
"Allahu Akbar, alamat salah rumah ini?" batin Satria. Sebenarnya Satria hanya ingin menjebak istrinya dengan kata-kata. Karna, biasanya Mala akan terpancing dan mudah marah-marah pertanda cemburu. Namun, kali ini tidak? Istrinya itu malah membenarkan ucapannya membuat Satria meremang.
"Nur, kam---."
"Aku ngantuk Kak, besok saja ya ceritanya," jelas Mala sambil berkali-kali menguap. Dia binggung kenapa selama hamil, dirinya mudah lelah dan mengantuk. Hal itu membuat Mala bosan, seolah seperti ayam potong. Makan--tidur dan akhirnya di potong, seolah tidak ada maknanya hidupnya tanpa ada kegiatan lain.
"Tapi Nur …,"
"Bissmillahirrohmmannirohim"
"Bissmika Allahuma 'ahya wa bissmika Amud"
Setelah membaca doa, Mala berbalik badan menghadap kanan. Dia membelakangi suaminya, membuat Satria hanya mampu menghela nafas. Belum selesai ia berbicara, istrinya sudah mulai terlelap. Satria hanya mampu menyerahkan semuanya kepada Sang Robb, semoga esok lebih baik dari hari ini. Ia pun menyusul istrinya ke dalam alam mimpi sambil memeluk wanita hamil itu dari belakang.
.
.
.
"Assolatu khoirul minan naum"
"Allahu Akbar! Kak, bangun!" teriak Mala yang terkejut akan suara azan subuh dan segera membagunkan suaminya.
"Apa, Nur?" tanya Satria sambil duduk dengan mata yang masih terpejam. Rohnya yang masih tertinggal di alam mimpi belum kembali membuat Satria masih linglung.
"Solat subuh!" teriak Mala geram akan suaminya yang tetap tidak bangun dari tempat tidur. Mala akhirnya menarik tangan lelaki itu dan menuntunya ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
"Nur, kita tidak perlu mandi bersama! Lagian kita tidak melakukannya malam tadi," celetus Satria yang menyadari ke mana istrinya akan membawanya.
"Kita mau wudhu! Bukan mandi bersama," balas Mala ketus.
Subuh yang syadu buat pasang suami--istri tersebut, di tambah surah Ar-rahman yang di bacakan Satria membuat semakin indah. Kita hidup di dunia yang di penuhi akan nikmat. Namun, Manusia yang selalu mendustakan nikmat-nikmat yang telah Sang Robb berikan.
Setelah solat subuh berjamaah, Mala mengajak suaminya ke depan rumah. Mala ingin berjemur di bawah matahari seperti saran dokter.
"Kak, kenapa enggak panas ya?"
__ADS_1
Satria ingin menelan hidup-hidup istrinya itu, pertanyaan yang keluar dari bibir istrinya terkadang membuat Sartia benar-benar kesal.
"Bagaimana mau panas? Ini masih jam 6 pagi, Nur! Mataharinya masih malu-malu," jelas Satria sambil membuang nafas kesal.
"Kenapa mataharinya malu-malu, Kak?"
"Suci, kamu mau ke mana?" tanya Satria ketika melihat gadis itu, lebih baik menghindari istrinya dari pada di ladeni malahan membuatnya prustasi sendiri.
"Mau ke mini market, Bang, Mbak," jelas Suci sambil mendekati dua orang tersebut. Dirinya yang ingin membuka mini market pagi ini, sebab telah janji dengan Pak Udin yang akan membawa barang-barang yang ia pesan untuk mengisi barang-barang yang telah hampir habis.
"Nanti saja, Kami ingin berbicara dengan kamu," jelas Mala.
Satria menatap istrinya dalam-dalam, ia memikirkan pembicaraan mereka malam tadi. Apakah mungkin istrinya ingin mengutarakan ke inginannya ke pada Suci?
"Maaf Mbak, saya sudah ada janji sama Pak Udin," jelasnya menolak halus, sebab ia tidak bisa mengingkari janji.
Satria menghela nafas lega, "alasan yang tepat," batin Satria.
"Setelah selesai urusanmu?" sambung Mala sambil menatap nanar gadis itu. Mala telah memberikan tanggung jawab penuh akan mini market milik mereka ke pada Suci. Dia paham kalau harta yang di tinggal mati akan berati jika di jalankan oleh orang tepat. Mala juga tidak bisa menjaganya seperti dulu lagi, ia harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak mengangkat beban.
Suci hanya menatap heran Satria, antara binggung dan tidak enak hati. Namun, terdegar suara klakson mobil. Ternyata itu Pak Udin dengan mobil pick upnya yang sudah terpakir di depan mini market.
"Maaf, Mbak, Bang, aku ke situ dulu," jelas Suci yang ingin menghindar dengan alasan yang tepat. Mala hanya menganggguk menaggapi ucapan gadis itu tanda memberi izin. Satria menatap nanar ke pergian gadis itu.
"Jangan di pandangi terus, nanti juga sah jadi milikmu!" celetus Mala sambil bangun dari duduknya dan masuk meninggalkan suaminya yang masih mencerna ucapannya.
"Nur!" teriak Satria sambil menyusul istrinya itu.
"Umi, sudah selesai masak?" tanya Mala ketika di depan pintu dapur, melihat Uminya yang tengah menata hidangan di meja makan. Setelah kepulangan Mala dan Satria dari rumah sakit, Azzahra memaksa pasangan itu menerimanya tinggal di rumah mereka. Azzahra tidak mau melakukan ke salahan yang sama seperti dulu ketika Almarhumah Ibu Mala masih hidup. Dirinya yang seolah tidak perduli akan kehamilan sang adik, karna sibuk akan mengurus suami dan rumah saja. Namun, kali ini hal itu tidak akan pernah ia ulangi sebagai bentuk penebusan dosa. Pikirnya.
"Sudah Nak, kalian mau makan?" tanyanya sambil menghentikan aktifitasnya dan menatap Mala.
"Nanti aja Umi, tunggu yang lain. Kita makan sama-sama," jelas Mala sambil mendekat dan menarik kursi untuk duduk.
"Kita bukan makan? Tapi, sarapan," jelas Azzahra meluruskan ucapan Mala.
"Umi!" panggil Satria sambil mendekat.
__ADS_1
"Kamu mau makan, Nur?" tanya Satria yang melihat istrinya sudah stay di depan meja makan sambil menatap hidangan yang menggugah selera.
"Nanti, tunggu yang lain."
Satria binggung dengan ucapan istrinya tersebut, "siapa yang kamu tunggu?" tanyanya penasaran sambil duduk di samping istrinya.
"Bapak dan Suci," jelas Mala.
"Emang, ada Bapak kalian ke sini?" tanya Azzahra menimpali ucapan Mala.
Mala hanya mengangguk menaggapi ucapan Uminya, berbeda dengan Satria yang suka menggoda setelah ucapan istrinya yang mengatakan kalau mereka cocok.
"Ehemmm, ada yang lagi nanyain Bapak?" goda Satria sambil mengedipkan matanya ke pada Uminya.
"Dasar kamu ya?" ujar Azzahra sambil mendekat dan ingin mencubit Satria. Namun, lelaki itu telah terlebih dahulu menghindar dan berdiri di belakang sang istri.
"Umi sabar, nanti aku lamarkan Bapak untuk Umi, dan Kak Satria dengan Suci."
Mendegar celetusan Mala, bagaikan bom horisima yang menghancurkan perasaan Satria dan Azzahra. Ingin menangis dan marah dalam waktu yang bersamaan.
"Apa?" teriak Satria dan Azzahra. Mereka benar - benar di buat serangan jantung oleh Mala. Bagaimana bisa wanita hamil itu dengan mudahnya mengatakan hal yang menurut mereka bukan perkara main - main.
"Semoga dia hanya mengingau," batin Satria berharab.
"Semoga Mala bisa melupakan ucapan sesatnya," batin Azzahra berharap.
Mereka berdua hanya bisa berdoa agar Mala berubah rencana sesatnya.
.
.
.
...Bersambung… ....
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*
__ADS_1