Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Menyenangkan Hati suami


__ADS_3

"Kak, aku mau hamil!" teriak Mala dengan semangat membuat Satria terlonjak kaget. 


"Nur! Pelankan suaramu," pinta Satria sambil mengarahkan ujung matanya ke Cahaya yang menatap kedua orang tuanya dengan heran. 


Walaupun Cahaya masih kecil, akan tetapi anak itu sudah memahami apa yang dirasakan oleh orang disekitarnya. 


Mala membekap mulutnya dan mengangguk, sebagai seorang ibu ia paham dan sebisa mungkin menjaga tutur katanya agar apa yang ditiru oleh sang anak adalah hal yang baik. 


Anak adalah mesin fotocopy yang canggih, akan meniru apa pun yang didengar dan lihat. Hal ini pula yang menjadi tantangan terbesar untuk Mala dan Satria sebagai orang tua. Menjaga lisan dan perbuatan di depan sang anak.


Setelah sarapan bersama, Satria pamit untuk ke swalayan mereka. Mini market yang dulu kecil, kini telah berkembang menjadi swalayan. Satria bertekad untuk menjadikan swalayan itu mall seperti milik Azzam. 


Sebagai lelaki jiwa tidak mau mengalah membuat Satria meronta-ronta ingin bersaing dengan Azzam. Saat ini 'lah saatnya Satria membuktikan jika ia juga mampu seperti Azzam. 


Terkadang perasaan tidak ingin tertinggal menjadikan seseorang menjadi giat dalam berusaha, ini adalah hal yang positif bagi Satria. Karena tidak ada yang instan, semuanya butuh proses dan usaha. 


"Nur, jaga Cahaya dengan baik, ya."


Hal itu selalu Satria ucapkan kepada sang istri setiap kali ia akan meninggalkan anak dan istrinya.


Selalu ada doa dan harapan setiap hari, berharap agar Sang  Robb Ridho dan ikhlas akan hidup mereka selama ini. 


"Nanti siang aku ya yang masak?" tanya Mala sambil menggendong Cahaya, mengiringi langkah sang suami yang akan berangkat ke swalayan.


"Iya, tapi ingat! Jangan sampai kamu kecapean dan yang paling penting Cahaya tidak boleh lepas dari pengawasanmu," pesan Satria sebelum masuk ke mobil. 


Minimarket yang dulu berada di seberang rumah, kini berpindah di pinggir jalan raya. Membesarkan usaha yang telah ada, akan tetapi mereka tidak mau meninggalkan rumah yang penuh akan kenangan. 


Bagi Mala dan Satria, segalanya adalah titipan dan suatu hari nanti akan diambil oleh yang berhak. Namun, selama harta itu masih ada bersama mereka. Sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab mereka menjaganya. 


"Da-dah, Ayah," ucap Mala sambil melambaikan tangan putrinya, hingga mobil yang dikendarai oleh sang suami pergi menjauh.


"Sekarang hanya ada kita, ya Cha?" kata Mala kepada sang putri yang hanya tersenyum sambil menatapnya.


Mala membawa sang putri masuk ke dalam, membawa buah hatinya ke kamar. Disana Mala meletakkan Cahaya dengan banyak sekali mainan. 


"Kamu senang disini, Cha?" tanya Mala kepada sang putri, walaupun tidak ada jawaban seperti ia berbicara kepada orang dewasa. Namun, senyuman manis putrinya telah cukup membuat Mala merasa bahagia.

__ADS_1


"Cha, kamu sangat beruntung. Kamu tahu, Cha? Bunda dan Ayah sangat menyayangimu."


Tanpa Mala sadari air matanya menetes, dirinya yang sekarang sangat berbanding balik dengan yang dulu. 


Mala yang dulu sangat kuat dan tahan akan berbagai macam ujian dan cobaan yang datang. Seperti karang di tepi pantai, jiwa Mala dulu sangat tangguh dan kuat. 


Namun, Mala yang sekarang mudah sekali menangis. Padahal hidupnya sekarang sangat jauh berbeda dengan yang dulu. 


Hidup Mala yang sekarang dipenuhi akan cinta dan kasih sayang, hidupnya tidak pernah kekurangan sama sekali. Karena sang suami yang selalu banting tulang menafkahinya dari yang lahir hingga yang batin.


"Andai, Ibu masih ada," isak Mala ketika teringat akan sang ibu yang telah bersama Sang Khalik. 


"Bu-bu---."


Mala tertegun seketika dan menatap putrinya penuh akan tanda tanya.


"Bu-bu---."


"Cha, Cha," panggil Mala sambik memeluk sang putri dengan erat. Ternyata putrinya sudah mulai bisa memanggil namanya walaupun hanya dua kata saja. 


Bagaikan mendapatkan sebuah undian yang tidak ternilai harganya, Mala menyeka air matanya dan menatap wajah imut putrinya dengan memegang kedua pipi Cahaya yang sangat menggemaskan. 


"Bu, Bu."


"Masya Allah, Ya Robb makasih telah menitipkan malaikat kecil ini kepadaku," ujar Mala dengan derai air mata kebahagiaan. 


Dia sangat bersyukur atas karunia Tuhan yang tiada tara tersebut, dimana banyak pasangan suami istri yang sudah berusaha dan berdoa. Namun, belum juga diberi anugerah yang paling besar tersebut.


Anak adalah lambang keharmonisan dalam rumah tangga, dimana pasang suami istri bisa rujuk setelah bercerai dikarenakan memiliki tanggung jawab yang sama. Yaitu anak. 


Hati yang keras seperti baja pun akan luluh--lantah, jika teringat akan buah cinta yang akan menyatukan dua insan yang berbeda.


"Aku ingin melahirkan anak-anak yang soleh dan soleha, Kak. Itu janjiku pada Sang Robb, aku tidak akan menghalangi Rahmat Tuhan yang satu ini."


Kata-kata Mala dengan penuh kesungguhan disaksikan oleh Malaikat dan buah cintanya. Janji seorang istri yang ikhlas dan rela mengandung dan melahirkan anak dari suaminya. 


Walaupun Mala tahu kalau hukumnya KB ada yang Mubah dan ada yang Haram, karena banyak pendapat yang mengatakan jika KB menghalangi Rahmat Tuhan. Maka mengatakan jika hukum KB adalah Haram.

__ADS_1


Namun, ada juga yang berpendapat jika menggunakan KB hukumnya Mubah (boleh)  asalkan ada alasan yang kuat. 


Mala dan Satria menggunakan KB karena ingin memberi jarak antara anak pertama dengan anak kedua, agar tubuh Mala yang melahirkan secara CS (cesar)  membutuhkan waktu rehat.


Satria sebagai suami tidak ingin istrinya menzalimi diri karena memaksakan hamil lagi setelah pasca operasi. 


"Bu--Bu."


"Hahahaha, kamu sangat menggemaskan Cha. Bunda sangat sayang sama kamu," ujar Mala sambil menciumi pipi sang putri dengan membabi-buta, sehingga membuat balita itu terkejang-kejang seking kegelian. 


Tawa renyah mereka membuat siapapun merasa gemas, perasaan yang dulu sendiri dan tidak dianggap sirna seketika. 


Hanya satu tujuan Mala saat ini, yaitu membahagiakan suami dan buah cinta mereka. Tidak ada hal yang lain yang seorang Mala inginkan, kecuali senyum kebahagiaan orang yang dikasihinya. 


"Ya Robb, berilah aku umur yang lebih. Karena aku ingin menikmati hari-hari esok dengan senyuman yang indah."


Doa Mala berharap agar Sang Pencipta mau membiarkan perasaan bahagia ini bisa terus ia nikmati. Walaupun Mala tahu bahwa tidak ada yang abadi didunia yang fana ini, hingga suara salam dan ketukan pintu mengagetkan wanita itu. 


Tok… .


"Assalamualaikum."


"Siapa yang bertamu?" batin Mala. 


Dengan tergesa-gesa Mala menuju pintu utama dengan Cahaya digendongnya, karena Mala tidak pernah melepaskan pandangannya sedikitpun dari sang putri. 


Betapa terkejutnya Mala ketika membuka pintu dan melihat seseorang yang sangat ia kenal kini tengah berdiri di hadapannya dengan senyuman yang mengembang bagaikan bulan purnama. 


"Kamu!"


.


.


.


...Bersambung ••• •...

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2