
Akhirnya karena terdesak akan keadaan Satria mengatakan yang sesungguhnya, bahwa Pak Marcel memberikan amanah kepadanya yaitu perusahan milik lelaki itu.
Pak Marcel yang dulu sangat berharap jika Satria adalah putra kandungnya, akan tetapi kenyataan berkata lain. Bahkan sampai harapan jika sang putri bisa mengikat Satria sebagai bagian dari anggota keluarganya. Namun, takdir juga berkata lain. Akhirnya karena niat yang telah diucapkan.
Satria juga bingung harus berbuat apa, sebab baginya menjalankan sebuah swalayan saja sudah berat. Apalagi sampai harus menjalankan sebuah perusahaan.
Hal itulah yang sangat mengganggu pikiran lelaki itu, bukan hal yang mudah dan pasti memiliki tantangan yang berat buat dirinya.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Nur?" tanya Satria meminta pendapat dari istrinya.
Mala menutup kedua matanya sejenak dan kemudian menatap sang suami, ia coba memikirkan sebelum mengambil sebuah keputusan.
Sebagai seorang istri Mala begitu sangat dihargai, hampir setiap hal tentang masa depan hidup suaminya akan meminta pendapat darinya.
Tidak ada hal yang paling membuat seorang istri bahagia, kecuali dihargai dan dimengerti. Itulah alasan terbesar untuk Satria selalu melibatkan istrinya dalam segala hal. Termasuk saat ini, meminta pendapat sang istri.
"Kalau menurutku, karena niat yang pernah diucapkan. Itu bisa dikatakan sebuah nazar. Tapi, apa Kakak mampu menerima permintaan Pak Marcel itu?"
Pertanyaan istrinya langsung mengenai hati Satria, sebab hal itu yang membuatnya menjadi dilema. Sebab, Satria tahu batas ketidak mampuannya. Kuliah saja dia belum selesai ini harus menjalankan perusahan yang besar. Sedangkan perusahaan miliknya saja dia serahkan kepada kedua orang tuanya untuk menjalankannya.
"Itu dia, Nur! Aku bingung," lirih Satria.
Mala menimbang-nimbang hukum dari sebuah nazar, sampai akhirnya ia mengeluarkan sebuah pendapat.
"Kak, Pak Marcel memiliki keluarga tidak?" tanya Mala dengan sorot mata serius.
Satria mengingat kembali hal apa saja yang diceritakan oleh Pak Marcel kepada dirinya.
"Kalau keluarga beliau sih, enggak ada disini Nur! Tapi, kalau keluarga istrinya banyak," jelas Satria.
"Oh, begitu ya kak. Aku cuma takut nanti masalah ini akan berbuntut panjang. Tapi, kenapa Pak Marcel memberikan perusahaan kepada Kakak yang merupakan orang lain, sedangkan istrinya juga memiliki hak terhadap apa yang dimiliki oleh suaminya," tanya Mala penasaran.
Satria menjelaskan jika istrinya Pak Marcel telah meninggal dunia ketika melahirkan Elissa, akan tetapi istri Pak Marcel memiliki beberapa anggota keluarga yang pastinya nanti akan menuntut hak mereka kepada lelaki itu.
Hal ini yang menambah berat beban menerima permintaan Pak Marcel, karena Satria tidak ingin dicap sebagai orang yang mengambil hak orang lain.
__ADS_1
"Jadi, menurut kamu bagaimana, Nur?" tanya Satria ingin mendengar pendapat sang istri.
"Kalau Kakak, minta pendapatku? Maka jawabannya, Kakak harus menolak permintaan Pak Marcel. Sebab, kita bukan siapa-siapa beliau. Takutnya, nanti malahan akan menimbulkan masalah yang besar di kemudian hari. Tapi, kalau beliau mengajak bekerja sama? Itu bukan masalah sih, sebab kita hanya akan jadi patner kerja."
Satria tersenyum lebar mendengar pertanyaan sang istri, apa yang istrinya sampaikan sangatlah membantunya. Terkadang dia sangat membutuhkan dukungan sang istri, supaya apa yang diusahakan olehnya bisa mendapatkan ridho dari Sang Robb.
"Nanti, temani aku ya Nur? Menemui Pak Marcel dan mengatakan jika kita menolak permintaan beliau yang akan memberikan perusahaan dan hanya akan menerima permintaan untuk menjalin kerja sama saja."
Mala mengangguk menanggapi ucapan suaminya, tidak berapa lama wanita itu menguap. Itu pertanda matanya mulai mengantuk.
Satria yang melihat istrinya menguap sambil memejamkan mata hanya mampu tersenyum, karena menurutnya tingkah istrinya sangatlah menggemaskan.
"Sudah ngantuk, Nur?" tanyanya yang ingin membuat istrinya kesal akan pertanyaan yang ia sudah tahu apa jawabannya.
Namun, kali ini Mala tidak menanggapi ucapan sang suami dan memilih untuk memejamkan matanya. Lelah yang wanita itu rasakan hari ini. Dari kedatangan tamu yang sangat ia hindari sampai insiden sang putri terjatuh. Malam ini, mendengar permintaan sang suami yang sangat sulit.
Hari yang sangat melelahkan menurut Mala, walaupun ia tahu selama masih bernafas. Selama itu juga masalah dan ujian akan datang.
"Nur," panggil Satria pelan. Namun, tidak ada respon dari sang istri yang menandakan bahwa wanita itu telah tertidur.
Menjalani pernikahan hanya karena ingin terbebas dari bayang-bayang keluarga mereka yang sama-sama terpuruk waktu itu, akan tetapi Satria selalu bersyukur. Banyak hikmah yang menjadikan dirinya untuk semakin dewasa dalam menyikapi hidup ini.
"Nur, aku ridho kamu menjadi istriku," batin Satria.
Satria pun mulai memejamkan matanya setelah mencium ubun-ubun sang istri, tentu tidak lupa membacakan shalawat Nabi yang sudah menjadi kebiasaannya dari awal menikah.
Cinta akan tumbuh seiring waktu, walaupun awalnya tidak mencintai dan belum mengenal satu dengan yang lainnya. Namun, waktulah yang menjawab semuanya. Tinggal hanya bagaimana mereka menjaga dan bersabar hingga pada akhirnya semua akan berakhir.
.
.
.
Sesuai dengan kesepakatan malam tadi, bahwa Satria akan menolak permintaan Pak Marcel. Lelaki itu juga membawa sang istri untuk menemaninya.
__ADS_1
Sudah dari subuh Mala disibukkan dengan urusan dapur, walaupun tidak sholat subuh karena datang bulan. Namun, Mala tetap bangun subuh untuk pekerjaan yang lain. Apalagi hari ini mereka akan berangkat ke perusahan Pak Marcel.
"Kak, Cha-Cha kita bawa kah?" tanya Mala sambil menyuapi sang putri.
Saat ini mereka sedang sarapan bersama, Satria hanya mengangguk kecil menanggapi pertanyaan sang istri karena mulutnya yang masih mengunyah makanan.
Satria tidak ingin tersedak karena makan sambil berbicara, apalagi dia tahu akan adab dalam makan yang tidak boleh berbicara.
"Tapi, Kak. Bagaimana kalau nanti Cha-Cha rewel? Kita 'kan enggak tahu kapan pulangnya? Bisa cepat bisa juga tidak."
Satria hanya menatap sekilas sang istri dan kembali menyantap makanannya.
Mala yang tidak mendapatkan jawaban kembali bertanya, "Kak."
"Aku sedang makan, Nur. Nanti, kita bahas ya," jelas Satria. Entah mengapa, tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.
Setelah mendengar hal itu Mala diam dan kembali menyuapi sang putri, setelah suaminya selesai makan. Mala menyerahkan putrinya kepada sang suami untuk dijaga sebab juga ingin makan. Selama menjadi istri dan ibu, Mala akan mengisi perutnya setelah anak dan suaminya. Begitu berat pengorbanan menjadi seorang ibu dan istri.
Namun, tiba-tiba ponsel milik Satria berdering tanda ada panggilan masuk. Lelaki itu segara mengangkat telpon dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo, iya dengan saya sendiri."
Mala hanya diam memperhatikan sang suami yang tengah menelepon sampai teriakan suaminya mengejutkannya.
"Apa? Tidak mungkin!"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1