
"Kak Satria, "batin Mala.
Tit...
...Suara kelakson mobil dari luar rumah terdengar, membuat Mala dan Umi Azzahra yang tadi tengah asik mengobrol di ruang tamu mengakhiri pembicaraan mereka dan segera menuju pintu depan....
"Assalamualaikum Umi, " Satria mengucapkan salam setelah turun dari mobil dan mendekati sang Umi.
"Waallaikum Sallam, " Azzahra membalas salam dari Satria.
...Mala hanya diam, tidak menjawab salam dari sang Suami. Membuat sang Umi menegur Mala pelan....
"Sayang, menjawab salam itu wajib loh! " jelas Azzahra mengingatkan sang putri.
"Hukum menjawab salam iyalah Fardhu Kifayah yang berati, jika sudah ada yang mengerjakannya maka yang lain akan terbebas, " jelas Mala sambil menatap wajah sang Umi dengan menampilkan deretan giginya yang putih.
...Azzahra hanya mampu tersenyum kecut mendegar penuturan sang putri, dirinya semakin yakin bahwa hubungan rumah tangga sang putri tengah dalam masalah. Terlihat jelas dari perubahan yang Mala tunjukkan kepada sang Suami....
...Satria yang memahami perubahan yang ditunjukkan oleh sang istri pun mendekat lalu menyodorkan tangannya....
"Ayo, cium dulu! "pinta Satria sambil tersenyum kepada sang istri.
"Allahumma solli'alla Muhammmad, " ucap Satria ketika sang istri mencium punggung tanganya sambil mengelus puncak kepala sang istri sambil berselawat atas Nabi Muhammad.
"Ayo masuk," ajak Azzahra kepada pasangan Suami istri tersebut.
"Kami mau pulang Umi, "lirih Mala. Menolak secara halus permintaan sang Umi.
"Sat, kamu aja masuk. Biarkan aja istri kamu pulang sendiri, lagian Umi mau bercerita banyak sama kamu! "jelas Azzahra memujuk Satria.
...Satria binggung, antara menerima ajakan sang Umi atau menuruti keinginan sang Istri yang ingin pulang....
"Umi sehat? "tanya Satira mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, sehat. Ayo masuk, besok aja kalian pulang. Lagian besok wekend jadi kalian bisa santai, "bujuk Azzahra lagi.
"Tapi, kami enggak bawa baju ganti Umi? "balas Mala beralasan.
"Gampang, itu pasar buka sampai malam. Kalian bisa pilih banyak model pakaian, dari yang dalam hinga yang luar, "ucap Azzahra sambil tersenyum dan masuk kedalam rumah meninggalkan Mala dan Satria di ambang pintu.
__ADS_1
"Kak, "lirih Mala.
"Kita nginap semalam aja Nur, lagian besok mini market kita tutup. Kalau di rumah ada Suci yang jagain, kamu enggak apa kan? "tanya Satria meminta pendapat sang istri dan mendapat anggukkan kepala tanda sang istri setuju akan usulnya.
...Akhirnya mereka mau tidak mau menerima permintaan sang Umi untuk menginab di rumah sang Umi....
...Malam harinya setelah solat Isya dan makan malam, Azzahra meminta kepada Mala dan Satria untuk mengobrol di ruangan tamu....
...Serasa di esekusi seperti pertama kali mereka ingin menikah, hal itu yang dirasakan oleh Mala dan Satria....
"Umi, Abang Azzam kemana? Dari siang tadi pas izin ke Kampus, ko gak balik? "tanya Mala mencoba mengurangi kecanggungan yang tercipta.
"Abang mu ikut tim Hafsih di pondok, jadi malam ini enggak pulang," jelas Azzahra yang sebenarnya sengaja menyuruh Azzam untuk minginap di pondok agar dirinya bisa mencari tahu masalah apa yang dihadapi oleh Mala dan Satria.
...Azzam yang awalnya menolak permintaan sang Umi hanya mampu gigit jari, sebab sang Umi yang selalu mengatakan bahwa ini rurusan bagi yang sudah berumah tangga. Apalah daya Azzam belum berumah tangga, akhirnya menyerah dan menuruti permintaan sang Umi....
"Kalian punya masalah? "tanya Azzahra mencari tahu.
"Enggak Umi, "kilah Satria yang memang tidak ingin sang Umi ikut campur dalam rumah tangganya. Bukan Satria tidak menghargai niat baik sang Um, namun Satria merasa bisa mengatasi masalahnya tanpa campur tangan sang Umi.
"Mala, kamu punya masalah? "tanya Azzahra mengalihkaj pertanyaannya kepada sang putri yang memang tidak bisa untuk menutupi apa pun darinya.
"Iya Umi, "lirih Mala.
"Coba ceritakan! "pinta Azzahra sambil menatap wajah sendu sang putri.
"Kak Satria ingin Mala mengandung anaknya Umi."
...Satria bernafas lega setelah mendegar penuturan sang istri, ternyata masalah yang disimpan oleh Mala adalah pernyatannya yang meminta keturunan dari Satria....
"Lalu, dimana letak masalahnya? "
"Nur belum siap Umi, "jelas Satria.
"Kenapa kamu belum siap sayang? "
"Mala takut Umi, "lirih Mala.
"Takut itu kepada Allah Nur, bukan sama kehamilan, "ujar Satria berpendapat. Namun mendapat tatapan tajam sang Umi.
__ADS_1
"Kenapa kamu takut sayang? Bukankah sudah menjadi fitrahnya seorang istri mengandung anak dari Suaminya, "jelas Azzahra sambil mendekati Mala lalu mengenggam erat tangan sang putri memberikan kekuatan.
"Mala takut seperti Ibu, Umi. " Tangis Mala pecah seketika, hal itu yang selalu menganjal didalam hatinya setiap kali ditanya tentang kehamilannya yang tidak kunjung tiba.
...Bukan Mala tidak menginginkan kehadiran buah cintanya bersama sang Suami, namun bayangan akan kematian sang Ibu lah yang selalu menghantuinya. Mengikis sedikit demi sedikit Iman yang ada di dalam diri Mala dan membuat Mala lupa kepada Zat yang Maha Segalanya....
...Azzahra memeluk sang putri dengan penuh kasih sayang, dia paham akan ketakutan yang Mala rasakan. Sudah hal wajar diusia Mala yang masih muda ada ke khawatiran dalam mengandung....
...Satria hanya tergugu, tidak menyangka kalau permintaannya kepada sang istri telah menekan mental istrinya sendiri....
...Setelah tenang Mala menatap wajah sang Umi dan Suami bergantian....
"Tapi Mala ingin hamil Umi," ucap Mala memantapkan hatinya.
...Mala masih memikirkan perkatan sang Umi yang mengatakan lebih baik Satria mengandung anak darinya dari pada wanita lain....
...Hal itu lah yang membuat Mala bertekat akan melahirkan buah cintanya bersama sang Suami....
"Tapi, kamu masih bersiko kalau hamil Nur, "lirih Satria.
...Sekarang Satria yang takut, sebab hamil di usia sang istri cendrung kepada kehamilan dini atau anak yang dilahirkan dalam keadaan prematur....
"Hidup dan matinya seorang hamba, ditangan Allah. Jangan takut dengan apa pun kecuali kepada Allah ta'ala, "ucap Azzahra mengingatkan Mala dan Satria.
"Iya kak, kalau pun aku mati ketika melahirkan anak kita. Maka kematianku itu adalah kematian yang syahit. Mati yang dicemburui, sebab tanpa hisab masuk ke Jannah," jelas Mala sambil menatap wajah sang Suami yang tiba - tiba menegang.
"Aku belum siap kehilangan kamu, Nur! "lirih Sartria.
"Eleh, kakak ini sok dramatis. Kakak itu tampan, banyak wanita suka. Iya kan kak? "tanya Mala menyinggung sang Suami.
...Satria yang mendegar ucapan sang istri hanya mampu menelan silvernya kasar, sebab paham akan maksud dari kata - kata yang diucapkan oleh Mala....
"Alamat perang dingin ini? "batin Satria.
.
.
.
__ADS_1
...Bersamabung......
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*