Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Malang Tidak Berbau


__ADS_3

Azzahra sangat kesal dengan Satria, wanita tersebut segera meninggalkan Satria dan berlalu menuju kamar di mana ada Mala. 


Perasaan Azzahra tidak menentu, akan tetapi lebih sakit jika ia tidak segera menemui sang putri. Tanpa ragu, Azzahra membuka kamar milik Satria dan Mala dan nampak Mala yang sedang berbaring di tempat tidur. 


Azzahra segera menghampiri wanita hamil tersebut dan duduk di tepi tempat tidur, lalu bertanya, "Apa yang kamu rasakan, La?"


Mencoba untuk tenang, walau hati gundah--gulana. Hanya mampu memainkan peran sebaik mungkin, itu yang bisa Azzahra lakukan. 


Namun, sebelum Mala mulai berbicara datang Satria dan Udin masuk dengan tergesa-gesa dan menodong pertanyaan tanpa jeda. 


"Kamu kenapa, Nak? Bagaimana yang berdarah? Ayo kita ke rumah sakit!"


Mala bingung harus menjawab apa? Ia mulai bagun dari posisi berbaring dan duduk menatap orang-orang yang disayanginya tersebut.


"Bapak, Umi,  Kak Satria! Aku baik-baik aja, tidak kenapa-kenapa 'ko," jelas Mala.


Namun, seolah tidak percaya. Udin terus mendesak Satria agar membawa Mala ke rumah sakit. 


"Sat, ayo angkat istri kamu! Bawa ke rumah sakit, sekarang!" kata Udin yang mulai panik.


Azzahra mencoba tenang dan berusaha mengurai suasana. 


"La, kata suami kamu berdarah! Bagian mana?" tanya Azzahra tenang dan ingin memastikan bahwa keadaan putrinya seperti apa. 


Mala tertunduk dalam, entah bagaimana ia mengatakannya. Namun,  suara suaminya telah mengeluarkan perintah. 

__ADS_1


"Ayo, Nur! Kita berangkat ke rumah sakit," ajak Satria dan ingin mengangkat tubuh istrinya. Namun, tindakan Satria ditahan oleh Mala. 


"Kak, aku baik-baik saja," balas Mala sambil menahan tangan kekar sang suami. 


"Kamu berdarah! Jangan membuat aku khawatir!" bentak Satria mulai tersulut emosi. 


Azzahra menahan tangan Satira dan menatap lekat wajah suami Mala tersebut.


"Ada apa, Umi?" tanya Satria merasa tidak nyaman. 


"Bagaimana yang berdarah? Dan kapan kamu melihatnya?" tanya Azzahra menginterogasi Satria membuat lelaki itu hanya mampu menelan silvernya kasar merasa tersudutkan.


"Jawab!" bentak Azzahra membuat semua orang kaget tidak terkecuali Udin, lelaki itu terpanjat mendengar suara istrinya yang menggelegar. 


"Di daerah itu …," Satria sulit mengatakannya secara gamblang.


Pertanyaan sang umi membuat Satria tidak bisa berkutik, sama seperti sang suami. Mala semakin menundukkan kepala, antara malu dan merasa bersalah. 


"Jawab!" bentak Azzahra tidak sabaran. Dia merasa ada hal yang janggal dan ditutupi oleh Satria dan Mala. 


"Tadi," lirih Satria pasrah.


"Maksud kamu apa?" tanya Udin tidak paham dan mencoba mencerna apa yang terjadi. 


"Jangan katakan jika kamu menjenguk anak kalian?" tanya Azzahra dengan sorot mata tajam. 

__ADS_1


Udin semakin tidak paham dengan yang terjadi dan bertanya, "Anaknya masih dalam perut, Ra. Bagaimana nak Satria menjenguknya."


Antara ingin menangis dan marah, Azzahra mendengar kata-kata polos suami barunya itu. Azzahra mengalihkan pembicaraan kepada Mala, ia yakin kalau putrinya itu akan berkata jujur. 


"Mala, katakan apakah Satria mengaulimu?" 


Pertanyaan Azzahra menyadarkan Udin akan arah pembicaraan dan menatap tajam Satria yang menurutnya tidak bisa menahan hawa nafsu syahwatnya. 


"Malam tadi, Umi," lirih Mala yang masih menundukkan kepala. Namun, pengakuan Mala membuat Satria menjadi tegang.


"Malang memang tidak berbau, Ra. Kita harus memakluminya," jelas Udin pasrah akan semua yang sudah terlanjur terjadi. 


Namun, hal itu membuat Azzahra naik pitam dan berdiri seraya menatap Satria dan Mala dengan sorot mata tajam.


"Kalian akan Umi PISAHKAN!" teriaknya keras. 


"Jangan Umi!" 


.


.


.


...Bersambung ••• •...

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2