Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Pernikahan Yang Penuh Drama


__ADS_3

Azzahra terdesak dan akhirnya menyerah, dia menyanggupi permintaan Mala tanpa syarat apa pun. Semuanya ia lakukan demi membahagiakan sang putri, walau harus mengorbankan perasaannya sendiri. Kasih sayang seorang ibu sepanjang jalan, itulah perasaan Azzahra yang menyandang status ibu susu Mala. Bayi yang dulu mungil dan 'tak berdaya, kini telah mengandung. Waktu seakan cepat sekali berlalu, baru saja kemarin rasanya Azzahra menimang-nimang Mala. Namun, sekarang Mala tlah dewasa. Azzahra menguatkan hatinya dan bertekad akan melakukan yang terbaik untuk orang-orang terkasihnya. 


Sesuai permintaan Mala, Udin dan Azzahra melakukan pernikahan. Mereka melaksanakannya di rumah penuh kenangan, di mana lagi kalau bukan di rumah almarhum sang kakek dan nenek yang telah diwariskan sebagai amal jariah mereka yang telah berpulang ke pangkuan Ilahi terlebih dahulu.


Pernikahan Udin dan Azzahra dilakukan dengan sederhana saja, bahkan terkesan ala sekedarnya. Azzahra yang meminta gara pernikahan mereka dilakukan secara sirih membuat semuanya berjalan tanpa hambatan. Padahal Udin menolak keras permintaan Azzahra tersebut. Namun, yang namanya wanita, sifat keras kepala dan ingin menang sendiri membuat Udin angkat tangan. Bukan Udin ingin mengikat Azzahra dengan pernikahan yang mereka lakukan hanya demi membahagiakan sang putri. Namun, Udin tidak ingin nanti ada masalah yang terjadi jika mereka menikah secara siri. 


Udin berfikir jauh kedepan, bagaimana nanti dengan dokumen-dokumen yang sewaktu-waktu akan dicari jika mereka tidak mengurusnya sekarang? Namun, seakan sia-sia. Azzahra tetap kekeh akan pendiriannya yang mengatakan, "Nanti kita atur, jika ada uang? Semuanya pasti beres."


Iya, uang adalah segalanya. Jika ada benda itu, semua hal akan berjalan dengan mulus seperti jalan tol. Namun, akan tetap memiliki resiko sendiri. Hal itu yang menghantui Udin, akan tetapi ia enggan berdebat dengan calon istrinya itu. 


"Semua sudah siap?" tanya Azzam sembari menampakkan kepalanya. Pemuda itu yang akan menjadi wali nikah sang umi. Semua hal harus ia hendel, demi apa? Demi wujud bakti seorang anak kepada orang tuanya, hanya itu saja. 


"Sudah, ayo keluar!" ujar Azzahra seraya menatap tajam Udin. 


Udin hanya mampu membuang nafas panjang, belum sah menjadi istri. Wanita itu sudah memperbudaknya, jika Udin bisa memilih? Tentu ia akan memilih almarhum Azizah sebagai pendampingnya selamanya. 


Wanita berkulit hitam manis dengan tutur kata sopan membuat siapapun akan terpikat, berbeda dengan saudarinya Azzahra. Wanita bar-bar yang berbicara seenak jidat dan juga judes. Pikir Udin. 


"Pak! Ayo," ajak Azzam yang sedari tadi masih berdiri di ambang pintu menunggu lelaki yang akan menjadi suami uminya tersebut, sebab acara yang akan segera dimulai.


Urin terpanjat kaget dan mengelus dadanya pelan sebelum menghampiri Azzam yang sebentar lagi akan menjadi anak tirinya tersebut. 


"Bapak jangan melamun, nanti kemasukan Makhluk halus," celetuk Azzam seraya mempercepat langkahnya. 


Udin hanya mampu menggelengkan kepala menanggapi celotehan pemuda itu, Azzam sangat mewarisi cara bicara uminya yang terkesan ceplas--ceplos.


Disinilah mereka duduk lesehan di atas ambal dengan wajah-wajah yang sulit diartikan, Udin merasa gugup. Padahal ini pernikahan kedua untuknya, mungkinkah? Gara-gara calon istrinya adalah saudari almarhum ibu Mala yang membuat ia menjadi gugup. Karena tidak mungkin ia menaruh hati pada Azzahra, wanita yang sangat ia tahu sifat dan wataknya itu. 

__ADS_1


"Apa sudah bisa di mulai?" tanya penghulu membuat semua mata tertuju padanya.


"Insya Allah, Pak," jawab Udin mantap. Dia tepis semua bisikan-bisikan syaitan yang mencoba menggoyahkan imannya, dengan zikir dan istigfar yang 'tak putus-putusnya dilantunkan dalam hati. 


"Mohon maaf, Pak penghulu. Saya putra Umi Azzahra, yang akan menjadi wali nikah Umi saya," jelas Azzam dengan ramah seraya mengembangkan senyum terbaik. 


Sang penghulu menganggukkan kepala seraya berubah posisi dan mempersilahkan Azzam untuk duduk berhadapan dengan mempelai pria. 


Di pihak Udin ada Ikbal yang menjadi saksi nikah pihak lelaki dan di pihak Azzahra ada Satria yang menjadi saksi mempelai wanitanya. 


Acara ijab--kabul yang sangat sederhana dan diisi oleh keluarga inti saja membuat hati Mala miris. Namun, coba ia tepis semua dengan senyuman yang tidak pernah memudar. 


"Bismillahirrohmanirrohim, saya mulai ya, Pak! Ikuti ucapan saya," pinta Azzam dengan sorot mata serius yang mendapat angukan oleh Udin. 


"Samsudin bin Bahtiar, saya nikah dan kawinkan engkau dengan ibu kandung saya Azzahra binti Ibrahim dengan mas kawinnya sepasang cincin kawin dibayar tunai!" 


Suara Azzam menggelegar mengisi seluruh ruangan membuat semua yang ada disana merasa merinding, seolah-olah sedang uji nyali. 


Udin tergagap, entah apa yang merasukinya. Semua kata-kata yang sudah ia halali dari tadi hilang seketika. Udin merasa malu, kini wajahnya tengah merah padam, akan tetapi hal ini malah menjadi bahan ledekan Mala. 


"Bapak! Bapak lucu, wajahnya merah. Bapak, baik-baik saja 'kan? Apa perlu kita kerumah sakit dulu cek tensi darah?"


Candaan Mala membuat semua orang hanya mampu menggelengkan kepala, untung tidak ada Marisaa di sana. Jika ada? Maka mertuanya itu akan mengeluarkan kata-kata pedas. Marissa yang tengah sibuk menghandle semua pekerjaan dan tidak bisa hadir dipernikahan besannya itu hanya menitipkan salam saja. 


"Pak! Jika gagal sampai tiga kali!" ujar Azzam seraya mengangkat tangannya dan memperlihatkan tiga jarinya kepada Udin. "Maka pernikahan ini akan ditunda."


Sang penghulu juga menimpali, "Pak Udin, ini pernikahan Bapak untuk kedua kalinya. Saya rasa Bapak pasti sudah berpengalaman. 

__ADS_1


Entahlah mengapa? Kata-kata sang penghulu seakan tidak membantu, malahan terkesan aneh di telinga Mala dan membuat wanita hamil itu tertawa lepas. 


"Hahahaha …," Mala tertawa seraya memegangi perutnya karena saking lucu menurutnya. 


"Bapak memang pengalaman, tetapi ilmunya tidak diterapkan," ujar Mala seraya mengurai tawanya. 


Udin hanya bisa menunduk malu, apa yang dikatakan oleh Mala adalah kebenaran. Satria yang melihat sang Bapak yang menahan malu, tidak tahan lagi dengan sikap sang istri yang sudah keterlaluan menurutnya.


"Nur! Jaga sikap!" ujar Satria seraya menatap tajam wanita hamil itu. Mala akhirnya diam dan menundukkan kepala menghindari tatapan tajam sang suami. 


"Mohon maaf, Bang Azzam. Bisa diteruskan?" ujar Satria seraya menatap Azzam dengan wajah tegang, takut pemuda itu tersinggung.


"Baiklah, saya ulangi lagi. Tolong kali ini disambut dengan cepat dan tepat ucapan saya, Pak!" ujar Azzam dengan wajah serius dan mendapat anggukan kepala Udin. 


"Samsudin bin Bahtiar, saya nikah dan kawinkan engkau dengan ibu kandung saya Azzahra binti Ibrahim dengan mas--kawinnya sepasang cincin kawin dibayar tunai!" 


"Saya terima nikah dan kawinya Azzahra binti Ibrahim dengan mas--kawin tersebut dibayar tunai!" jawab Udin dengan lantang. 


"Hentikan!"


"Pernikahan ini tidak sah!"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2