Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Kabar Kehamilan Mala


__ADS_3

Setelah melewati negosiasi yang rumit, akhirnya Mala mau di ajak ke dokter kandungan dengan syarat Umi Azzahra harus ikut menemani. Ikbal sebagai Mertua pun akhirnya ikut serta dengan pasangan tersebut ke RS sebab rasa penasaran yang dia rasakan.


"Mami enggak ikut?" tanya Ikbal kepada istrinya yang masih duduk sambil menonton televisi di ruangan tamu. Dia heran padahal sudah diberitahukan kalau mereka akan pergi rumah sakitsetelah solat magrib. Akhirnya Ikbal duduk di samping sang Istri sambil menunggu Satria dan Mala.


"Enggak, Mami mau di rumah aja," balasnya acuh.


"Kak, mana Umi?" tanya Mala sambil berjalan berdampingan dengan Suaminya.


"Nanti kita jemput di rumahnya," jelas Satria yang sebelumnya telah menelpon Umi Azzahra memberitahukan prihal keinginan mereka ingin ke rumah sakit guna memeriksa sang istri.


"Mami, engak ikut?" tanya Satria ketika melihati sang Mami yang asik menonton televisi di ruang tamu.


"Engak," balas Marissa acuh.


"Jangan hiraukan Mamimu, ayo kita berangkat."


Ikbal pun berlalu setelah mengucapkan hal itu, menagapi istrinya yang sulit untuk perduli dengan keadaan sang Menantu. Ikbal sudah hafal akan tabiat sang istri walau dengan susah--payah dia menutupi dengan pura-pura baik, namun hal itu tidak akan bertahan lama.


Satria mengajak istrinya untuk pamit kepada sang Mami sambil mencium punggung tangan Marissa.


"Assalamualaikum, Umi." Satria mengucapkan dan mengajak sang istri berlalu meninggalkan Marissa yang masih diam tidak bergeming.


"Kak, Mami kenapa?" tanya Mala penasaran melihat sikap sang mertua yang tiba-tiba baik dan tiba-tiba dinggin.


"Jangan hiraukan."


Satria malas jika harus mengungkit sikap Maminya yang suka berubah-ubah seperti bunglon saja, pikirnya.


"Sat---," Ikbal tidak meneruskan panggilanya, namun menggunakan ekor matanya memberi kode kepada sang Putra. Satria paham akan hal itu dan mengangguk menagapi, ketika ujung matanya melihat kedatangan Suci.


"Suci, kamu baru pulang?" tanya Satria basa-basi.


"Iya, Bang," jelas Suci ketika berpasang dengan mereka.


"Kak," lirih Mala, entah kenapa dia tiba-tiba mual mencium aroma tubuh Suci yang berkeringat.


"Ueekkk, kak aku enggak tahan," ucap Mala sambil berlari ke arah mobil guna menghindari Suci. Suci hanya diam melihat tingkah Mala dalam hati dia hanya mampu membatin.


"Apa salahku?" batin Suci sedih.


"Jangan di tanggapi ya, Suci? Mbakmu sepertinya hamil," jelas Satria ketika melihat gurat kesedihan di wajah gadis tersebut.


Suci terkejut mendegar berita yang baru dia dengar.


"Benarkah, Bang?" tanya Suci antusias.


"Inssya Allah, kamu doa kan saja ya."


Suci hanya mengagguk menagapi ucapan Satria.


"Kak, buruan," teriak Mala dari dalam mobil sambil membunyikan klakson.

__ADS_1


"Kami berangkat dulu ke rumah sakit, kamu jaga rumah dan Mami," jelas Satria sambil berlalu.


"Mami?" batin Suci.


Suci hanya memandang mobil itu pergi berlalu, dalam hatinya selalu mendokan yang terbaik untuk Mala. Dia paham kalau Mala kadang risih akan keberadaannya sebab takut Satria sampai melakukan hal yang tidak di benarkan dalam agama. Suci sangat tahu kalau sebenarnya Mala itu perempuan yang baik, sebab telah mempercayakan sepenuhnya mini market kepada Suci yang hanya orang luar dan memberikan Suci tempat tinggal.


"Semoga Mbak Mala selalu bahagia, amin," batin Suci berdoa dan berlalu masuk.


.


.


.


Di rumah sakit.


Setelah menjemput sang Umi mereka berangkat ke rumah sakit Harapan Bangsa, dengan Satria yang mengemudikan.


"Umi, sakit enggak diperiksa?" tanya Mala sambil menatap sendu sang Umi yang duduk di sampingnya.


"Enggak lah, Sayang," jawab Azzahra sambil mengusap lembut hijab Mala.


"Kalau aku enggak hamil bagaimana?" lirih Mala. Sejujurnya dia senang dan takut dalam waktu yang bersamaan ketika mendegar pernyataan kalau dia hamil. Mala senang sebab apa yang di inginkan oleh Suaminya akan terwujud. Disisi lain dia takut akan kehamilannya nanti kalau akan membawa mala--petaka seperti Almarhumah sang Ibu.


"Kalau tidak jadi hamil? Mintak di buatkan lagi sama Suamimu tuh," ucap Azzahra sambil menunjuk Satria dengan bibirnya.


Ikbal yang sedari memperhatikan kedekatan mereka menakap kalau Umi ini orang yang agamis, sebab dari cara wanita itu berpakaian dan bersikap ketika mereka menjemput tadi. Apa lagi ketika harus meminta izin Azzam sang putra yang berjalan alot karna pemuda itu tidak memberi izin Uminya keluar malam-malam. Kalau bukan Mala, maka yang lain tidak akan bisa. Sebegitu besar cinta dan kasih sayang mereka, membuat Ikbal takjub.


"Ehemm, Umi, kita di dalam mobil," ujar Satria memberi kode sang Umi.


Satria kesal akan sang Umi, padahal dia tahu kalau wanita itu paham akan kodenya.


"Papi, punya teman yang masih singgel?" tanya Satria mengalihkan perhatian semua yang ada di mobil.


"Punya, emangnya buat apa?" tanya Ikbal heran akan pertanyaan Satria.


Satria menyeringai, dan hal itu di lihat oleh Azzahra.


"Mala, boleh Umi pukul Suamimu?"


"Untuk apa, Umi?" tanya Mala binggung.


"Umi takut ya?" ejek Satria yang tahu kalau sang Umi mau menjadikan istrinya sebagai benteng.


Ikbal yang sedari tadi diam dan memperhatikan menagkap satu hal.


"Satria, Umi kalian singel?"


Entah kenapa? Mendegar pernyataan yang kurang tepat sang Papi membuat Satria tertawa.


"Hahahah,"

__ADS_1


"Hentikan kak, kita di dalam mobil," ujar Mala memperingatkan sang Suami.


Azzahra hanya mampu menghembuskan nafas kasar jika menghadapi pasangan suami-istri tersebut.


"Umi janda Pi, bukan singel!" jelas Mala membuat Ikbal terkekeh pelan, berbeda dengan Azzahra yang tersenyum masam.


"Ina lillah," ucap Azzahra kesal.


"Siapa yang menibggal, Umi?"


"Sat, kenapa semakin hari Istrimu ini semakin menyebalkan?" tanya Azzahra seking kesalnya.


Satria hanya terkekeh pelan, dia tidak ada niat membalas ucapan sang Umi, sebab mereka sudah mulai memasuki halaman rumah sakit.


"Kak," lirih Mala yang tidak mau turun.


Mobil yang mereka tumpangi sudah terpakir di lobi rumah sakit.


"Ayo sayang, kamu ko jadi lemah begini? Mana Mala Umi, yang pemberani?" ujar Azzahra membujuk Mala.


"Mala, ayo kita masuk? Kasihan Umi kamu capek-capek kesini menemani kamu," jelas Ikbal mencoba membujuk sang Menantu.


"Nur, menjadi seorang ibu itu mulia loh! Hanya kaum perempuan yang bisa mengandung,"


Azzahra terkekeh mendegar ucapan Satria yang menurutnya lucu, Satria yang melihat hal itu lalu menatap sang Umi. Seolah-olah meminta bantuan.


Azzahra paham akan kode tersebut dan menarik pelan tanggan Mala keluar mobil.


"Ayo Sayang, kasihan Dokter Asmara yang sudah menunggu."


Akhirnya Mala mengalah dan mengikuti langkah sang Umi masuk kedalam rumah sakit, sebab sebelumnya sang Suami telah menghubungi Dokter Asmara untuk konsultasi. Di dalam ruangan sang dokter telah menunggu mereka tidak perlu untuk mendaftar dan langsung bertemu sang dokter.


"Silahkan berbaring di sini," pinta Dokter Asmara yang berdiri di samping kasur rumah sakit tempanya ingin memeriksa sang pasien.


Mala mengikuti perintah sang dokter dengan mengenggam erat tanggan sang Umi seolah tidak mau terpisah, sedangkan sang Suami dan Mertuanya hanya duduk memperhatikan dari bangku yang terletak di sana.


"Kapan terakhir menstruasinya, Bu?" tanya sang dokter sambil memberi gel guna mengarahkan alat USG di perut Mala.


"Sudah 2 bulan," jelas Mala.


"Oh, iya berati hampir 8 minggu," jelas sang dokter sambil menyudahi aktifitasnya dan bangun menuju meja kerja yang terdapat dua lelaki yang duduk dihadapannya. Sambil menulis hasil pemeriksa dan resep vitamin untuk pasien.


"Dok, bangaimana hasilnya?" tanya Satria tidak sabaran.


"Selamat Pak, anak Bapak kembar."


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung .......


*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*


__ADS_2