
Seperti sebelumnya, Ikbal tidak memberitahukan kepulangannya membuat istrinya marah besar.
"Papi, siapa yang akan menjemput kita?" tanya Marissa sambil menyeret kopernya. Mereka yang baru keluar dari bandara, perjalanan yang jauh membuat wanita itu lelah dan ingin cepat pulang.
"Tidak ada," balas Ikbal sambil terus berjalan.
"Apa?" teriak Marissa berhasil menarik perhatian orang disekitarnya.
Ikbal hanya mampu mengembuskan nafas kasar, dia yang banyak pikiran ditambah istrinya yang selalu membuat kegaduhan membuat ia semakin frustasi. Jika, boleh memilih? Maka ia lebih memilih dimasukan ke penjara saja, dari pada harus menghadapi ujian berat seperti ini.
"Taksi!" teriak Ikbal menghentikan laju kendaraan umum itu.
"Papi!" teriak Marissa kesal diacuhkan oleh suaminya.
"Mau masuk, atau tidak?" tanya Ikbal yang sibuk meletakan koper miliknya di bagasi mobil taksi tersebut.
Mau, tidak mau? Marissa hanya bisa mengoceh, dia akhirnya masuk ke dalam taksi dan membiarkan kopernya begitu saja. Sedangkan Ikbal hanya menggeleng melihat tingkah istrinya, dia sudah terbiasa akan sikap wanita itu.
"Mau ke mana, Pak, Bu?" tanya sopir taksi tujuan kedua penumpangnya tersebut.
"Ke jalan merpati," jelas Ikbal.
Marissa hanya melotot mendengar ucapan suaminya.
"Tapi, Pi… ," belum selesai Marissa berbicara telah dipotong suaminya.
"Papi capek Mi, kita ke rumah anak-anak dulu," jelas Ikbal sambil membuang nafas panjang. Sabar adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilakukan.
Setelah mendengar jawaban suaminya, Marissa memilih diam. Dia tahu suaminya juga merasa lelah, dia tidak ingin memperpanjang dan memilih mengikuti kemana lelaki itu akan pergi.
"Siapa kamu SS?" batin Ikbal dan Marissa menduga-duga sambil menatap keluar jendela.
"Mohon maaf, jadi kita ke jalan merpati?" tanya sopir taksi yang sedari belum menggerakan mobilnya disebabkan pertengkaran kedua penumpangnya.
Ikbal dan Marissa baru tersadar, bahwa mobil belum bergerak.
"Jadi Pak!" teriak mereka kompak.
Sang sopir hanya tersenyum melihat pasangan yang duduk di jok belakang dan membawa laju mobilnya meninggalkan bandara menuju jalan merpati.
Banyak masalah yang menjadi misteri, dari siapa ayah biologis Satria dan siapa SS yang mengambil alih perusahaan Permata Grub, akan tetapi satu hal yang menjanggal di pikiran Ikbal. Apa motif SS yang hanya mengambil perusahaan Permata Group yang di Amerika, akan tetapi meninggalkan cabangnya. Jika, dia orang yang mengejar harta? Maka, dia akan mengambil semuanya tanpa menyisakan satu hal pun. "Siapa kamu SS?" batin Ikbal.
__ADS_1
Waktu berjalan begitu cepat, hingga tidak terasa mereka sudah hampir sampai di rumah Satria dan Mala. Mobil mulai mengarah masuk lebih dalam.
"Pak, berhenti di rumah itu!" perintah Ikbal yang mendapat anggukan kepala sang sopir.
Setelah terparkir cantik, tanpa aba-aba Marissa keluar begitu saja meninggalkan suaminya yang masih di dalam mobil.
"Dasar, wanita!" umpat Ikbal kesal. Namun, masih bisa didengar sopir taksi.
"Mari saya bantu, Pak! Ujarnya menawarkan bantuan seraya membuka bagasi mobil.
"Terimakasih," balas Ikbal sambil mengeluarkan koper miliknya dan sang istri.
"Taruh disitu saja!" perintah Marissa tidak suka dengan gaya berdiri sambil melipat tangan di dada.
Sang sopir hanya menganggukan dan meletakan koper yang tadi dia pegang tetap di tempatnya. Sedangkan Ikbal hanya mampu menghela nafas.
"Ini ongkosnya," ujar Ikbal sambil menyerahkan uang ratus ribu dalam jumlah yang banyak.
"Mohon maaf, Pak. Ini terlalu banyak," jelasnya sambil mengembalikan uang tersebut, sebab tidak enak hati.
"Ambilah, itu rezeki untuk keluarga Anda," jelas Ikbal sambil berlalu.
"Semoga Anda selalu dalam Rahmat Tuhan," batin sang sopir berdoa sambil memandang punggung penumpangnya yang menjauh sebelum masuk ke dalam mobil dan kembali melanjutkan mencari rezeki yang Thayyib (baik)
"Pintunya tertutup," kilah Marissa yang sebenarnya yang merasa tidak nyaman berada di rumah itu. Menurut Marissa rumah anaknya sungguh kecil dan tipe rumah kuno.
"Makanya, ucapkan salam," jelas Ikbal sambil mengetuk dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Tidak berapa lama pintu terbuka dan menampakan Azzahra yang menatap terkejut kepada tamu tidak diundang.
"Kalian kenapa ada di sini?" tanyanya polos yang berhasil membuat mulut laknat Merissa mengeluarkan racun berbisa.
"Ini rumah Putra saya! Seharusnya saya yang menanyakan kenapa Anda ada disini?"
Azzahra hanya tersenyum menanggapi ucapan bedanya tersebut, dia sudah terbiasa akan segala ucapan pedas.
"Pak Ikbal, apa kabar?" tanya Azzahra mengalihkan perhatiannya ke lelaki tersebut.
"Alhamdulillah, baik," jawab Ikbal sambil tersenyum membuat Marissa marah besar.
__ADS_1
"Hey kamu! Wanita penggoda! Jangan harab bi …," ucapan Marissa terpotong oleh teriakan seseorang dari dalam.
"Umi! Siapa yang--," Satria yang melangkah menuju pintu setelah memanggil Uminya mematung seketika ketika melihat siapa yang datang.
"Satria!" panggil Marissa sambil menghampiri putranya dan memeluk tubuh itu dengan erat. Rindu, hanya kata itu yang mampu membuat seseorang menjadi melepaskan emosi dengan mudah setelah bertemu.
"Apa kabar, Sayang?" tanya Marissa sambil mengurai pelulannya dan menatap sendu wajah putranya.
"Tidak baik!" jelas Satria sambil menatap Maminya. Dia sudah sangat penasaran dengan siapa ayah biologisnya.
Marissa hanya mampu menelan silvernya kasar, dia paham maksud dari ucapan putranya tersebut.
"Sat, boleh bantu Papi?" tanya Ikbal yang kesulitan membawa dua koper. Namun, lebih tepatnya membantu istrinya menghindar pertanyan Satria yang belum saatnya ditanyakan.
"Umi, bisa kembali membantu Nur?" tanya Satria ketika melewati wanita itu yang masih didepan pintu.
"Ah, iy--ya," jawab Azzahra tergagap sambil berlalu menjalankan perintah Satria.
"Sat, jangan sekarang bahas itu," bisik Ikbal pelan ketika menyerahkan koper milik istrinya kepada Satria yang mendapat anggukan oleh sang putra.
Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa malam pun telah tiba. Setelah sholat magrib dan isya berjamaah, mereka berkumpul di ruang tamu. Ketika ingin memulai pembicaraan, tiba-tiba pintu diketuk dengan keras.
"Siapa yang bertamu?" tanya Ikbal heran.
"Perasaan kami tidak membuat janji dengan siapa pun, Pi," jelas Satria yang ikut heran.
"Mungkin Bapak," celetus Mala yang membuat semua orang menatapnya.
"Biar Umi yang buka," jelas Azzahra sambil bangun dari duduknya. Ketika Azzahra telah sampai di depan pintu dan membukanya. Dia dikejutkan oleh beberapa orang berpakaian hitam dengan Udin dengan keadaan mengerikan.
"Di mana Sulastri!" teriak salah seorang dengan sangar. Mereka mendapatkan informasi bahwa gadis yang bernama Sulastri berada di rumah ini, mereka yang diberi tugas oleh bos mereka untuk membawa gadis tersebut harus berhasil. Jika, mereka gagal? Maka mereka akan mendapatkan masalah besar nantinya. Hal itu tidak boleh sampai terjadi pikir lelaki itu.
"Siapa Sulastri?"
.
.
.
...Bersambung… ....
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...