Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Permintaan Mala


__ADS_3

Mala semakin menguatkan hatinya dan percaya jika ini adalah jalan yang terbaik untuk semuanya. Termasuk sang putri, dia yakin sekali jika putrinya akan sangat senang jika memiliki ibu sambung seperti Suci. Bahkan keduanya sangatlah akrab dan seperti terikat satu sama lain. 


"Ci, boleh kesini? Mbak mau berbicara," pinta Mala sambil menepuk sofa disampingnya. 


Suci mengangguk dan mendekati Mala, sambil menggendong Cahaya. Sesekali balita itu menarik hijabnya dan kemudian tertawa lepas. Membuat dirinya tidak kuasa ingin menghujani Cahaya dengan ribuan ciuman. Namun, ia tahan karena merasa tidak berhak. Apalagi ada Mala disana yang memperhatikan mereka. 


"Mbak mau menggendong Cha-Cha?" tanya Suci sembari mendudukkan pantatnya disofa.


Mala hanya menggelengkan menanggapi pertanyaan Suci. Dia kemudian menarik nafas panjang sebelum memulai berbicara. Ada beban yang serang dipukul, akan tetapi dia coba urai dengan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. 


"Ci, apa kamu masih mengingat masa dimana kamu pertama kali datang kesini?" tanya Mala pelan sambil menatap lekat wanita itu. 


Suci tertegun, akan tetapi ia coba untuk menjawab apa adanya. Sama seperti dulu ketika ia pertama kali bertemu dengan Mala. Walaupun kedatangannya ditolak mentah-mentah oleh Mala. Akan tetapi, Suci masih bisa masuk dan menjadi bagian dari pasangan suami istri itu. 


"Iya, Mbak. Tapi, maaf. Sebaiknya kita tidak membahas masa lalu, semua yang terjadi sudah ada suratan takdirnya," jelas Suci yang secara halus menghindari pembicaraan tersebut. 


Mala hanya mampu tersenyum kecut, semakin dia dihalangi untuk mencapai suatu tujuan? Maka, semakin kuat dia ingin mencapainya. Itulah Mala, walaupun banyak yang berubah. Namun, wataknya masih sama seperti dulu. Tidak ada kata pesimis selama masih hidup dunia. Semua bisa didapatkan jika berusaha dan berdoa. 


"Baiklah, Mbak tidak akan membicarakan masa lalu. Tapi, jika masa depan boleh 'kan?"


Dahi Suci mengkerut, berfikir. Mengira-ngira apa yang semua kemungkinan arah pembicaraan yang mereka akan bicarakan. Dengan perasaan penasaran akhirnya ia bertanya, "Masa depan siapa, Mbak?"


Binggo… .


Mala sudah yakin jika pertanyaan itu akan keluar dari bibir Suci. Seperti mendapatkan angin segar ia mulai menceritakan maksud dan tujuannya. 


Mula-mula Mala menceritakan jika mereka ingin menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Mala menambahkan jika janji adalah hutang. Apalagi nazar, hukumnya wajib dibayar. 


Setelah menceritakan berbagai hal yang akan menguatkan permintaannya supaya bisa disetujui oleh Suci. Akhirnya ia menjelaskan maksud yang sebenarnya. 


"Ci, kamu mau 'kan menjadi ibu sambung Cha-Cha?"


Bagaikan tsunami yang menerjang Aceh, hati Suci luluh-lantah. Wanita itu sampai menangis, setelah mendengar permintaan Mala. Seakan dunia hendak kiamat, kata yang pernah diucapkan itu kembali lagi terdengar.

__ADS_1


"Ci, kamu mau 'kan? Kamu sayang sama Cha-Cha 'kan? Kamu mau jadi Mamanya?" tanya Mala sambil menatap serius Suci. 


"Mbak," lirih Suci. Entah bagaimana caranya, tapi ia merasa tidak nyaman akan pembicaraan ini. 


"Mbak hanya meminta satu hal dari kamu? Apa kamu tidak bisa memberikannya?" Mala semakin menekan wanita itu agar mau memberikan sebuah kepastian. Sebab, Mala sudah yakin akan apa yang ia ucapkan. 


"Mbak boleh minta yang lain, tapi… ," Suci berat untuk meneruskan ucapannya.


"Mama!"


Celotehan Cahaya membuat air mata Suci kembali turun, seperti hujan yang ditiup oleh angin. Cairan bening itu terjun bebas. 


"Jangan menangis, Ci. Kasihan Cha-Cha, dia mengerti apa yang kamu rasakan."


Suci menatap sekilas Mala, kemudian menatap Cahaya. Balita itu telah mengikat hatinya. Wajah yang menggemaskan itu ikut murung melihatnya bersedih. 


"Kamu jangan sedih, Cha. Mama nggak nagis 'Ko, cuma---."


Namun, Mala yang mendengar dan melihat itu, malah tersenyum senang. Itu pertanda jika Suci mau menerima permintaannya, tanpa ada paksaan sama sekali. Semuanya mengalir begitu saja. 


"Maaf, Mbak," lirih Suci merasa tidak enak hati. Karena telah lancang, menurutnya. 


"Nggak papa 'ko. Mbak malah senang, jika kamu mau menjadi Mama Cha-Cha," jelas Mala. 


"Malam ini kamu datang lagi ya? Mbak mau membahas masalah pernikahan kalian."


Suci berkali-kali mengerjapkan matanya, ia takut apa yang baru didengarnya hanya angin lalu yang menerpa. Sambil menatap lekat wajah Mala ia kemudian mempertanyakan maksud dari pertanyaan wanita itu. 


"Maksud, Mbak apa? Pernikahan siapa?" tanya Suci bingung dan syok. Seakan-akan dia mau diajak nikah, tapi tanpa persetujuan. Terkesan seperti nikah dipaksa. Tidak ada wanita yang mau, semua wanita pasti ingin menikah dengan pilihan mereka sendiri. Mencari pasangan hidup tidak semudah mencari sepasang baju baru. Pikirnya. 


"Pernikahan kamu dengan Kak Satria. Kamu sudah setuju 'kan menjadi Mama Cha-Cha?  Syarat utamanya ya, kamu menikah sama Ayahnya," Mala menjelaskan secara perlahan agar wanita itu paham. Walaupun, Mala tahu jika Suci sangat terkejut akan permintaannya yang terkesan memaksa. 


Suci menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Terasa paru-parunya kekurangan oksigen setelah mendengar permintaan Mala. Suci mencari kata yang tepat untuk menghindari pembicaraan ini, terlebih tatapan Mala yang seakan sangat berharap membuatnya bingung harus mengatakan apa. 

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Aku harus izin sama Ayah."


Akhirnya kata itu yang keluar, berharap agar Mala mau mengerti. Sebab, semua perkara tentang dirinya harus diketahui oleh sang Ayah. 


Mala kemudian melancarkan aksi selanjutnya, yaitu menarik simpati Suci. Mencari celah di hati wanita itu agar bisa ia rasuki.


"Iya, nggak papa. Kamu memang wajib minta izi sama Ayahmu. Tapi,  Mbak nggak yakin jika esok masih ada atau---."


Mala sengaja tidak meneruskan ucapannya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Memulai drama yang mungkin akan menarik simpati Suci. 


"Kamu tahu, Ci. Jika, kedua mertua Mbak mengalami kecelakaan pesawat. Tubuh keduanya hancur bersama dengan bangkai pesawat. Polisi  meminta kami melakukan tes DNA dan sampai sekarang bagian tubuh mereka belum ditemukan. Kecuali hanya beberapa kain pakaian yang mereka pakai."


"Mbak hanya tidak ingin jika nanti Mbak tiada? Cha-Cha akan mendapatkan ibu sambung yang hanya menyayangi Ayahnya dan mungkin akan menyiksa Cha-Cha. Mbak nggak mau, Ci! Kamu tahu 'kan jika Kak Satria sekarang termasuk orang yang kaya akan harta, apalagi wajahnya tampan. Mbak nggak mau---."


Tangis Mala pecah seketika, niat awal hanya ingin memainkan peran. Namun, nyatanya sampai terbawa perasaan sendiri. Sebab, memikirkan hal yang tidak-tidak. 


Suci yang sedari tadi diam, kini mendekati Mala. Kemudian memeluk wanita itu dari samping. Cahaya diletakkan diantara mereka sebagai perantara perasaan yang mungkin bisa disalurkan. Suci paham akan ketakutan yang diutarakan oleh Mala, sebab ia juga wanita. Apalagi Suci sangat tahu jika Mala sangat menyayangi suaminya itu. Bahkan rela melakukan sesuatu yang mungkin sangat berat dilakukan oleh wanita lain. 


"Mbak, aku tidak bisa berjanji apapun. Tapi, aku akan berusaha yang terbaik," ujar Suci tulus. 


Deg… .


"Ko' aku yang nggak yakin ya?" batin Mala. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2