
"Nur, akankah cinta kita abadi? " Batin Satria.
...Satria menatap nanar pintu kamar mandi yang tertutup dengan harapan yang besar dalam hatinya....
...Walau mungkin pernikahan mereka terjadi akibat keinginan terlepas dari belengu hubungan keluarga. Namun Satria memaknai pernikahannya adalah sesuatu yang sakral, disebabkan bergetar Arys Allah ketika dirinya melafaskan ijab kobul....
...Perpindahan tanggung jawab seorang bapak kepada menantu atau lebih tepatnya suami sang putri adalah beban yang berat. Mengantikan peran orang tua dalam mendidik, menyayangi, memberi nafkah, dan sebagainya bukan pekara yang mudah....
...Apa lagi Satria yang baru lulus sekolah, belum memiliki pengetahuan yang luas akan dunia pekerjaan disebabkan terkurung di podok pesantren selama kurang lebih 6 tahun lamanya....
...Satria ingin memulai hari ini dengan lembaran yang baru dari kemarin, menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Awali semuanya dengan basmalah....
......Bissmillahirrohmmannirohim.... ......
.
.
.
...Pagi yang cerah, secerah canda tawa Mala dan Satria di meja makan. Setelah mandi dan mengqodho solat subuh yang tertinggal sekaligus memohon ampun kepada sang Robb karna kelalaian yang mereka buat....
...Sekarang mereka berada di meja makan bercanda gurau seolah tidak ada beban dalam hidup....
"Kak, makan yang banyak ya. Aku ingin lihat kakak gendut" Ucap Mala sambil tersenyum menatap sang suami yang rupawan sambil mengedipkan matanya genit.
"Alah, kamu itu memang biang kerok Nur, kalau aku gendut? Maka ketampananku ini akan hilang" Balas Satria dengan percaya diri, wajahnya yang blasteran diturunkan langsung oleh sang mami.
...Ketika Satria teringat akan maminya, hatinya sebenarnya sedih jika berjauhan dengan perempuan yang telah melahirkannya kedunia itu, tapi apa boleh buat dia juga tidak ingin maminya terus-terusan mencaci maki Mala dihadapannya....
"Kak"
...Panggilan Mala membuyarkan lamunan Satria, membuat dia memandang sendu wajah sang istri....
"Nur, gimana kalau aku mencari perkerjaan? Aku merasa malu jika harus tinggal disini hanya makan dan tidur" Lirih Satria yang sadar diri akan keterbatasannya.
"Kakak, ngomong apa sih, kakak itu gak perlu malu. Aku ini istri kak, apa kakak menganggap aku orang lain? "
...Mendengar penuturan Mala membuat hati Satria tersentil, dia yang telah mengambil haknya malam tadi dari sang istri tidak akan sampai hati jika menyakitkan istrinya baik secara pisik maupun sikis sekalipun....
"Nur, bagaimana setelah makan kita membuka toko yang didepan? Kita lihat harga barang dan barang apa saja yang sudah habis. Aku ingin bisnis toko kelontong kamu bisa berkembang" Jelas Satria dengan senyum merkah penuh harap memandang sang istri.
...Mala langsung menganggukkan kepala menyetujui keinginan sang suami. Mala yang memang mudah berubah mood nya itu kadang dari marah ke menagis, dari sedih ke ceria dan seperti sekarang dari tersinggung menjadi tersanjung....
...Mereka berdua menyelesaikan makan pagi yang penuh akan warna dan membagi tugas tentunya. Mala mencuci piring Satria yang menyapu dan mengepel lantai....
...Mereka mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama dan saling membatu, hinga pekerjaan membersihkan rumah selesai tinggal ke toko yang terletak dihadapan....
__ADS_1
...Mala mengedarkan matanya mencari keberatan anjing berkaki tiga miliknya yang tidak terlihat dan terdengar suaranya....
"Kak, dimana Dog ya?" Tanya Mala yang mendekati Satria yang tenggah membuka kunco roli toko.
"Mungkin ikut bapak Nur"
"Untuk apa Dog ikut bapak kak? "
"Mungkin Dog telah terbiasa bersama bapak, jadi dia mengikuti" Jelas Satria berpendapat.
"Kenapa Dog terbiasa bersama bapak? "
"Karna bapak yang menjaganya Selama kita tidak berada dirumah. Berhentilah bertanya tentang Dog Nur, lebih baik kamu membantuku membuka roli ini" Perintah Satria yang kesal akan pertannyaan beruntun Mala.
...Mala pun melaksanakan perintah Satria membantu sang suami membuka pintu roli dan nampaklah keadaan didalam ketika pintu terbuka lebar....
"Uhukkkk.... "
...Mereka berdua sama-sama terbatuk terkena debu yang berterbanga menyeruak keluar....
"Berepa bulan tempat ini tidak dibersihkan?"
"Selama nenek Aisyah meninggal" Jelas Mala sambil masuk dan melihat keadaan didalam.
"Kak, banyak barang yang sudah kadarluasa" Jelas Mala samnil menunjukan beberapa barang kepada Satria.
...Pasangan suami istri itu sibuk membenahi toko kelontong hinga berjam-jam telah belalu....
"Nur, sudah azan. Setop dulu, kita solat dan makan siang. Nanti baru disambung lagi" Perintah Satria kepada sang istri.
"Kak, bagaimana dengan barang yang ini? " Tanya Mala menunjuk barang yang sudah kardaluasa dan tidak layak konsumsi.
"Nanti kita buang, lalu kita buat catatan barang yang baru" Jelas Satria sambil mulai mencatat sesuatu dibuku yang dipegangnya.
...Sedangkan Mala telah menyudahi pekerjaaannya, dan memandang heran sang suami....
"Kakak mencatat apa? "Tanya Mala sambil mendekat.
"Ini aku buat catatan barang yang akan kita beli nanti untuk mengisi kembali toko" Jelas Satria yang masih sibuk.
"Tapi kak, kita tidak memiliki modal untuk membeli barang baru"
...Mendengar penjelasan sang istri membuat polpen yang dipegangnya hinga terjatuh kelantai. Dia baru menyadari akan hal yang paling penting untuk berdagang, yaitu modal....
...Mala yang melihat keadaan sang suami pun langsung mendekati dan memberi semangat....
"Kita jual yang ada dulu kak, nanti kalau sudah terjual maka kita akan memiliki uang untuk membeli barang yang baru"
__ADS_1
...Mendegar penjelasan sang istri Satria hanya tertunduk malu, dia yang terlahir dari keluarga pembisnis berfikir akan mudah menjalankan usaha kecil yang dimiliki sang istri....
...Akan tetapi kenyataan yang pahit dia telan, semua yang dipikirannya ternyata tidak semudah mengembalika telapak tangan....
...Pasangan suami istri itu pun akhirnya menutup kembali toko yang belum siap untuk beroperasi. Mereka memilih menunaikan kewajiban terlebih dahulu kepada sang Robb....
...Setelah solat zhuhur mereka berdua makan siang dengan menu seadanya. Berlauk telur dan mie instan seperti kemarin ketika datang kerumah....
...Tidak ada bahan makanan dirumah itu kecuali, mie dan talut. Disebabkan sang bapak yang menjaga rumah hanya bisa menyediakan itu saja....
"Nur, sepertinya kita harus berbelanja keperluan rumah seperti sayur-mayur stay daging" Kelaa Satria disela mengunyah makananya.
"Maunya seperti itu kak, tapi kita tidak memiliki uang"
...Satria terdiam sesaat, dirinya bingung akan situasi yang dihadapinya saat ini....
...Satria yang terbiasa kebutuhannya yang selalu terpenuhi dan tidak pernah memikirkan hal itu merasa pelik sendiri. Hinga dia teringat akan momen mereka naik taxsi dan sang istri yang membayarnya....
"Nur, kamu memiliki uangkan?" Pertannyaan Satria membuat Mala tersedak.
"Uhukkkk... "
"Pelan-pelan Nur" Ucap Satria sambil memberikan air minum kepada sang istri.
"Kakak bilang apa tadi?"
"Kamu punya uang kan? " Satria mengulang pertannyaan yang tadi.
"Emangnya kakak mau apa dengan uangku? "Tanya Mala penuh selidik.
"Aku hanya ingin meminjamnya"
"Kalau begitu tidak boleh"
"Pelit"
"Apa??? "
.
.
.
...Bersambung......
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*
__ADS_1