
Hari cepat herlalu seakan pergi tanpa ada makna, saat ini Satria ingin melukis kenangan indah bersama keluarga dengan acara syukuran kehamilan sang istri tercinta.
"Semua sudah siap, Pak?" tanya Satria kepada Mertuanya.
"Iya Nak, Azzam dan Uminya sudah datang?" balas Udin bertanya. Keadaan rumah yang kemarin-kemarinnya sepi, kini mulai ramai sebab acara syukuran kehamilan tuan rumah.
"Sudah Pak, mereka ada di depan," jelas Satria.
"Bang, bagaimana dengan mini market?" tanya Suci mendekati Satria.
"Tutup aja dulu, Ci. Kamu bantu-bantu di sini dulu," jelas Satria yang mendapatkan anggukan dari gadis itu.
Udin menepuk pelan bahu Satria dan berujar, "Uang memang penting, namun kebahagian orang yang kita sayang jauh lebih penting."
Satria hanya tersenyum menaggapi ucapan Mertuanya tersebut, ketika Satria melihat kedatangan Maminya dia segera berpamitan dan meninggalkan Udin yang masih berada di dapur guna melihat siapan acara seperti hidangan dan sebagainya.
"Pak, aku ke situ dulu," ujar Satria mendapatkan anggukan dari Udin tanya meyutujui.
"Kalau ada apa-apa bilang aja?" ucap Udin sambil terkekeh. Satria hanya tersenyum menaggapi kata yang seharusnya dia yang ucapkan sebagai tuan rumah.
"Semoga kalian selalu istiqomah dalam jalan Allah, amin," batin Udin berdoa sambil menatap punggung Satria yang berjalan menjauh.
.
.
.
Di kamar.
"Mami!" panggil Satria sambil mendorong pelan pintu kamar.
"Mau apa kamu, Sat?" tanya Marissa ketus.
"Mami, kenapa di sini?" tanya Satria binggung sambil mendekat.
"Tanya sama Papimu," balas Marissa acuh. Sebenarnya dia cemburu melihat sang Suami yang asik mengobrol dengan Uminya Mala dan mengangap keberadaannya seolah tidak ada, sebab tidak di ajak ngobrol. Itulah wanita mahluk paling aneh, dia yang marah tetapi orang yang lain yang salah.
"Ya sudah, Satria mau kedepan dulu," ucap Satria sambil berlalu.
"Satria!" teriak Marissa kesal akan sikap Putranya yang tidak peka. Satria seolah tuli, dia tidak menaggapi teriakkan Maminya, sebab sudah hapal watak wanita itu.
"Hahahah." Tawa renyah mengisi ruangaj tamu yang sudah di ubah seperti ruangan yang penuh akan kehagatan, meja dan sova pun sudah di singkirkan yang ada hanya karpet tebal terbentang. Angota keluarga duduk lesehan di temani kue dan teh sebagai camilan.
"Jadi bagaimana ceritanya ekspresi Satria waktu itu?" tanya Ikbal penasaran.
"Ya seperti---,"
"Jangan suka GIBAHIN orang, Umi!" ucap Satria memotong ucapan Uminya.
"Siapa yang mengibah? Umi ini sedang mendogengkan kisah kamu," kilah Azzahra.
"Satria, apa semua sudah siap?" tanya Ikbal mengalihkan pembicaraan. Satria hanya mengagguk menaggapi ucapan Papinya.
"Jadi bisa kita mulai?" tanya Udin menimpali.
__ADS_1
"Tunggu dulu, di mana Nur?" tanya Satria sambil mengedarkan penglihatanya mencari keberadaan sang istri.
"Dia ada di kamar, sebentar lagi juga keluar. Umi suruh Suci tadi panggilkan," jelas Azzahra.
"Siapa yang bacakan doa?" Pertanyaan Azzam membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Laa, Ana masih muda," ucap Azzam sambil mengeleng.
"Pak Ikbal, apa Anda bisa?" tanya Azzahra sambil menatap lelaki itu menunggu jawaban.
"Sa---"
"Biar Bapak saja, aku lebih tua dari kalian," jelas Udin memotong ucapan Ikbal yang terkesan ragu-ragu.
"Emang bisa?" tanya Azzahra meremehkan.
"Bisa Umi, suara Bapak merdu. Hati-hati Umi kalau mendegarnya! Takut kepincut, sebab peletnya kuat," ucap Satria membela sang Mertua sambil menaik--turunkan alisnya mengoda.
"Kakak!" panggil Mala sambil duduk mendekati sang suami.
"Iya Nur," balas Satria sambil mengelus puncak kepala sang istri.
"Perut Mbak Mala keram, Bang," jelas Suci sambil duduk di dekat Pak Udin. Azzam yang melihat kedatangan Suci di buat terpesona.
"Wahai saudara Azzam, tundukkanlah pandanganmu," sindir Satria dengan ekor matanya.Semua orang yang berada di sana tertawa mendegar sindiran Satria.
"Nanti kita periksa lagi ya, Nur," jelas Satria menenagkan sang istri yang hanya mengangguk.
"Pak, kita mulai saja. Kasiahan Nur, supaya dia bisa cepat istrirahat," pinta Satria kepada Mertuanya.
"Bissmillahirrohmmannirohim"
"Assolla tuu'alla assrofil ambiyai mursolin syaidinna wa maulana Muhammadin wa 'ala ali syaidinna Muhammaddin ajama'in"
"Allahumagfirli waliwalidayyah warhamhumma kama robbaya nii soghiro"
"Allahuma selamatan fiid dini, wabrokatan fii rizky, wabrokatan koblal maut, wabrokatan indal maut, Allahuma hawin 'allaina fii sakaratil maut wa janatan inal hisabb"
"Robbana atina hasyana wa fiil'a hiroti hasyana taa wakina aja bannar"
"Ammmiiinnn… ."
Penuh hikmat mendalam bagi yang paham akan makna dari doa tersebut, membuat yang mendegar akan meneteskan air mata tak terkecuali mereka yang berada di ruangan tersebut.
"Pak, suara Anda sungguh indah," puji Ikbal tulus.
"keindahan hanya milik Allah," balas Udin menerdah sambil tersenyum.
"Aku lapar!" pinta Mala membuat semua orang menatap kearahnya.
"Enggak takut gemuk, Dek?" pertanyaan Azzam tersebut mendapatkan capitan tanggan dari Azzahra.
"Awww, sakit Umi," lirih Azzam sambil mengelus lenganya yang di cubit sang Umi.
"Adikmu itu sedang hamil kembar, setiap saat akan lapar," jelas Azzahra sambil bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Suci, ayo," ajak Azzahra kepada gadis itu dan diangguki, "Kamu juga Din."
Setelah kepergian mereka bertiga ke dapur guna membawa hidangan makanan, kini Ikbal mulai mengajak Azzam mengobrol.
"Kamu Putranya Umi?" tanya Ikbal penasaran.
"Namanya Azzahra binti Ibrahim, yang boleh panggil Umi hanya kami anaknya," jelas Azzam dengan penuh penekan.
"Kamu posesif sekali, Bang?" tanya Mala.
"Yang posesif itu Suamimu, bukan Abang," kilah Azzam tidak mau mengakui hal tersebut, karna menurut Azzam sudah kewajibannya menjaga kehormatan sang Umi.
"Nur, jangan di ladeni. Yang waras harus mengalah," jelas Satria sambil menaik--turunkan alisnya.
"Memang, kalau berbicara dengan kalian tidak pernah berfaedah," ucap Azzam kesal sambil banggun dari duduknya dan berlalu menyusul sang Umi di dapur.
"Anak sama Umi sama ya, Sat?" tanya Ikbal sambil terkekeh.
"Jangan lihat covernya (kulit) Pi, tetapi lihat isinya. Seperti itu cara mereka menayampaikan perasaan sayang," jelas Satria.
"Kak, kenpa perutku sakit?" lirih Mala.
"Nanti, kita periksakan lagi ke dokter, ya,"jelas Satria menenagkan sang istri.
Ketika mereka sedang asik bercengrama tiba-tiba terdengar suara deru mobil berhenti di halaman rumah.
"Siapa ya?" tanya Satria binggung, sebab dia tidak memiliki janji dengan siapa pun.
"Entahlah, Papi kedepan dulu melihat," jelas Ikbal sambil bangun dari duduknya dan berlalu.
Tiba-tiba sang Mami keluar dari kamar dan menuju pintu depan dengan tergesa setelah mendegar suara deru mobil.
"Mami mau ke mana?" tanya Satria penasaran melihat sang Mami.
"Tamu Mami datang," jelasnya sambil berlalu.
"Siapa?" tanya Satria penasaran.
"Elissa dengan Deddynya," jelas Marissa terburu-buru keluar.
"Untuk apa Mami mengundang Elissa ke sini, Kak?"
Deg… .
Drama di mulai.
.
.
.
...Bersambung… ....
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*
__ADS_1