Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Tamu Tidak Diundang


__ADS_3

"Jangan melamun! Nanti, kesambet!"


Lamunan Satria buyar seketika akibat tamu yang tidak diundang datang tiba-tiba, pulang tidak ada yang tahu. Terlebih menyebalkan tamunya tersebut yang suka sekali mengejek keadaan Satria membuat lelaki itu ingin sekali menendang tamu kurang ajar seperti yang kini tengah berkacak pinggang di hadapannya sambil terus melancarkan ucapan yang tidak berfaedah. 


"Adw telinga itu digunakan dengan baik! Jangan seperti orang yang tuli!"


Satria malas melayani tamu yang kurang ajar akhirnya memilih masuk dan berlalu begitu saja membuat tamunya tersebut semakin murka. 


"Satria! Kurang ajar! Aku di tinggal lagi," ucapnya sambil mengikuti Satria yang sudah masuk. 


Namun, tiba-tiba dia menabrak seseorang membuat orang tersebut mengaduh kesakitan sambil memakinya. 


"Aw, Azzam!" pekiknya sambil mengusap kepalanya yang berdenyut akibat tertabrak oleh sang putra. Umpatan kesal yang keluar dari sang umi membuat Azzam kabur, mencari aman pikirnya. 


"Dasar! Anak itu seperti jelangkung saja, suka sekali muncul tiba-tiba tanpa permisi," umpat Azzahra kesal akan tingkah Azzam putranya. 


Azzam sering sekali berkunjung ke rumah sang adik terlebih memang ada uminya di sana, pemuda itu merasa kesepian dan akan selalu mampir untuk mencocokkan keluarga tersebut. 


Pernah Azzam mengutarakan keinginannya yang menginginkan seorang adik dari sang umi dan bapak, akan tetapi ia malah mendapatkan jawaban yang membuatnya mengambil langkah seribu, kabur. Uminya mengeluarkan kata-kata yang membuatnya bungkam dan tidak berani untuk meminta hal tersebut lagi. 


'Zam, kalau kamu kesepian? Maka menikahlah! Dan jika kamu menginginkan seorang adik? Kamu buat saja bersama istrimu'


Sejak saat itu Azzam sangat menghindari uminya terlebih kehadirannya seperti tamu yang tidak diharapkan membuat pemuda itu lebih milih datang dan pergi begitu saja tanpa pamit kepada keluarganya. 


Kini pemuda itu melangkah menuju ke kamar sang adik, ia selalu mendatangi wanita hamil itu karena sebagai abang Azzam paham betul akan sikap dan watak sang adik. Dia tahu jika adiknya sangat tersiksa saat ini karena wanita hamil itu merupakan orang yang tidak bisa diam. 


Namun, saat ini adiknya itu harus dikurung dan sed di tempat tidur hingga melahirkan. Siapapun yang biasanya aktif dalam beraktifitas dan ketika disuruh dikurung lalu di suruh diam? Maka orang tersebut akan menjadi stres dan mudah keluar emosinya. 


Hal tersebut membuat Azzam sebagai abang datang untuk menghibur sang adik, sama seperti hari sebelumnya. Kini pemuda itu mendekati adiknya yang sedang berbaring dengan wajah lesu, ia mencoba memberi semangat kepada sang adik lewat guloyannya. 


"Hallo bumil cantik, apa kabar dengan hari ini?" ucapnya sambil menaik turunkan alis menggoda sang adik. 


Namun, ia malah dicuekin. Adiknya berbalik badan membelakanginya, hal tersebut membuat tawa Satria lepas melihat tingkah mereka dan mengejek Azzam. 


"Hahahaha… , ada kura-kura tengkurap."


Azzam langsung menatap tajam kearah Satria, suaminya sang adik itu suka sekali menyulutkan api permusuhan dengannya. 


"Hati-hati, Zam. Nanti bola mata kamu keluar kalau melihat aku seperti itu! Kamu 'kan belum kawin," ejek Satria dengan gelak tawanya membuat Azzam semakin kesal.


Pemuda itu menimpali ucapan Satria, "Mending aku belum kawin yang berarti masih PERJAKA! Dari pada kamu?"

__ADS_1


Satria terdiam sesaat, akan tetapi dia tersenyum jahil dan berkata, "Kalau aku?" seraya menunjuk dirinya dengan jari telunjuk. 


"Lelaki PERKASA! Kamu lihat istriku sedang hamil anakku!"


Satria dengan bangganya mengatakan hal tersebut membuat Azzam seakan ingin muntah dan meminta pembelaan dari sang adik. 


"Ueg, narais baget sih kamu, Sat! Dek, lihat suamimu? Sudah overdosis."


Mala malas menanggapi ocehan abang dan suaminya yang seperti kucing dan tikus ketika bertemu. Tidak pernah akur dan selalu saja melemparkan canda yang tidak berfaedah.


"Dek, kamu belain abang dong," jengek Azzam kepada sang adik. 


Wanita hamil itu berbalik badan dan menatap abangnya dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat yang ditatap merinding seketika.


"Dek, jangan seperti  itu melihatnya! Abang jadi horor tau," celetus Azzam sambil mengusap-usap tangannya yang tiba-tiba meremang.


"Jadi, Abang maunya apa?" tanya Mala yang masih menatap nanar abangya tersebut. 


Azzam mendekat dan duduk di tepi tempat tidur berhadapan dengan Satria, ia membuang nafasnya panjang sebelum berkata. Menyiapkan mental pikirnya sebelum menghadapi dua pasangan suami istri yang tengah menatapnya tersebut. 


"Kamu baik-baik saja 'kan, Dek?" tanyanya pelan yang mendapatkan anggukkan kepala.


Kemudian Azzam menyerahkan selembar kertas kepada adiknya itu dengan wajah yang serius. 


"Buka 'lah dan baca," jelas Azzam masih dengan wajah serius.


Satria yang melihat wajah Azzam ikut menjadi tegang, akan tetapi istrinya berteriak membuatnya terkejut.


"Abang!" 


Gelak tawa Azzam pecah seketika melihat wajah adiknya yang antara marah dan ingin menangis. 


Satria yang penasaran akan kertas yang dibaca oleh istrinya segera menyambar kertas tersebut dan membaca apa yang tertulis di sana.


Setelah membaca, Satria melemparkan kertas tersebut ke wajah Azzam. Hal tersebut membuat tawa pemuda itu semakin menjadi.


"Hahaha, kalian lucu," ucapnya dengan nada mengejek. 


"Kakak! Usir tamu yang tidak tahu diri ini," pinta Mala kepada suaminya. 


Satria yang menerima perintah tersebut tersenyum miring dan menarik Azzam keluar dari kamar mereka.

__ADS_1


Azzam yang diperlakukan seperti itu meronta-ronta dan mengeluarkan kata-kata tajamnya. 


"Hey! Aku ini bukan tamu disini! Aku ini juga pemilik  rumah ini juga!"


Teriakan demi teriakan Azzam tidak digubris oleh Satria, ia terus menarik pemuda itu hingga keluar dari kamar mereka. 


Satria membekap mulut Azzam membuat pemuda itu menatapnya tajam, seolah-olah siap menguliti siapapun. 


"Zam, jangan teriak-teriak! Nur, butuh istirahat," perintah Satria pelan yang mendapatkan anggukkan kepala pemuda itu. 


Pelan-pelan Satria melepaskan tangannya yang digunakan untuk membekap mulut laknat Azzam.


Setelah terlepas Azzam kemudian membalas perlakuan Satria dengan menarik suami adiknya tersebut hingga mereka sampai di sofa ruangan tamu. 


Azzam mendudukan Satria, kemudian ia juga ikut duduk disamping lelaki yang menatapnya heran tersebut.


Azzam paham akan tatapan itu kemudian memberikan selembaran kertas yang tadi ja jadikan bahan candaan. 


Satria menerima kertas tersebut sambil mengerutkan dahinya berpikir, entah apa yang ia akan jelaskan tentang isi yang tertulis di kertas tersebut.


"Kamu mau apa dengan kertas ini?" tanya Satria mencoba mencari maksud dari Azzam.


"Aku mau ngasih tahu aja, lagian ini juga bagian dari rutinitasku setiap bulan," jawab Azzam enteng.


"Kamu mau dapat berapa bagian dari pendapat ini?" tanya Satria dengan wajah serius. 


Azzam yang mendengar hal itu bagaikan mendapatkan angin segar dan tersenyum bahagia. 


"Tidak banyak, sekiranya aku bisa kawin."


Satria menatap penuh curiga pemuda yang duduk disampingnya lalu kemudian bertanya, "Emang kamu punya calonnya?"


Deg….


"Calon apa?"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2