Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Berusahalah


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh suster tersebut, kini pasangan suami istri itu menuju ruangan Doktet Aditiya. Ada perasaan gusar menyelimuti mereka, entah apa lagi yang bisa mereka lakukan untuk bisa terlepas dari ujian demi ujian yang seakan tidak pernah mau berakhir.


Tok ... .


"Silahkan masuk!" perintah seseorang dari dalam setelah mengetuk pintu, Udin masuk bersama dengan istrinya. Terlihat Dokter Aditiya yang sedang serius membaca sebuah berkas ditangannya.


"Kalian keluarga Ibu Mala?" tanyanya seraya menatap Udin dan Azzahra yang mendapatkan anggukkan kepala.


"Silahkan duduk," pintanya dan kini kedua pasangan suami istri itu duduk dihadapan Dokter yang memiliki wajah tampan tersebut.


"Saya langsung keintinya saja ya," jelasnya yang tidak ingin bertele-tele.


"Sialhkan Dok. Kami juga akan mendengarkan dengan baik," balas Udin sambil mengenggam erat tangan istrinya.


"Begini Pak, Bu. Saya sudah membaca riwayat dari Ibu Mala yang kemarin juga melakukan operasi penganggatan tumor, bukan? Dan sekarang Ibu Mala melakukan operasi sesar untuk mengeluarkan bayinya. Disini saya ingin menjelaskan bahwa Ibu Mala hanya dibolehkan satu kali lagi melakukan operasi karena batas operasi di perut cuma tiga kali saja."

__ADS_1


Penjelasan panjang lebar dari sang Dokter membuat Udin dan Azzahra bingung dan saling berpandang. Hingga akhirnya Udin bertanya, "Maksudnya, Dok? Kami kurang paham."


Sang Dokter tersenyum dan menjelaskan secara terperinci kepada pasangan suami istri tersebut. Dia menjelaskan bahwa Mala tidak boleh operasi dibagian perut melebihi tiga kali, sang Dokter juga menjelaskan bahwa Mala harus menunda kehamilan agar agar tidak menimbulkan resiko operasi sesar secara dekat. Sang Dokter juga menjelaskan bahwa Mala harus sed ditempat tidur sebagai syarat untuk pemulihan paska operasi.


Udin dan Azzahra hanya diam membisu mendengar pertanyaan sang Dokter, setelah tidak ada lagi yang disampaikan mereka memilih pamit dan kembali keruangan cucu mereka. Namun, setelah memasuki ruangan tangis Azzhara pecah seketika. Dia adalah wanita dan tahu bagaimana nanti kesedihan putrinya jika mendengar hal ini. Udin sangat paham akan yang dirasakan oleh sang istri kemudian memeluk wanita itu agar merasa tenang.


Cukup lama mereka saling diam dan berpelukan hingga Udin membuka pembicaraan, "Ra, kamu harus kuat."


Azzahra menogak dan menatap wajah suaminya, dengan sisa air mata yang masih menetes dipipinya ia bertanya kepada sang suami.


"Mas, aku mungkin bisa kuat dengan ujian ini! Tapi...," ucapan Azzahra terhenti karena suaminya yang meletakkan jari telunjuk kebibirnya seolah mengatakan untuk ia diam.


Azzahra menatap suaminya nanar, ada bagian yang diucapkan oleh lelaki itu yang membuatnya bingung.


"Maksudmu, Mas? Kita berbohong kepada Mala."

__ADS_1


Udin mencubit hidung istrinya membuat wanita itu memekik karena kesal, akhirnya Udin menjelaskan bahwa mereka hanya menyimpan apa yang dikatakan oleh Dokter tadi sampai Mala sendiri yang bertanya. Udin menjelaskan bahwa itu bukan berbohong karena jika orang yang berbohong ia tidak akan mengatakan yang sebenarnya.


"Lalu, apa bedanya dengan kita tidak mengatakan apa yang disampaikan Dokter tadi?" tanya Azzahra bingung karena menurutnya sama saja berbohong.


"Beda 'lah! Kita hanya akan mengatakan kebenaran jika Mala bertanya. Jika, Mala tidak bertanya? Maka kita tidak perlu memberitahunya."


"Memberi tahukan apa?"


Deg ... .


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2