Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Tamu Adalah Raja.


__ADS_3

"Kamu!" pekik Mala tidak percaya akan seorang wanita yang berdiri di hadapannya dengan terus tersenyum manis. 


"Assalamualaikum, Mbak," ujarnya mengulangi salam membuat Mala tersadar dari keterkejutannya dan mempersilahkan wanita itu masuk. 


"Waalaikumsalam, silahkan masuk."


Masih dengan perasaan yang sulit diartikan Mala memiring tamunya itu masuk dan duduk di ruangan tamu. 


Rengekan sang putri membuat Mala meminta izin kepada wanita itu untuk membawa Cahaya masuk kedalam kamar. 


"Mohon maaf, aku tinggal dulu ya. Cha-Cha rewel, sepertinya dia sudah mengantuk," jelas Mala meminta izin kepada tamunya itu dan mendapatkan anggukan kelapa dari wanita tersebut yang seolah mengerti akan keadaan yang Mala tengah hadapi. 


Setelah pamit undur diri dan meninggalkan tamunya di ruangan itu. Mala membawa sang putri masuk kedalam kamarnya dan membaringkan balita itu diranjang sambil mulai menyusui. Mala menepuk-nepuk pantat putrinya agar balita itu terlelap sambil berpikir, apa gerangan yang membawa wanita itu bertamu ke rumahnya. 


Setelah Cahaya tertidur, Mala turun dari ranjang dan menuju ke dapur. Dia membuatkan teh hangat, lalu membawa beberapa kue kering untuk disuguhkan kepada sang tamu. 


Adab yang selalu suaminya ajarkan, yaitu menghargai tamu dan menjamunya dengan baik. Walaupun hati enggan untuk berbicara atau menyapa orang yang bertandang ke rumah mereka. 


Mala dididik oleh sang suami untuk sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya, tidak boleh menampakkan ketidaksukaan terhadap orang yang bertamu kerumah mereka. Sebab tamu adalah raja dan selayaknya raja, harus dihormati dan dijamu kedatangannya dengan baik. 


"Maaf membuat anda menunggu, disini tidak ada orang lain selain saya dan Cahaya. Kami juga tidak memiliki asisten rumah tangga atau babysitter buat putri kami," jelas Mala yang merasa sungkan seraya meletakkan nampan yang ia bawa diatas meja. 


"Gak pa-pa 'ko, Mbak. Aku paham, tapi jangan terlalu kaku dan formal," jelasnya merasa tidak nyaman.


Mala hanya mampu tersenyum terpaksa mendengar penuturan wanita itu, walaupun hati Mala seakan enggan untuk kembali akrab dengan wanita yang kini tengah duduk manis sambill menatap kearahnya. 


"Mbak, apa kabar?" tanyanya membuat lamunan Mala amyar seketika. 


"Ah, baik! Kamu bagaimana?" jawab Mala sedikit kelimpungan. 


"Alhamdulillah, baik. Oh, iya, Mbak. Ini ada hadiah buat Cahaya," jelasnya seraya menyerahkan sebuah paper bag kepada Mala.


Namun, Mala ragu untuk menerima pemberian wanita itu. Gadis yang dulu pernah satu atap dengannya dan kini telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik dan anggun. Hal itu membuat Mala secara naluri memenangkan jarak yang nyata antara dirinya dengan wanita itu. 

__ADS_1


Suci atau Sulastri, gadis yang dulu pernah ditampung oleh Mala. Kini menampakkan perubahan yang sangat kentara di mata Mala yang  juga seorang wanita. Ada perasaan tidak nyaman ketika wanita itu bertamu ke rumahnya. Walaupun Mala tahu hukum mengusir tamu itu tidak boleh. 


Namun, dia ingin sekali agar wanita itu cepat pergi dari hidupnya. 


"Mbak," panggil Suci yang heran melihat Mala hanya diam mematung. 


"Ah, iya. Makasih ya, seharusnya kamu tidak usah repot-repot," balas Mala berbasa-basi. Hati kecilnya meronta-ronta ingin segera tamu yang tidak diharapkan kedatangannya itu untuk segera pergi. 


"Enggak apa-apa 'ko, Mbak. Lagian Cahaya juga sudah aku anggap seperti anak sendiri,  ini juga tidak seberapa. Kebetulan aku kemari dan ingin memberikannya secara langsung," terang Suci menjelaskan bahwa dia merasa tidak masalah atau kerepotan hanya gara-gara hadiah yang dibawa. 


Namun, bagi Mala ada perasaan curiga yang tumbuh begitu saja tanpa bisa dicegah. Sebagai seorang wanita yang memiliki indra perasa yang sangat peka. Setiap kata yang keluar dari bibir Suci bagaikan nyanyian yang mengganggu pikirannya. 


"Seperti anak sendiri?" tanya Mala membuat Suci hanya mengangguk kecil.


Perasaan Mala seakan diiris-iris, entah kenapa. Namun, yang pasti ia ingin sekali menendang wanita yang duduk di hadapannya ini untuk segera pergi. Andai saja ia tidak memegang adab, mungkin hal itu dengan senang hati ia lakukan. 


Tiba-tiba dering sebuah ponsel mengalihkan perhatian kedua wanita itu. Ternyata ponsel milik Suci berdering dan menandakan ada panggilan masuk. 


"Halo," sapa Suci kepada seseorang yang menelponnya. 


"Baiklah, saya akan kesana," jelas Suci seraya memutuskan sambungan teleponnya.


Suci merasa agak risi melihat tatapan nanar Mala kepadanya, seakan ada yang salah dengan penampilannya. Akhirnya Suci Pun bertanya, " Ada apa, Mbak?"


"Ah, tidak ada apa-apa," ucap Mala tersentak karena kaget. Ternyata ia tidak sadar telah memperhatikan penampilan Suci hingga wanita itu menyadarinya. 


"Ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Suci ragu. Sebab, ia takut jika penampilannya menarik perhatian. 


Suci yang dididik oleh sang ayah untuk selalu berpenampilan modis, agar ketika bertemu dengan klien tidak membuat ayahnya merasa malu. 


Bagi Suci, anak adalah topeng buat orang tuannya. Topeng yang menutupi aib serta kekurangan yang dimiliki oleh lelaki yang kini telah menjadi tameng terbesar untunya. 


Sang ayah tempat Suci bergantung dan juga menjadi tempat yang harus selalu ia jaga. 

__ADS_1


"Mbak," panggil Suci lagi karena melihat tidak ada respon dari Mala. 


"Ah, iya." 


Lagi dan lagi, Mala kedapatan seolah sedang melamun karena tergagap setiap kali Suci bertanya. 


"Mbak, apa ada yang aneh dengan penampilanku?" Suci kembali mengulangi pertanyaan yang sama seraya melihat baju dan rok yang ia kenakan. Takut, jika ada yang tidak sesuai. 


Karena saat ini wanita itu mengenakan baju kemeja putih panjang dengan rok panjang berwarna hitam. Tentu dengan hijab yang sedikit panjang, untuk menutupi bagian depannya.


"Kemarin, aku melihat kamu mengenakan niqab," jelas Mala yang sudah penasaran akan perubahan drastis Suci.


Suci hanya tersenyum kecut mendengar penuturan tersebut, karena memang kemarin ia mengenakan niqab untuk bertemu dengan Mala dan Satria. Namun, tuntutan pekerjaan membuatnya melepas kain itu.


"Iya, Mbak. Aku sekarang kuliah dan menjalankan bisnis Ayah, jadi terpaksa aku melepaskan niqab supaya teman dan karyawan tempat aku bekerja serta berkuliah bisa melihat wajahku," jelas Suci agak ragu setelah melihat tatapan Mala yang menurutnya mengintimidasi. 


"Kamu jangan mempermainkan niqab, benda itu bukan hanya sebuah kain! Namun, ada filosofi yang sangat kuat di dalamnya," jelas Mala yang tanpa sadar telah menggurui Suci dan membuat wanita itu menggoda menatap Mala seolah menantang wanita yang sangat ia hargai itu. 


"Mohon maaf, Mbak. Mengenakan niqab itu sunnah, yang wajib itu adalah hijab. Aku tidak mempermainkan sebuah kain yang sangat berarti bagi seorang muslimah," jelas Suci merasa tidak terima akan kata-kata Mala yang membuat wanita itu tersenyum penuh arti. 


"Memang siapa yang mengatakan kamu mempermainkan kalin itu?"


Deg… .


"Jebakan betmen," batin Suci. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2