
Pagi-pagi sekali Satria dan Mala telah bersiap-siap untuk pulang, setelah solat subuh mereka berdua telah sibuk mengemas barang. Saat ini pasangan suami--istri tersebut ingin ke cafe Abdul untuk sarapan dan mengembalikan kunci pondok cinta yang mereka sewa. Bukannya senang, temannya Satria itu malah marah-marah kepada pasangan suami--istri tersebut hingga menarik perhatian pengunjung yang lain.
"Bro! Elo kenapa pulang, hah? Apa pelayan gue kurang? Atau gara-gara masalah Bapak gue yang labrak lo kemarin."
Antara kesal dan tidak enak hati, Satria hanya mampu menatap tajam temannya tersebut. Dia malu menjadi bahan tontonan orang-orang di sana, entah mengapa di pagi hari seperti ini banyak sekali pengunjung di cafe tersebut, padahal waktu matahari yang masih malu-malu menampakkan sinarnya.
"Gue ada urusan, Bro. Makasih atas pelayanannya selama gue ada di sini, oh iya, gue juga titip salam buat Ibu lo. Istri gue sangat suka masakan Beliau, tolong sampaikan permintaan gue. Wanita hamil memang butuh wanita yang hebat lainnya buat memahami keingginan cabang bayi."
Temanya itu yang tadi koar-koar kini menjadi bungkam seketika setelah Satria mengeluarkan kata-kata yang menohok. Tanpa basa-basi lagi, Satria yang masih menggengam tangan istrinya segera menarik wanita hamil itu untuk menjauh dari sana. Kesal dan marah menjadi satu, akan tetapi coba Satria kendalikan agar tidak terjadi hal yang akan membuatnya menyesal di kemudian hari.
Mereka berdua meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang berkecamuk, maksud hati ingin healing ini malah menjadi seperti ini. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Satria. Lelaki itu segera melajukan mobilnya meninggalkan pantai yang indah dan permai dengan perasaan yang dongkol. Mala yang melihat keadaan suaminya tersebut hanya diam, menurutnya biarlah sang suami merdamai dengan dirinya sendiri. Karena lelaki akan merasa tenang jika diam sejenak agar bisa berfikir jernih kembali.
Tidak terasa mobil yang dikendarai Satria dengan kecepatan sedang tersebut telah memasuki jalan raya, mereka hanya berteman dengan sunyi. Satria ataupun Mala hanya saling diam, tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua hingga mobil yang di kendarai oleh Satria mulai memasuki halaman rumah.
Ah, kata rumah memang selalu membuat semua orang tidak akan jauh darinya. Tempat ternyaman dan tenang yang bisa membuat penghuninya merasa di surga.
Satria segera mengeluarkan koper mereka dari bagasi mobil, sedangkan Mala segera melangkahkan kakinya menuju pintu. Namun, dia terkejut akan pintu rumah yang tidak dikunci, sehingga sebuah rasa curiga menghampirinya.
"Apa mungkin ada maling?" batin Mala seraya membuka lebar pintu tersebut. Wanita hamil itu melebarkan penglihatan, mengamati setiap sudut rumah.
"kamu baru pulang, Nak?"
Suara khas tersebut mengagetkan Mala, wanita hamil tersebut sampai terperanjat seking kagetnya.
"Bapak! Bapak ngapain di sini?" tanya Mala seraya mengusap dadanya yang berdebar-debar.
"Bapak jagain rumah kalian! Memangnya kalian kemarin kemana? Ko' tidak pamit? Bapak jadi khawatir," jelas Udin seraya menatap putrinya penuh rasa cemas. Dia merasa tidak tenang selama kepergian Mala dan Satria yang menghilang tanpa kabar. Terlebih rumah yang kosong, setelah menghubungi sang besan yang ternyata telah kembali kerumah mereka, membuat Udin berinisiatif untuk menjaga rumah sang anak seraya menunggu kepulangan tuan rumah tersebut.
__ADS_1
"Itu, Pak!" Mala bingung mau menjawab apa? Hingga datang suaminya yang menjelaskan.
"Kami jalan-jalan ke pantai, Pak! Terimakasih telah jaga rumah, kami tidak sempat pamit. Bapak mengertikan?" ujar Satria seraya mengedipkan matanya menggoda sang mertua.
Udin yang pah hanya tersenyum seraya menyerahkan sebuah map coklat kepada Satria.
"Ini, titipan dari Papi kamu. Bapak cuma diberi amanah buat mengantarkannya, sama nanti sore kamu antar Mala ke alamat ini," jelas Udin seraya memberikan secarik kertas kepada Satria.
"Ini alamat apa, Pak? Sama apa isi map ini?" tanya Satria bingung.
Udin hanya mengangkat bahunya tidak tahu dan berlalu begitu saja, karena urusannya telah selesai.
"Bapak mau kemana?" tanya Mala mencegat sang Bapak.
"Bapak mau pulang, La. Kamu banyak-banyak istirahat, jangan terlalu kecapekan. Nanti, Bapak kembali lagi kesini. Kamu ingatkan kalau kita kemarin membahas masalah pernikahan Umi kamu sama Bapak? Malam ini kita akan membahas masalah itu," terang Udin sambil tersenyum.
Udin tersenyum menanggapi ucapan sang putri dan pergi berlalu.
Satria menarik koper yang dibawanya tadi masuk kedalam kamar, ia merasa lelah dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar.
Mala melihat keadaan suaminya tersebut segera mendekat dan berkata, "Kak, malam ini kita akan membahas masalah pernikahan Bapak dengan Umi."
Satria hanya diam tidak menanggapi ucapan istrinya tersebut, dia mendengar percakapan Bapak dan Mala tadi. Namun, ia tidak menimpanya. Berat sekali ujian hidup di dunia ini, baru ingin healing. Namun, kembali lagi kehidupan yang nyata.
Mala yang melihat suaminya yang uring-uringan akhirnya menegur pelan lelaki itu seraya mengelus lengan Satria. Wanita hamil itu mencoba mengembalikan mood suaminya yang menghilang setelah kepulangan mereka dari healing yang gagal.
"Kak, apa Kakak sudah membuka map yang diberi Bapak, tadi!"
__ADS_1
Satria mengalihkan penglihatan ke arah sang istri, dengan malas ia duduk dan mengambil map coklat yang tadi diletakkannya di atas meja kecil yang berada di dekat tempat tidur seraya membuka map itu di depan sang istri. Satria mengeluarkan isi dalam map tersebut dan membaca dengan teliti, hingga hembusan nafas berat terdengar dari hidung lelaki tersebut.
Mala yang penasaran akhirnya bertanya, "Kak, apa yang Kakak baca?"
"Ini! Surat hasil tes DNA, yang satu ini hasil pemeriksa kamu," jawab Satria dengan perasaan yang tidak menentu. Serumit inikah hidup hingga banyak orang memilih bunuh diri daripada berjibaku dengan hidup dunia? Semua kembali lagi kepada diri Manusia tersebut, apakah mereka menggenggam iman atau tidak? Karena hanya Manusia yang beriman yang mampu melewati ujian hidup dengan sabar dan ikhlas.
Mala mengambil kertas yang dipegang oleh suaminya, ia membaca dengan seksama poin-poin penting dalam kertas tersebut. Hingga ia bisa menyimpulkan suatu hal.
"Kak, disini menjelaskan bahwa Papi Ikbal adalah ayah biologis, Kakak? Berarti Mami salah mengira kalau Pak Marcel ayah biologis Kakak?" tanya Mala penasaran, menunggu jawaban suaminya yang memasang wajah kusut.
"Iya, di situ tertulis jika 98 % cocok," jelas Satria dengan wajah malasnya.
"Seharusnya Kakak senang dong!" jelas Mala menyemangati sang suami.
Satria menyerahkan selembar kertas yang dari tadi membuatnya memasang wajah tidak enak kepada sang istri, Mala segera mengambil selembaran kertas tersebut dan membaca dengan teliti hingga kertas tersebut jatuh ke lantai.
"Tidak mungkin!"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1