
Sudah beberapa bulan ini selalu datang kerumah Mala dan Satria untuk ikut membantu pasangan suami istri itu. Hutang budi yang ia miliki, membuat hati kecilnya mencoba untuk membayar. Walaupun apa yang dia berikan mungkin tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan yang pernah pasangn itu berikan kepadanya.
Namun, Suci percaya. Jika, ia menanam sebuah kebaikan. Maka, kebaikan itu pun akan tumbuh dan berbuah kebaikan juga.
Pagi ini, dia tidak kuliah lagi. Sebab, ia telah keluar dari kampus setelah memikirkan dengan matang. Suci memilih untuk fokus dalam menajalankan anak cabang perusahan yang ayahnya berikan.
Terlebih setelah kejadian Mala yang depresi sampai kerasukkan membuat Suci hanya ingin berada didekat Cahaya. Dia tidak ingin mental balita itu terganggu dengan keadaan ibunya yang mengalami gangguan.
Suci hanya memikirkan Cahaya, sebab ia telah menganggap putrinya Mala itu seperti putrinya kandungnya sendiri. Walaupun tidak menyusui atau melahirkan.
Namun, ada ikatan yang kuat antara dirinya dengan balita itu.
"Kamu pasti suka ini," gumam Suci yang mampir membeli kue kering untuk Cahaya. Dia menengok tas belanjaannya dan tersenyum sambil mulai mengemudikan mobilnya.
Membawa kendaraan roda empat itu melaju, membelah jalan yang mulai ramai akan para pengguna yang lainnya.
Karena jam yang menunjukkan waktu beraktivitas, membuat beberapa titik temu (persimpangan) terkadang macet.
Namun, semangat wanita itu tidak pernah surut. Seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, senandung riang pun dia nyanyikan. Hingga mobil miliknya masuk gang dan terparkir cantik di halaman rumah yang dituju.
Ketika hendak keluar mobil ia melihat Mala tengah menggendong Cahaya. Senyum Suci pun semakin mengembang.
"Ma-Ma."
Langkah Suci terhenti sejenak, ia tertegun akan Cahaya yang menatapnya dan memanggil mama. Hal itu bagaikan anugerah yang tidak akan pernah ia tolak selama didunia. Sesuatu yang membuat hatinya berbunga-bunga, seperti seseorang yang sedang kasmaran.
Hingga Suci tersadar akan perasaanya dan mengucapkan salam, "Assalamualaikum."
Suci melihat Mala menoleh ke arahnya, walaupun nampak sekali raut wajah terkejut dari wanita itu yang melihat kedatangannya. Namun, Suci tetap berusaha untuk biasa saja. Sebab, yang paling terpenting untuknya adalah bisa bersama Cahaya. Balita yang telah mengingat hatinya. Putri dari Satria dan Mala itu memang benar-benar membuat siapa saja serasa tidak ingin jauh.
"Wa'alaikum salam, Nak Suci."
Mala tersadar dari terkejutnya melihat Suci setelah mendengar suara Mak Diam, kemudian ia mengajak Wanita itu masuk. Mereka berjalan bersama sambil sesekali bertanya tentang kabar dan sebagainya. Sampai di depan kamar, Suci menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Kamar Mala dan Satria adalah area terlarang buatnya. Dia mau lancang masuk kedalam, walaupun Mala sering mengajaknya. Suci lebih memilih untuk menunggu diruang tamu.
Sama seperti sekarang, ia izin pamit untuk ruang tamu sambil menunggu Cahaya yang akan dimandikan oleh Mala.
Sedangkan Mak Diam kembali ke dapur membuatkan minuman dan cemilan untuk Suci. Walaupun wanita itu sering kali menolak, akan tetapi dia tetaplah tamu yang akan dimuliakan oleh si tuan rumah.
Sebenarnya didalam hati Suci, dia ingin sekali merawat Cahaya. Dari memandikan, memberi makan dan tidur bersama balita itu. Apalagi sekarang Cahaya yang sudah mulai belajar berjalan, sedikit tertatih. Namun, hari-hari itu sangatlah berarti buat Suci. Dia sampai merelakan meninggalkan bangku kuliahnya, hanya untuk menjadi babysitter Cahaya.
"Nak Suci, ini minumnya," jelas Mak Diam sambil meletakkan nampan berisi air minum dan juga beberapa kue kering diatas meja.
"Makasih, Mak," ujar Suci dengan senyuman terbaiknya. Karena hanya senyum sedekah yang paling mudah.
Namun, terkadang sulit untuk orang lakukan ketika hati sedang gundah-gulana.
"Coba Nak Suci bisa tinggal disini? Emak hanya kasihan dengan Nak Mala, dia sering kelelahan. Hampir setiap pagi muntah-muntah, katanya maagnya kambuh. Emak jadi kasihan dengan Cha-Cha, dia sering kali minta digendong sama Nak Mala."
Suci hanya tertegun mendengar penuturan wanita di depannya, walaupun ia tahu jika Mak Diam hanya asisten rumah tangga disana.
"Maaf, Mak. Saya bukan mahram disini, jadi tidak baik jika saya tinggal disini. Tapi, saya akan usahakan untuk selalu berkunjung," jelas Suci memberi pengertian kepada Mak Diam akan batasan yang harus ia jaga.
Sama seperti benteng takeshi, Suci memang membuat batasan yang sangat nampak. Mulai dari menundukkan pandangannya ketika berpasangan dengan Satria. Serta menghindari kontak langsung dengan suaminya Mala tersebut.
Semua Suci lakukan karena memang sudah kewajibannya sebagai seorang muslim, takut kepada Sang Robb. Menghindari zinah-zinah yang mungkin saja tanpa mereka sadari, walau hanya dari sekedar memandang lawan jenis dan mengaguminya. Membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan, hingga terjadi zinah pikiran.
Suci tidak mau mengotori imannya dengan hal-hal seperti itu. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Itu prinsip wanita yang kini tengah duduk manis disofa sambil menunggu keluarnya Cahaya yang sedang dimandikan oleh Mala.
"Nak Suci, Emak pamit ke belakang ya. Masih ada yang harus dikerjakan," jelas Mak Diam pamit dan mendapatkan anggukan kelapa dari Suci.
Tidak berapa lama setelah kepergian Mak Diam, Mala datang dengan menggendong Cahaya.
Suci yang melihat kedatangan Cahaya, sangat ingin cepat-cepat mengambil alih balita itu.
"Ma-Ma."
__ADS_1
Sekali lagi Mala tertegun akan celotehan putrinya setiap kali melihat Suci. Kata 'Mama' memang ditujukan sang putri kepada Suci. Sebab, setiap melihat wajah Suci. Maka kata itu akan diucapkan oleh Cahaya.
"Maaf Tante, aku mandinya lama."
Mala berbicara mewakili putrinya, akan tetapi Mala terkejut ketika Cahaya yang tiba-tiba menangis.
Suci yang melihat balita itu menangis segera mengambil alih dari gendongan Mala dan menenangkan Cahaya.
"Mama! Mama! Mama!"
Hanya kata itu yang dikeluarkan oleh Cahaya, ketika digendong Suci.
"Iya, iya, Mama, Mama, tutut. Eh, salah ya? Kalau tutut seharusnya kereta api."
Terdengar gelak tawa Cahaya, Mala yang mendengar kata-kata itu pun ikut tersenyum. Dia tidak menyangka jika Suci bisa memikat hati putrinya.
Sebenarnya Mala mendengar semua yang dibicarakan oleh Mak Diam dan Suci tadi. Walaupun tidak ada niat untuk menguping. Namun, ketika ia menggendong Cahaya yang memang ingin ke ruang tamu. Tidak sengaja mendengar penuturan Mak Diam yang meminta Suci untuk tinggal disini.
Hati Mala kembali dipertaruhkan setelah mendengar hal itu. Dia berpikir keras, akan semua hal yang terjadi. Hingga akhirnya ia memutuskan hal yang memang seharusnya ia lakukan sejak lama. Yaitu meminang Suci menjadi madunya dan ibu untuk sang putri.
Mungkin dengan dekatnya Suci dengan putrinya adalah pertanda dari Sang Robb. Bahwa Mala harus menunaikan nazarnya yang dulu pernah diucapkan. Apalagi dia sudah membicarakan hal ini dengan sang suami. Membuat hatinya semakin yakin dan mantap untuk meminta Suci.
"Aku harus kuat," batin Mala.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1