
"Hentikan!" teriak Mala keras sambil menatap semua orang yang ada di sana.
"Mbak! Kenapa kalian jahat sama aku?" isak Suci sambil mengusap wajahnya yang basah dengan lelehan cairan bening yang sedari tadi ia tahan. Namun, akhirnya tumpah jua.
"Aku adalah cermin, buat semua orang yang berhadapan denganku! Seperti apa aku diperlakukan? Maka seperti itu pun aku akan membalasnya," jawab Mala dengan kilatan kemarahan.
Flashback on
Sebenarnya Mala terbagun ketika ponsel miliknya berdering nyaring, ponsel yang berada di atas meja kecil di dekat tempat tidur itu berdering tiada henti. Mala segera mengambil benda pipih itu dan melihat layar ada panggilan dari abangnya.
"Halo, ada apa Bang?" tanya Mala sambil menahan rasa kantuknya dan berkali-kali menguap menandakan jika tidurnya yang belum puas.
"Halo, Dek. Abang cuma mau kasih tahu," Azzam menyeda ucapnya guna menarik nafas sebentar.
"Apa?" tanya Mala yang sudah penasaran, ia paling tidak bisa menerima ucapan yang terpotong.
"Gini Dek, tentang Suci! Apa gadis itu masih ada di rumah kalian?"
Mala membuang nafas kasar, ia benci sekali jika abangnya bertele-tele seperti ini, " Masih, emangnya kenapa?"
Azzam hanya nyengir mendengar nada kesal dari adiknya tersebut, "Usir saja gadis itu!"
"Kenapa emangnya? Ahhh, aku boleh meninju abang nanti!" balas Mala yang sudah sangat kesal di permainkan oleh abangya tersebut.
"Hahahahhah… ,"
"Abang!" bentak Mala semakin kesal.
"Oke, oke, jangan marah-marah, Dek. Nanti, cepat tua!" Azzam berusaha mencairkan suasana sebelum meneruskan ucapnya.
"Dek, Suci itu bukan nama aslinya. Ada orang di belakang gadis itu, kamu harus hati-hati."
Wajah Mala menegang setelah mendengar penuturan abangnya tersebut, akan tetapi samar-samar ia mendengar suara keras di luar kamarnya.
"Bang, nanti aku telepon lagi," ucap Mala sambil memutuskan sambungan secara sepihak. Wanita hamil itu keluar kamar dan melihat mertuanya yang sedang memaki Suci di dapur. Amarah kembali menyerukan dalam hati Mala, ia segera mendekat dan membuat semua orang yang ada di sana terkejut, terlebih Suci.
Flashback off
"Maksudnya Mbak apa?" tanya Suci dengan tubuh yang bergetar mendegar ucapa wanita hamil dihadapannya.
__ADS_1
"Nur!" panggil Satria seraya mendekati istrinya tersebut, ia tidak ingin wanita hamil itu kenapa-kenapa jika marah-marah.
"Mengaku? Atau aku usir kamu!" bentak Mala membuat tubuh Suci semakin bergetar hingga seketika gadis itu pingsan.
"Suci!" teriak Satria panik.
"Biarkan saja, Sat!" celetuk Marissa tidak perduli.
"Kalian, kenapa tega sekali!"
Satria tidak paham dengan sikap dua wanita yang di sayangainya tersebut, entah di mana mereka meletakan hati yang mereka miliki? Sampai tega melihat Suci yang tidak sadarkan diri.
"Kakak, mau apa?" tanya Mala yang melihat suaminya yang ingin menggangkat tubuh Suci.
"Dia pingsan, Nur! Aku akan mengangkatnya ke kamar."
Satria mempercepat gerak tangannya dan mengedong Suci tanpa memperdulikan tatapan mengintimindasi dari istrinya. Perlahan Satria meletakan tubuh gadis itu ketika sudah sampai di kamar lalu meninggalkan Suci sendiri walau dengan keadaan masih belum sadarkan diri.
"Maafkan kami," lirih Satria sebelum menutup pintu.
"Untuk apa mintak maaf?"
Satria di buat terkejut mendengar ucapan Mala yang menatapnya dengan tajam, raut wajah wanita hamil tersebut memancarkan kemarahan yang kentara.
"Jika dia baik? Maka, aku akan baik. Namun, Suci termasuk gadis yang tidak baik," balas Mala dengan tegas.
Satria mengembuskan nafasnya panjang, ia tahu sekali jika istrinya sudah memukakan pendapat akan sulit dielak.
"Aku lapar, mau makan siang."
Menghindari adalah cara terbaik buat Satria, dari pada berdebat dan berakhir ricuh. Satria lebih menjaga perasaan istrinya daripada membuat wanita hamil itu menjadi lebih emosi.
Mala hanya mengekor dari belakang, ia tahu jika amarahnya telah membuat Suci pingsan. Namun, wanita hamil itu tetap pada pendiriannya yang akan mengusir Suci jika gadis itu tidak mau mengakui semua yang telah dia semunyikan.
Dari kejadian siang tadi hingga malam harinya, Suci tidak keluar dari kamar. Satria dan Mala lebih banyak diam begitu juga Ikbal yang memang sangat lelah mengurusi semua berkas yang telah dialih namakan. Lain halnya dengan Marissa, wanita itu tidak henti-hentinya mengembangkan senyuman terbaiknya.
"Mami kenpa?" tanya Ikbal yang tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.
"Emangnya, Mami kenapa?" tanya Marissa balik.
__ADS_1
"Sudalah," Ikbal saat ini sedang tidak ingin berdebat, ia mengalihkan perhatianya ke pintu kamar sang putra yang tertutup rapat.
"Mi, apa ada masalah yang Papi tidak tahu?"
Marissa hanya mengangkat bahu lalu berlalu meninggalkan suaminya di ruang tamu. Ikbal yang melihat tingkah istrinya semakin yakin, jika telah melewatkan sesuatu yang entah apa itu.
"Eeemmm, semoga hanya perasaanku saja," batin Ikbal.
***
Di kamar Satria dan Mala, kedua pasangan suami--istri itu saling mendiamkan satu dengan yang lain.
"Ciri-ciri orang yang berasifat Dayus adalah tidak adanya perasaan cemburu terhadap pasangannya. Ketika di hari akhir nanti, Allah tidak akan menatap wajah orang yang memiliki sifat Dayus tersebut."
Sindiran yang sangat tajam keluar dari mulut Mala, berpura-pura membaca buku. Padahal wanita hamil itu tengah menyingung suaminya yang sibuk dengan leptop, entah apa yang dikerjakan oleh lelaki itu. Namun, Mala merasa diacuhkan.
"CEMBURU, satu kata yang memiliki banyak maksud dan tujuan tertentu. Ada cemburu buta, yaitu cemburu yang tidak melihat dengan mata hati. Ada cemburu sosial, yaitu cemburu jika orang di lingkungannya merasa senang atau bahagia atas apa yang telah dicapai, dan berbagai macam lagi cemburu."
Satria hanya membalas nyanyian istrinya dengan nyanyian pengetahuan yang ia miliki, ketika Satria merasakan sentuhan dibagian tanganya ia langsung menatap wanita yang duduk disampinya tersebut. Mereka yang sama-sama duduk di tempat tidur sambil bersandar, setelah melakukan rutinitas seperti biasanya. Namun, malam ini terasa agak berbeda disebabkan oleh kejadian tadi siang.
"Kak, aku ingin Kakak mengusir Suci!" terang Mala sambil menatap nanar suaminya.
"Nur! Ini rumah kamu? Jadi, kamu yang berhak mengusirnya. Bukan aku!" jelas Satria yang sangat tahu posisinya di rumah ini.
"Kakak itu KEPALA KELUARGA! Kakak yang lebih berhak! Menjadi seorang Imam itu adalah tugas Kakak, yang berati membawa aku kejalan yang benar. Jika, aku yang mengusir Suci? Maka, aku menjadi Imam! Bukan Makmum Kakak!"
Kata-kata yang keluar dari mulut istrinya penuh dengan penekanan, kata-kata itu menampar keras Satria. Ia paham jika saat ini istrinya tengah tunduk padanya, jika wanita hamil itu egois? Maka dia tidak perlu menyuruh Satria untuk mengusir Suci, sebab jika Mala mau sudah lama ia lakukan.
"Nur, maaf," lirih Satria yang sadar akan kesalahannya yang melupakan tugas sebagai seorang suami.
"Usir Suci? Namun, jika dia mau mengakui semua rahasia yang disemunyikan … ."
"Rahasia?"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung… ....
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...