
"Cantik..." Gumam Satria terpana akan sang istri.
Semua tamu undangan datang seling berganti Mala dibuat capek seharian harus berdiri di samping sang suami yang sangat menikmati acara tersebut tanpa beban.
Maklum Mala gak suka acara keramaian berbeda dengan Satria yang memang sudah sering hadir di acara seperti itu.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 yang berati sudah sore, Mala memperhatikan setiap sudut yang hanya ada keluarga inti menandakan tidak ada tamu luar yang akan datang.
"Kak kita udahan yuk, aku capek nih" Bisik Mala di samping Satria.
Satria hanya menganggukan kepala tanda menyutujui permintaan sang istri. Dia kasihan melihat Mala yang merasa gerah akan pakaian pengantin yang di pakainya.
Tiba-tiba entah datang dari mana banyak sekali iringan mobil terdengar dari luar, terdengar juga suara sirine mobil polisi membuat Mala dan Satria urung turun dari pelaminan dan memperhatikan pintu masuk.
Banyak sekali orang yang masuk berpakaian jas hitam membuat umi Azzahra mendekat kearah dua mempelai untuk menanyakan siapa yang menggundang orang-orang itu datang.
"Ini tamu siapa nak? "
Tanya umi Azzahra sambil menatap kedua insan yang ada di depannya bergantian.
Namun hanya gelengan kepala yang dia dapatkan hingga suara seseorang terdengar memanggil satria.
"Satria Putra Permata"
Ucap lelaki itu sambil mendekati mereka.
"Opa... " Lirih Satria.
"Ayo pulang sayang"
Ucap perempuan disamping lelaki itu.
Tapi Satria menggelengkan kepala tanda menolak ajakan mereka.
Banyak yang berbisik-bisik karna mereka tahu siapa yang datang beliau adalah Malik Permata pengusaha lengendaris yang namanya masih bersinar di bidang pertambangan.
Sang opa yang di dampingi oma nya membuat Satria getir takut dia tahu betul bagaimana sifat kedua orang tua maminya itu.
"Kalian mau berapa uang ha??? Aku bisa berikan asalkan kalian serahkan cucuku, dia tak pantas menikah dengan babu"
Ucap oma Yolanda dengan angkuhnya sambil menghina Mala.
"Simpan saja uang anda nyonya karna uang anda tidak akan di bawa MATI" Sakras Mala tajam.
"Kau.... "
Ucap oma yolanda geram sambil menunjuk Mala.
"Hentikan oma, dia istriku kalau oma menyakitinya, aku tidak akan tinggal diam" Ucap Satria ikut terpancing.
"Lihatlah sayang, mereka membawa pengaruh buruk untuk cucu kita belum apa-apa cucu kita sudah berani melawan perintah kita" Adu oma Yolanda pada sang suami.
"Satria ayo pulang" Ucap opa Malik.
__ADS_1
"Baik lah tapi aku juga akan membawa istriku pulang, sebelumnya aku ingin izin pamitan pada umi dan bapak" Pinta Satria sopan pada sang kakek yang mendapat agukan kepala dari lelaki itu.
"Tapi sayang" Yolanda ingin protes.
"Diam" Hardik sang suami yang berati tidak boleh di bantah yang akhirnya ia bungkam seketika.
"Ayo Nur kita ganti pakaia dan habis itu pamitan"
Pinta Satria yang di balas agukan kepala sang istri.
Hilanglah sepasang pengantin baru itu masuk kedalam meninggalkan empat orang yang berbeda gender tersebut.
"Maaf saya lancang tapi apa bapak ini, bapak istri cucu saya?"
Tanya pak Malik sopan pada pak Udin yang dibalas angukan kepala.
Beliau beralih memandang perempuan berhijab syari dan bertanya lagi.
"Apa anda ibunya?"
Tapi dia mendapat gelengan kepala yang membuatnya binggung dan bertanya lagi.
"Jadi dimana ibunya? Karna saya ingin meminta izin membawa istri cucu saya untuk tinggal dengan saya"
"Dikuburan"
Ucap umi Azzahra yang memang hatinya dongkol akan sikap istri lelaki yang didepannya tersebut.
"Innallillahii.... "
Ucapan bijak yang keluar dari mulut pak Udin membuat umi Azzahra merasa geli sendiri, tapi tidak untuk oma Yolanda perempuan itu amat tersinggung.
"Terimakasih banyak pak saya sangat bersyukur kalau cucu saya diterima dengan baik disini, dan mohon maaf kalau saya tadi tidak bisa hadir diacara pernikahannya karna kami baru datang dari Amerika" Ucap pak Malik menyesal.
"Dan anda langsung ingin pergi? "
Tanya umi Azzahra yang membuat pak Udin melotot kepadanya.
"Maaf bu,,, Kalau saya lancang tapi saya memang harus membawa dua anak itu pergi karna maminya Satria koleps, saat ini koma di RS"
Ucap pak Malik memberitahu maksud dan tujuannya supaya tidak ada salah paham.
"Apa....?? "
"Satria....."Ucap mereka serentak.
"Kenapa opa tidak memberitahu aku sih? "
Tanya satria sambil berliang air mata, tas yang dipegang sampai terjatuh untung ada sang istri yang sigap.
"Maaf sayang opa juga baru terima kabar dari bawahan opa makanya opa langsung terbang kesini"
"Ayo Nur kita gak banyak waktu, kami ikut mobil yang mana opa? "
Tanya Satria dengan gelisah.
__ADS_1
"Tenang kak, tarik nafas, hembuskan, kita salim sama bapak dan umi dulu mintak Ridhonya"
Ucap Mala menenangkan sang suami.
Setelah Satria bisa menguasai dirinya Satria mengikuti saran sang istri mereka pamit dahulu dan menuju ke RS tempat sang mami dirawat.
...***...
Dimobil terjadi cekcok sengit siapa lagi pelakunya kalau bukan oma Yolanda dan Mala.
"Aku gak sudi cucuku nikah sama babu kayak kamu" Hardik Yolanda.
"Kalau begitu marah saja sama kak Satria, kenapa dia mau menikah dengan aku" Balas Mala yang mampu membuat omanya Satria itu bungkam.
"Kamu Satria apa gak punya cewek lain kah di dunia ini sampai mau menikahi gadis babu ini? "
"Oma.... Nur itu istriku kalau oma hina dia berati oma juga hina aku"
Sekali lagi oma Yolanda bungkam dia tidak mampu melawan mulut beracun pasangan suami istri itu.
Melihat sang istri kalah telak membuat opa Malik tersenyum bahagia dia yakin setelah ini sang istri akan menangis sambil mengadukan tingkah laku cucunya itu.
"Opa kenapa mami koleps? "
"Menurut laporan suruhan opa karna mamimu ingin bunuh diri"
"Opa akan berusaha yang terbaik sayang, opa akan menggunakan semua jaringan opa untuk mengeluarkan papi kamu dari penjara karna hanya papi kamu yang bisa mengendalikan kegilaan mami kamu" Ucap pak Malik panjang lebar.
"Jadi mami kak Satria itu memang gila atau pura-pura gila? " Tanya Mala penasaran.
"Yang gila itu kamu, bukan putriku babu" Hardik oma Yolanda yang mendapat jeweran telinga dari sang suami.
"Sayang... "Lirih oma Yolanda dia benar -benar geram dengan sang suami yang menjatuhkan pamornya di depan sang cucu.
"Mami Satria tidak benar-benar gila sayang, dia hanya menggila, karna sangat mencintai papinya Satria yang sudah menjadi bagian dari hidupnya" Ucap opa Malik lemah lembut.
"Maksudnya apa kak? "
"Gini Nur, mami itu cinta mati sama papi kalau papi tidak ada maka mami akan memilih mati"
"Cinta buta maksudnya? "
"Cinta mati Nur, bukan cinta buta".
Mendengar perdebatan sang cucu bagaikan lagu nostalgia untuk opa Malik dirinya sangat rindu akan sang putri yang memilih hidup mendampingi sang suami.
Seperti itulah takdir anak perempuan jika sudah menikah akan mendampingi sang suami saat suka dan duka sebagai wujud bakti.
.
.
.
...***Bersambung......
__ADS_1
*setelah baca wajib like end comen ya 😇****