Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Bertemu Abi Aziz


__ADS_3

Entah sebuah kebetulan atau memang jalan Tuhan, Aziz datang ke perusahaan Nur Permata guna mengajukan surat lamarannya. 


Lelaki itu telah berhenti menjadi guru honorer di pondok pesantren dan gelar Ustadz yang ia emban telah di copot. Banyak orang yang tidak paham dan masih memanggil lelaki itu dengan gelar Ustadz. 


Padahal Ustad dalam bahasa Arab yang artinya guru, karena waktu itu Aziz menjadi guru di pendok pesantren. Namun, sekarang lelaki itu telah mengundurkan diri sebab membutuhkan uang lebih. Itulah alasan terbesar Aziz berhenti mengajar dan melamar di perusahaan Nur Permata dan diminta ke kantor untuk bertemu Marissa. 


Marissa, Ikbal, Satria dan Mala saling pandang, mereka benar-benar terkejut. Sebab baru membicarakan lelaki itu dan ternyata dia datang. Namun, mereka masih membohongi diri mereka masing-masing dan menanggapi kalau yang namanya Aziz bukanlah Abinya Mala, akan tetapi orang lain. 


Marissa menyuruh sang sekretaris membawa orang yang bernama Aziz untuk masuk ke ruangannya, sang sekretaris pun melaksanakan perintah yang diamanatkan kepadanya dan berlalu.


Setelah kepergian sang sekretaris, tiba-tiba keadaan menjadi sunyi. Mereka masih mencoba menyangkal apa yang akan terjadi, hingga suara derap labgkah kaki terdengar dan tidak lama kemudian sekretaris tadi kembali. 


Marissa menyuruh sang sekretaris untuk masuk dan terlihat seorang lelaki berkemeja putih mengekor di belakang sang sekretaris. 


Semua orang diam mematung ketika melihat dengan jelas siapa orang itu, sama dengan lelaki itu. Dia seketika membeku di tempat serasa semuanya hanyalah mimpi. 


"Maaf, Bu Marissa. Saya kembali ke ruangan saya."


Mereka semua tersadar setelah mendengar ucapan sang sekretaris yang pamit undur diri. 


Ikbal mencoba menetralkan suasana, "Ehem, mohon maaf, Pak. Silahkan duduk."


Ragu-ragu Aziz mendekat dan duduk di pojok sofa dengan keringat yang mengucur deras, entah kesialan apa yang ia lakukan hingga bertemu dengan Mala. Dia dari dulu amat membenci wanita hamil itu, akan tetapi untuk saat ini ia coba tutupi. Karena ia memerlukan uang yang banyak untuk kebutuhan ibu dan adiknya. 


"Mohon maaf, dengan Bapak Aziz? Apa anda masih ingat dengan saya?" tanya Ikbal seformal mungkin agar tidak menyinggung perasaan lelaki itu. 


Aziz hanya mengangguk dan kembali menundukkan kepalanya segan, ia merasa berada di dalam oven pembeku. Dingin dan membuat tubuh tidak bisa bergerak. 


"Abi," lirih Mala memanggil lelaki itu, hingga yang dipanggil mendongak dan menatapnya nanar.


Tatapan mereka saling bertemu, mata Mala menampakkan perasaan sedih dan haru bisa bertemu dengan lelaki yang pernah merawatnya ketika kecil dulu. 


Istilah kata yang selalu Mala ingat adalah 'hutang emas bisa dibayar, utang budi dibawa mati'.  Hal itu yang membuat Mala tidak bisa berbuat kejam kepada sang abi walaupun ia sangat ingin melakukannya. 

__ADS_1


"Apa kabar, La? Bagaimana kehamilan kamu?" tanya Aziz basa-basi. Namun, semua berubah seketika tegang ketika Mala menghampiri lelaki itu dan menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan kepala yang ia letakkan di pangkuan sang abi. 


Mala menangis tersedu-sedu, ia juga tidak paham kenapa bisa seperti ini. Namun, ada dorongan yang kuat dari dalam dirinya hingga membuatnya melakukan hal itu. 


"Nur, ayo bangun," ujar Satria seraya mendekati sang istri dan memegang bahunya, akan tetapi seolah tidak mau beranjak. Mala diam dan masih menangis.


Semua orang bingung tidak terkecuali Aziz, tiba-tiba ia merasa iba dan tanpa sadar mengelus puncak kepala Mala yang dibalut oleh hijab dengan lembut.


Mala merasakan perhatian dari sang abi menjadi senang, ada kebaikan yang tidak dapat diucapkan sehingga ia mendongak dan menatap sang abi sendu. 


"Bi, maafkan Mala ya. Mala janji jadi anak yang baik," katanya dengan lelehan air mata. 


Aziz tak kuasa menahan perasaan sedih, entah mengapa? Sikapnya yang angkuh dan sombong bisa luluh--lantah ketika melihat Mala seperti ini. Sebab Aziz hanya melihat Mala yang kuat dan tremamental, berbeda dengan saat ini. Wanita hamil itu terlihat penuh akan kesedihan dan beban yang mendalam. 


"Ehem, Papi dan Mami ada rapat. Maaf ya, kami pamit dulu," jelas Ikbal yang tadi mendapat pesan dari asistennya yang mengatakan jika rapat tentang pengembalian harga batu bara yang sempat anjlok akan di mulai.


Aziz terkejut ketika mendengar lelaki yang ia temui ketika ijab kabul sang mantan istri memanggil dirinya papi dan mami, yang berati mereka adalah mertua Mala. 


"Tunggu, bagaimana dengan lamaran saya?" tanya Aziz spontan. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan emas untuk bisa bekerja di perusahaan Nur Permata, terlebih lagi ia juga sudah mengundurkan diri. Hal itu membuatnya harus bisa bekerja. 


Aziz hanya mampu diam seketika dan menatap kepergian pasangan itu, hingga menghilang dari balik pintu. 


Satria hanya mampu membuang nafas panjang setelah kedua orang tuanya pergi untuk rapat, ia menatap Aziz dan istrinya yang masih setia duduk di bawah dengan kepala yang berada diatas pangkuan lelaki itu. 


"Nur, ayo duduk sini," pinta Satria kepada sang istri. Namun, mendapat gelengan kepala wanita hamil tersebut. 


Aziz mencoba membujuk Mala agar mau mendegarkan sang suami, sebab ia juga merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini. 


"Mala, apa kamu ingat hukumnya seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya?" tanya Aziz yang sukses membuat Mala bangun dan langsung duduk diatas pangkuan sang suami. 


Satria dan Aziz melonggo dengan mulut yang terbuka lebar melihat tingkah Mala, Aziz sampai  tidak kuasa menahan tawa. 


"Hahahaha, turun Mala. Apa kamu tidak kasihan melihat suami kamu yang kesulitan bernafas?"tanya Aziz disela tawanya. 

__ADS_1


Mendengar penuturan sang abi membuat Mala semakin mempererat dekapan tangannya yang berada di leher sang suami membuat suaminya kesulitan untuk bernafas.


"Nur, lepaskan! Aku tidak bisa bernafas," jelas Satria.


Mala segera melepaskan pelukannya dan duduk di samping sang suami, akhirnya mereka mulai bercerita tentang banyak hal. Aziz tanpa sadar terus menceritakan kenakalan Mala kepada suaminya dan mendapatkan respon yang luar biasa dari Satria.


Aziz dan Satria tertawa ketika mengingat bagaimana sikap Mala ketika masih di pondok pesantren, gadis yang bar-bar dan mempunyai keberanian yang tinggi. Tidak takut dengan siapapun kecuali kepada Sang Robb. 


Setelah dirasa cukup untuk nostalgianya, Satria mulai menginterview sang abi. Ia juga ingin mencari tahu apa penyebab lelaki itu melamar di perubahan miliknya. 


"Jadi, Abi mau bekerja disini?" tanya Satria membuka pembicaraan.


Aziz mengangguk dan mengutarakan keinginannya yang mau bekerja di sana beserta alasannya. Satria hanya mengangguk-anguk mencerna baik-baik ucapan lelaki itu agar bisa menentukan langkah apa yang akan ia lakukan. 


"Oke, baiklah. Abi diterima di sini Sebagai OB? Mau?" 


Wajah lelaki itu seketika berubah menjadi tidak bersahabat dari sebelumnya, dengan gejolak yang ada. Namun, ia coba tahan. 


"Baiklah," jawabnya singkat. 


"Apa? Abi mau?" tanya Mala tidak percaya. 


"Abi butuh uang."


"Untuk apa?"


"Ah, itu… ."


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2