
Keadaan masih menegangkan hingga Satria yang pingsan sadarkan diri dan mencari keberadaan keluarganya.
"Aduh, kepalaku!" pekik Satria yang baru sadarkan diri. Lelaki itu mengedarkan penglihatannya dan baru teringat akan keadaan istrinya yang berada di ruangan ICU.
Satria segera bangun dan menuju keluar dengan keadaan yang sempoyongan ia mencari dimana ruangan ICU dan ketika berpasaan dengan seorang suster yang kebetulan lewat lalu menunjukkan arah ruangan ICU yang Satria cari.
Namun, ketika lelaki itu sudah sampai ia bingung kenapa keadaan ruangan itu sepi. Sayup-sayup Satria mendengar suara adzan subuh berkumandang yang menandakan waktu shalat akan didirikan.
Lelaki itu terduduk lemas tidak berdaya sambil menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit yang dingin. Hingga suara yang sangat ia kenal memanggil namanya.
"Satria!"
Teriakan orang itu terdengar menggema di lorong-lorong rumah sakit yang sunyi. Satria menatap lelaki itu dan bangun dari posisinya duduk lalu menodong pertanyaan beruntun.
"Di mana, Nur! Bagaimana keadaanya? Apa dia baik-baik saja? Jawab!"
Raut wajah cemas dan sedih kantara diwajah Satria membuat Udin memeluk menantunya itu agar tenang.
Ujian dari Sang Robb memanglah berat, akan tetapi jika bersabar dan bertawakal semuanya pasti bisa dilewati dengan baik. Karena Allah sendiri 'lah yang berfirman 'Aku menguji Hambaku sesuai dengan kemampuannya'.
__ADS_1
Hal itu yang Udin percayai, setelah menantunya agak tenang. Ia mencoba membawa Satria menuju ruangan di mana ada yang lain di sana.
"Ayo kita menemui Mamimu dan yang lainnya," ajak Udin. Namun Satria menggelengkan kepala menolak, yang ingin ia temui adalah sang istri bukan yang lain.
Udin paham akan apa yang dirasakan oleh menantunya itu mengajaknya menjenguk Mala terlebih dahulu, karena operasi yang telah selesai. Semua berkat tindakan cepat yang dilakukan oleh Dokter Aditiya sebagai Dokter bedah terbaik di rumah sakit tersebut.
"Ayo, kita lihat Mala. Tapi jangan sedih ya," ujar Udin seraya menarik pelan tangan Satria menuju rungan Mala.
Langkah keduanya terdengar nyaring, selangkah demi selangkah mereka mendekati ruangan khusus. Tubuh Satria meremang ketika sampai dan melihat di balik dinding kaca yang menjadi pembatas ada istrinya yang terbaring dengan berbagai macam alat medis.
Udin hanya mampu mengelus pelan punggung menantunya itu, mencoba memberikan kekuatan agar mampu bersabar atas ujian yang sangat mengerikan ini.
Udin berusaha menghibur menantunya yang nampak tertekan dengan mengatakan, "Kamu ingin melihat putri kalian?"
"Putri!" pekik Satria dengan sorot mata bingung akan ucapan mertuanya tersebut.
"Iya, Putri kalian! Kamu dan Mala," ujar Udin memperjelas ucapannya lalu menceritakan apa yang terjadi ketika Satria pingsan tadi.
Tangis haru langsung menyeruak, Satria langsung memeluk mertuanya yang sudah berani bertindak disaat dirinya sebagai suami tidak ada.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan menangis, malu! Kamu sekarang seorang Ayah."
Satria melepaskan pelukannya dan menatap sang mertua lalu mengangguk.
"Aku seorang Ayah," batin Satria.
"Di mana putriku?" tanya Satria tiba-tiba membuat Udin tersenyum dan membatin.
"Kamu akan memasuki masa lebih sulit, Nak," batin Udin."
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1