
"Kakek!"
Semua mata tertuju ke tempat tidur di mana ada Mala yang ternyata telah sadarkan diri dari efek obat bius setelah operasi tadi pagi.
"Kakek?" batin Satria.
Satria menatap istrinya dengan tatapan penuh akan rasa penasaran
"Kakek, kesini," pinta Mala dengan manja. Sebenarnya Mala sudah sadarkan diri sedari tadi, akan tetapi ia masih merasa agak pusing dan membuat wanita hamil itu belum ingin menyapa keluarganya tersebut.
Setelah Mala merasa agak lebih baik, ia melihat sosok yang sangat dikenal dan ia rindukan. Membuatnya ingin segera berbicara dengan orang tersebut, akan tetapi Mala urungkan ketika sang suami memberi pertanyaan yang membuatnya merasa sedih. Ternyata selama ini sang suami belum mengenal semua keluarganya.
Mala yang memang mengenal sifat dan watak sang kakek hanya mampu terkekeh mendegar pertanyaan yang keluar dari mulut sang kakek yang memang memiliki karakter suka menjebak lawan bicaranya dengan tepat.
Lelaki paruh baya itu mendekati tempat tidur Mala dan duduk sambil menempelkan telapak tanganya di dahi wanita hamil tersebut lalu berkata, "Kamu tidak demam? Berati tidak sakit."
Mala terkekeh geli, jika saja perutnya tidak sakit setelah operasi tadi? Mungkin sekarang tawanya akan pecah seketika mendegar ledekan sang kakek.
"Kamu sudah sehat? Segera pulang, kakek rindu sama kamu. Kakek mau kita main catur lagi seperti dulu."
Tanpa disadari, air mata lelaki paruh baya itu terjatuh begitu saja tanpa dipinta. Mala yang melihat hal tersebut akhirnya menghapus jejak bening yang menempel di pipi sang kakek dengan lembut.
"Kamu tidak sedang main air?"
Mala menggeleng cepat dan menunggu pertanyaan selanjutnya dari sang kakek.
"Lalu, kenapa selang ini menempel di sini? Kalau kamu mau main air? Nanti kita ke kolam renang ya?"
Pertanyaan konyol menurut Satria, dia tidak bisa menahan diri lagi dan memghampiri istrinya lalu menarik kursi untuk duduk.
"Nur, kamu baik-baik saja 'kan? Atau ada bagian mana yang sakit? Atau perlu aku panggilkan Dokter?"
Pertanyaan beruntun yang suaminya tanyakan membuat Mala menggelengkan kepala karena memang merasa baik-baik saja, akan tetapi berbeda dengan sang kakek yang menaggapi dengan ketus.
__ADS_1
"Siapa Nur? Panggil nama orang yang baik dan juga benar. Jangan bikin orang tua susah memberi nama yang baik buat anaknya, malah diganti sesuka hati."
Satria tidak bisa menahan diri lagi mendegar ucapan lelaki paruh baya dihadapanya, sedari tadi ia menahan dan sekarang sudah ingin meledak. Mulut sang kakek yang seperti gunung merapi, ketika terbuka langsung menyemburkan larva panas.
"Namanya Nur Mala Sari binti Samsudin istri Satria Putra Permata."
Wajah sang kakek seketika menjadi pias, setelah mendegar nama Satria Putra Permata.
"Apakah kamu anaknya Ikbal Setiawan?" tanyanya panik.
Satria menggagguk membenarkan ucapan sang kakek.
"Apa Kakek mengenal suamiku?" tanya Mala pelan. Sang Kakek menatap Mala dengan tatapan nanar dan berkata, "Kamu tahu jika janji adalah hutang?"
Satria benar-benar kesal akan lelaki paruh baya yang katanya kakek sang istri, sebab ketika ditaman sang kakek juga memberi pertanyaan yang sama kepadanya.
"Iya, saya tahu. Janji adalah hutang dan hutang wajib dibayar jika mampu, tapi saya tidak memiliki hutang sama Anda. Istri saya juga," balas Satria mengebu-ngebu.
"Kalau begitu, bayar janjimu."
Satria benar-benar muak, hingga ia mengeluarkan kata-kata kasar kembali.
"Anda siapa? Dan mau apa? Sudah aku bilang kalau aku dan istriku tidak memiliki hutang dan janji dengan anda."
"Panggil saya Kakek, bukan anda," balasnya ketus.
Satria terasa tidak bisa menahan diri dan ingin menghajar lelaki paruh baya itu. Namun, tindakannya ditahan oleh sang bapak.
"Satria! Apa yang ingin kamu lakukan?" Udin dengan sigap menahan tangan Satria yang ingin memukul kakeknya Mala.
Udin yang sedari tadi diam memperhatikan telah melihat jika keadaan tidak konduktif lagi.
"Lelaki ini sangat menyebalkan, Pak!" teriak Satria saking kesalnya.
__ADS_1
"Lelaki ini! Sudah saya bilang, panggil saya kakek. Dasar anak tidak beradab!" hardiknya membuat Mala angkat bicara.
"Kakek! Dia suamiku yang berarti aku boleh membelanya, kakek mau melawanku."
Semua orang membeku mendengar ucapan Mala, begitu juga dengan sang kakek yang segera menghadap cucunya tersebut dan berkata, "Jika kamu tidak sakit? Maka dengan senang hati kakek terima tantanganmu."
Mala tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan sang kakek, "Aku terima tantangannya, tunggu aku keluar dari sini."
"Oke, tapi kakek mau kamu didik dulu suami kamu ini," sambil menunjuk Satria yang duduk disampingnya.
"Tentu Kakek Sulaiman," terang Mala menerima tantangan sang kakek.
"Sulaiman?" ucap Satria seakan mengenal nama itu.
"Iya, nama saya Sulaiman adik almarhum Ibrahim. Saya kakek istri kamu!" bentaknya.
"Berarti anda… ," ucap Satria segera dipotong oleh sang kakek.
"Anda! Anda! Sudah saya bilang panggil kakek!" bentaknya.
"Maaf, kakek Sulaiman. Nama kakek tidak asing buatku," terang Satria seolah mengingat nama sang kakek.
"Ya jelas kamu tidak asing! Kalau saya ini adalah teman baik kakek kamu, Malik."
Deg… .
"Maksud, kakek?"
.
.
.
__ADS_1
...*Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...