternyata berada diluar rahim memudahkan operasi yang dilakukan oleh Dokter Tasya bersaam timnya. Pengangkatan tumor yang bisa dimasukkan dalam operasi menegah akhirnya berjalan sukses.
Dokter Tasya keluar dan melepas maskernya hingga menampakkan senyum yang indah mengembang lebar, semua yang berada disana menghampiri Dokter wanita tersebut.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Satria tidak sabaran. Selama menunggu lelaki itu tidak henti-hentinya berzikir dan mendoakan sang istri berharap apa yang menjadi ketentuan Ilahi adalah yang mereka harapkan.
Dokter Tasya mengagguk menaggapi ucapan Satria membuat semua orang bersujud syukur. Dokter Tasya meminta Satria yang merupakan suami dari Mala sang pasien agar mengikutinya, karena ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan.
Satria mengikuti langkah Dokter Tasya. Namun, sebelumnya ia berpamitan kepada umi dan bapak serta menitipkan sang istri yang masih berada diruangan operasi dalam keadaan belum sadar dari bius yang diberikan.
Ketika diruangan Dokter Tasya, Satria segera duduk dihadapannya Dokter wanita tersebut yang tengah membaca sesuatu dengan serius.
Cukup lama sunyi menemani mereka, setelah Dokter Tasya meletakkan lembaran kertas hasil operasi dan pemeriksaan Mala. Kini Dokter wanita itu menatap Satria nanar. Satria sampai gugup akibat ditatap seperti itu akhirnya bertanya, "Ada apa, Dok?"
__ADS_1
Terdengar suara nafas kasar keluar dari hidung Dokter Tasya sebelum berbicara, "Mohon maaf Pak Satria, saya mungkin hanya Manusia biasa? Namun, menurut analisa ilmu yang saya pelajari," Lagi dan lagi Dokter itu membuanh nafas kasar sebelum melanjutkan ucapannya.
Satria merasa gusar menunggu jawaban sang Dokter, "Tolong katakan saja, apapun akan saya lakukan demi, Nur. Istri saya."
Terlihat seulas senyum kecil dari sang Dokter membuat Satria merasa lega, akan tetapi detik kemudian kata-kata yang keluar dari mulut sang Dokter membuat Satria merasa dicabik-cabik.
"Istri anda, Ibu Mala. Mungkin tidak diperbolehkan lagi untuk hamil! Setelah pengagkatan tumor ini, kami pihak Dokter menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Rahim Ibu Mala bemasalah, kantong rahimnya tipis sekali dan beresiko robek jika dipaksaan membesar. Padahal sesuai hukum alamnya, perut dan rahim akan membesar mengikuti pertumbuhan sang janin. Untung saja Ibu Mala telah melewati trisemester pertama yang berati usia kandungan yang telah mencapai tiga bulan lebih. Namun, karena keadaan fisik dan sikis Ibu Mala yang terlalu stres mengakibatkan tubuh sang janin menjadi terhambat. Setelah ini saya harapkan agar Bapak Satria memperhatikan pola makan dan asupan nutrisi yang akan dikonsumsi oleh Ibu Mala dan satu hal yang paling penting adalah menjada mood sang ibu agar janin tidak menjadi setres, sebab akan berakibat fatal bagi Ibu dan janin yang ada dalam kandungan."
Setelah memberi penjelasan panjang lebar, Dokter Tasya menerima pesan dari teman dokternya yang mengatakan jika pasiennya Mala telah di pindahkan keruangan rawat inap. Dokter wanita itu juga menyampaikan prihal tersebut kepada Satria selaku suminya.
Satria mengagguk menaggapi ucapan sang dokter dan pamit undur diri untuk menemui sang istri. Senyum yang baru ingin terukir kini sirna seketika dari wajah lelaki tersebut.
Tasya hanya mampu menatap iba lelaki yang dulu pernah ia taksir tersebut, "Semoga kamu bisa kuat menjalaninya, Sat."
***
Dengan labgkah gontai Satria menuju ruangan inap sang istri, akan tetapi ia baru menyadari betapa bodohnya tidak menanyakan ruangan apa sang istri dirawat kepada Dokter Tasya tadi.
__ADS_1
Satria binggung harus kemana hingga ia kembali melangkah dan ingin berbalik kembali keruangan Dokter Tasya. Namun, langkahnya terhenti ketika suara lelaki yang sebelumnya sempat ia temui mengatakan sesuatu yang ia cari.
"Kamu mencari ruangan istrimu, bukan? Dia ada di ruangan cantik lantai dua."
Setelah mengatakan hal tersebut, lelaki itu pergi berlalu begitu saja membuat Satria hanya mampu menatap binggung dab bergumam, "Siapakah dia?"
"Satria!"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib lije end comen ya 😇*...
__ADS_1