
"Dia!"
Satria dan Mala di buat senam jantung melihat siapa yang menjadi Dokter. Berbeda dengan Ikbal dan Marissa yang dibuat bingung oleh pasangan suami--istri tersebut.
"Kalian kenal Dokter Tasya?" tanya Ikbal sambil menatap putra dan menantunya itu bergantian.
Mereka berdua hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan mereka dari Dokter wanita yang duduk dengan perasaan canggung.
Mala tersadar dari rasa terkejutnya lalu mendekati Dokter wanita tersebut dan mengulurkan tanganya, lalu berujar, "Maafkan kesalahanku dulu."
Semua orang menatap tidak percaya kepada wanita hamil tersebut.
"Ah, iy--ya. Aku juga sudah melupakan hal itu," balas Tasya salah tingkah sambil menyambut tangan istri Satria tersebut sebentar lalu melepaskannya.
"Katanya melupakan? Padahal dia sangat mengingatnya," batin Satria jengah mendengar ucapan wanita tersebut yang ternyata berprofesi sebagai Dokter.
"Kamu kenal menantu tante, Tas?" tanya Marissa penasaran. Dokter itu hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Marissa lalu menyuruh Mala dan Satria duduk.
Ternyata Dokter Tasya atau Anatasya, wanita yang dulu satu kelas di kampus bersama Satria ternyata adalah Dokter bedah dan kandungan. Wanita itu lulusan London, dia terpaksa pulang ketanah air karena sang ayah yang memintanya untuk mengurus perusahan A Group dan memaksa Tasya untuk kuliah jurusan akademi. Mau tidak mau? Wanita itu menjalaninya, akan tetapi dia tetap melakukan tugasnya sebagai Dokter di rumah sakit teman ayahnya dan tetap kuliah agar sang ayah tidak mengomel-ngomel kepadanya. Tasya tahu kalau ayahnya sangat menyayanginya dan ingin dia menjadi wanita karir seperti almarhum bundanya dulu.
"Mohon maaf, kita ke inti saja di karenakan jam saya yang memang sudah habis!" Tasya tersenyum kecil sebelum melanjutkan ucapannya.
"Om, Tante, Satria dan… ," Tasya bingung mau memanggil istri Satria tersebut karena tidak tahu siapa namanya.
"Mala! Nur Mala Sari," balas Mala sambil mengulurkan tanganya memperkenalkan diri.
Tasya jadi salah tingkah, dia sebenarnya tidak akan pernah bisa melupakan bagaimana wanita dihadapannya ini menghajar ia waktu itu, dengan canggung ia menjabat tangan istri Satria tersebut sambil memperkenalkan diri, "Nama saya Anatasya, panggil saja Tasya."
__ADS_1
Kemudian Anatasya menjelaskan bahwa akan melakukan pengambilan sampel darah Satria dan Ikbal, kemudian akan memeriksa kandungan Mala dan mengatur jadwal untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk Mala. Anatasya juga menjelaskan bahwa mau tau tidak tumor yang ada di dalam rahim Mala harus di angkat, karena akan membahayakan ibu dan anak.
Anatasya sudah banyak mempelajari penyakit Mala dari Dokter Aditiya, seniornya. Tasya juga heran kenapa Mala tidak mau dioperasi oleh Dokter Aditiya yang merupakan Dokter senior yang memiliki jam terbang terbaik di kota ini.
"Mohon maaf sebelumnya, kenapa anda tidak mau di operasi atau di periksa oleh Dokter Aditiya?" tanya Tasya sambil mengarahkan alat USG di perut wanita hamil itu.
"Karena dia lelaki! Bagi saya haram tubuh saya di pegang lelaki selain suami saya," jelas Mala sambil menatap nanar wanita yang dulu pernah membuatnya terbakar cemburu.
Tasya terdiam sesaat, mencerna ucapan wanita hamil tersebut. "Selesai, setelah ini saya ingin mengambil sampel darah om Ikbal dan Satria," jelas Tasya sambil berlalu kembali ke meja kerjanya yang masih ada Ikbal, Marissa dan Satria.
"Bagaimana, Dok?" tanya Satria penasaran sebab dia tidak bisa melihat dan mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter itu dengan istrinya ketika di dalam ruangan khusus untuk melakukan pemeriksa tadi.
"Kandungannya sehat, akan tetapi! Tumor yang berada di dalam kandungan juga ikut tumbuh. Saya khawatir jika dibiarkan akan terus membesar bersama janin yang berada di kandungan akan membahayakan ibu dan janin."
Semua orang terdiam, Mala yang baru keluar dari ruangan pemeriksaan segera mendekati dan duduk di samping suaminya lalu mengusap lengan lelaki tersebut.
Mendengar penjelasan istrinya membuat Satria tersenyum kecut, "Iya, insya Allah."
"Mohon maaf sebelumnya Om, Satria! Saya ingin melakukan tugas saya, silahkan kalian masuk dulu di tempat pemeriksaan."
Setelah mengucapkan hal itu, Tasya masuk kembali ke ruangan khusus tadi sambil menyiapkan alat suntik guna mengambil sampel darah Ikbal dan Satria.
Kedua lelaki tersebut menyusul Dokter Tasya, tinggal Marissa dengan Mala yang saling diam. Marissa tidak bisa menahan diri lagi, lalu bertanya kepada menantunya tersebut, "Kapan dan di mana kamu bisa berkenalan dengan Tasya?"
Mala menatap ibu mertuanya itu sambil tersenyum sebelum menjawab pertanyaan tersebut, "Dokter Tasya dulu teman satu kampus Kak Satria, Mi."
Marissa mencoba mencerna ucapan menantunya tersebut, dia baru sadar jika putranya tidak kuliah lagi di sebab ulahnya. Marissa merasa menyesal karena egois hingga mengakibatkan Satria menerima imbasnya.
__ADS_1
Setelah melakukan pengambilan sampel darah untuk tes DNA dan menentukan jadwal Mala melakukan pemeriksaan kembali, mereka berempat pamit untuk pulang. Karena memang jam kerja Dokter Tasya yang sebenarnya sudah habis, akan tetapi karena Ikbal yang meminta. Tasya mau, sebab Ikbal yang merupakan partner kerja di kantor. Perusahan A Group dan Nur Permata Group yang melakukan kerjasama.
"Papi, mobilnya di sebelah sini," jelas Satria menunjuk tempat mobilnya terparkir.
"Mami dan Papi bawa mobil sendiri, kami juga mau pulang ke rumah Oma."
Satria dan Mala terkejut mendengar penuturan sang mami, setelah itu Ikbal menjelaskan semuanya. Bahwa mereka mengambil mobil yang berada di rumah oma Yolanda dan akan tinggal di sana. Ikbal hanya menuruti keinginan istrinya yang selalu mengeluh ketika tinggal di rumah sang anak. Hal ini pula membuat Ikbal bersedia kembali ke rumah peninggalan sang mertua.
Satria dan Mala hanya mengangguk dan berlalu menuju ke mobil mereka setelah berpamitan kepada Ikbal dan Marissa. Satria segera melajukan mobilnya kembali pulang ke rumah kenangan. Selama di mobil mereka berteman sunyi dan sepi hingga mobil yang dikendarai sampai di halaman rumah. Mala segera keluar dari dalam mobil dan membuka pintu. Satria hanya memandang punggung istrinya dengan sendu, sambil membatil.
"Aku akan berusaha terus membahagiakanmu, Nur! Aku janji dengan menyebut nama Allah," batin Satria.
Malam semakin larut, setelah masuk Satria segera menghampiri sang istrinya. Satria melihat wanita hamil itu sedang terlelap, ada rasa iba dalam hati Satria. Lelaki itu mendekati istrinya sambil naik keatas tempat tidur dan mengusap-usap puncak kepala istrinya. Satria sangat menyayangi istrinya itu, cahaya yang menerangi gelapnya hidup lelaki yang tidak lama lagi akan menyandang setatus calon ayah nanti.
"Nur, aku akan membawa kamu ke tempat yang paling indah. Kita akan merasakan kenikmatan surga dunia di sana."
.
.
.
kira-kira ke mana ya? Satria akan membawa Mala? tempat yang indah dan akan menikmati surga dunia!
...Bersambung… ....
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1