Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Diskusi Ala Pengejar Cinta Robb


__ADS_3

"Itu…," Marissa menjadi tidak yakin.


"Kita lakukan tes DNA lagi, aku juga ingin Papi ikut melakukan tes DNA tersebut," ujar Satria yang sudah lama memikirkan hal ini. 


"Papi juga?" tanya Ikbal terkejut. 


"Iya, kita belum yakin! Tetapi ada Mami di sini, mungkin bisa menjelaskan semuanya?" ujar Mala menimpali ucapan mertuanya. 


Marissa meremas ujung bajunya, dia tiba-tiba gugup. 


"Apa Anda bisa menjelaskan kejadian kronologisnya?" tanya Azzam dengan nada mengejek.


Tak… .


Kepala Azzam di jitak Udin yang duduk di sampingnya, membuat pemuda itu menatap tajam lelaki itu. 


"Bapak! Ini sakit tahu?" teriak Azzam geram. Namun hal itu malah jadi bahan tawa yang lain. 


"Bicara yang sopan, jika kamu mau di hormati orang lain."


Tiba-tiba semua terdiam setelah mendegar nasehat lelaki itu.


"Ehem…," Azzahra merdehem sebelum berbicara, "Ibu Rissa, apa Anda yakin--seyakinya? Jika Marcel ayah biologis Satria?."


Pertanyaan tersebut berhasil membuat Marissa binggung, antara malu dan merasa tidak nyaman mengungkit masa lalunya. 


"Mi, jawablah dengan jujur," pinta Ikbal sambil menggenggam tangan istrinya yang menegluarkan keringat ternyata wanita itu tengah gugup.


"Saya yakin, sebab hanya Marcel kekasih saya, dan hanya lelaki itu yang melakukan hal… ," belum selesai Marissa meneruskan ucapaknya telah di potong Azzahra.


"Berapa kali Anda melakukan hal itu?" tanya Azzahra dengan sorot mata tajam. Dia paling benci melihat Manusia yang telah melakukan kesalahan, akan tetapi tidak mau mengakuinya dan malah seolah tidak bersalah.


"Hanya sekali," lirih Marisaa terpojokan. 


"Hahahah… ," tawa Azzahra dan Udin yang tidak habis pikir akan jawaban yang keluar dari mulut besannya tersebut. Berbeda dengan Ikbal dan Satria yang membatu mendegar hal itu. 


"Kenapa Umi dan Bapak ketawa?" tanya Mala polos. 


"Ya jelaslah, mereka ketawa. Emang kamu engga tahu? Wanita manapun tidak akan hamil, jika hanya melakukan hal itu sekali."


Penjelasan Azzam membuat dia ditatap dengan tatapan aneh oleh mereka yang ada di sana. 


"Apa?" tanya Azzam ketus. 


"Anak Umi pintar, tapi jangan jadikan hal itu sebagai alat untuk berzinah, ya?" 


Azzam mengganggu mengerti akan ucapan Uminya.

__ADS_1


"Jadi, Kak Satria anak Papi Ikbal?" tanya Mala lagi. 


Ikbal segera menatap nanar wajah istrinya, seolah meminta klasifikasi atas pertanyaan itu. 


"Mami, tidak pasti, Pi," lirih Marissa yang juga tidak yakin akan hal yang pernah terjadi tersebut.


"Kalau begitu, untuk memastikan semuanya kita memang harus melakukan tes DNA," terang Satria. 


"Pak, kapan akan melamar Umi?" Mala mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak memojokkan Maminya lagi.


Pertanyaan Mala sukses membuat semua perhatian tertuju kepadanya. Azzam sampai bersungut-sunggut kesal, "itu nanti saja di bahas," terangnya yang memang tidak menyukai Udin sebagai ayah sambungnya. 


"Nanti, Nak. Bapak ingin sekali malihat kamu dioperasi terlebih dahulu," terang Udin mengulur waktu. Jika nanti ia memang harus menikah dengan Azzahra, dia ingin putrinya telah sembuh dari penyakit yang di derita, agar mereka dapat berkumpul seperti sebuah keluarga yang utuh. Ada kebahagiaan yang besar jika Udin sebagai bapaknya Mala bisa mewujudkan hal itu, dia yang dulu suka marah-marah terhadap putrinya dan telah gagal menjadi seorang ayah buat putrinya tersebut ingin memperbaiki kesalahan yang telah berlalu itu. 


Ting… .


Suara notifikasi menganggetkan mereka semua, ternyata asal bunyi tersebut dari ponsel milik Azzam. Pemuda itu segera mengotak-atik benda pipih itu sambil tersenyum.


"Sepertinya mangsa kalian telah memakan umpan kita," terangnya Azzam dengan senyum yang terus mengembang.


"Maksudnya?" tanya Satria yang tidak paham akan maksud pemuda itu. 


Akhirnya Mala menceritakan semuanya kepada semua orang, walau pun ia merasa tidak enak sebab belum izin kepada suaminya. Namun, semua ini ia lakukan demi kebaikan. Rencana yang ia dan abangnya atur mulai menampakan hasil, Mala tidak ingin su'uzun dengan Suci, maka dari itu ia melakukan sisat seperti ini dengan abangnya.


"Jadi, apa maksudmu dengan 'mangsa kalian telah memakan umpan'?" tanya Satria penasaran.


"Dari mana kamu dapat vidio ini?" tanya Ikbal penasaran.


"Ini? Dari salah seorang kariyawan Mala yang bekerja di minimarket," jelas Azzam.


"Apa yang mereka lakukan?" tanya  Azzahra penasaran dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu. 


"Entahlah, Umi!" jawab Azzam sambil mengangkat bahunya. 


"Bagaimana sih kamu!" pekik Marissa kesal. Dia yang sedari tadi diam memperhatikan dan ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan malah mendapat kekecewaan.


"Mau bagaimana lagi? Orang suruhanku hanya menjaga di luar rumah," balas Azzam lesu. 


"Tidak apa-apa, kita lihat dari CCTV saja," ucap Udin dengan santai, membuat ia menjadi pusat perhatian. 


"CCTV mana, Pak?" tanya Mala binggung. 


"Di rumah kalianlah! Bapakkan pernah tinggal di sana dan menjaga rumah itu selama kalian pergi beberapa waktu lalu. Dikarenakan Bapak juga harus menjaga toko di pasar, jadi Bapak pasang saja cctv di rumah kalian."


Penjelasan panjang lebar membuat semua orang membuang nafas panjang, "Bapak memang tidak pernah berubah! Suka semaunya."


Semua orang tertawa mendegar celotehan Mala, malam yang larut akan tetapi penuh makna. Mereka berdiskusi dengan baik mencoba mencari jalan keluat dari masalah yang menimpa mereka dengan hati dan pikiran yang tenang. Menerima semua masukan yyang ada tanpa melihat siapa yang menyampaikannya, tetapi mendegar apa yang di sampaikan. 

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Ikbal dan Marissa merasakan kehangatan sebuah keluarga, mereka memang baru mengenal keluarga menantunya tersebut. Namun, mereka memperlakuakan dengan sangat baik dan ramah, walau pun memang dengan cara yang tidak biasa. 


"Ini sudah larut, kami mau tidur dulu. Kasian Nur, dia harus banyak istritahat," jelas Satria kepada semua orang yang ada di sana.


Mereka menggangguk tanya paham, "Pi, Mami, juga ngantuk," jelas Marissa yang memang ingin segera tidur.


"Mari Ibu Rissa, saya akan tunjukan kamar kalian," jelas Azzahra. Kedua besanya itu menggangguk dan mengikuti langkahnya. Sekarang tinggal Azzam dan Udin yang masih setia di ruang tamu. 


"Pak, apa Bapak yakin dengan keputusan yang ingin menikahi, Umi?" tanya Azzam yang ingin tahu kesungguhan calon ayah sambungnya tersebut.


"Entahlah, Zam!" jawab Udin sambil menggankat bahu binggung. "Kamu tahu bukan? Kalau Bapak ini bukan orang yang baik." Kali ini nafas lelaki itu semakin berat, nafasnya memburu menahan sesak di dada jika ia ingat akan semua kesalahannya di masa lalu. 


"Pak, di dunia ini tidak ada orang yang bersih tanpa dosa! Manusia memang tempatnya salah dan lupa, akan tetapi apakah Manusia itu mau berubah! Atau memilih pasrah dengan hal itu? Ingat firman Allah? 'Aku tidak akan merubah suatu kaum, sebelum mereka merubah diri mereka sendiri'."


Udin menatap nanar pemuda itu dan menggangguk, ia akan meneguhkan hatinya. Semua yang ia lakukan di niatkan karna Allah ta'ala. 


"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang," usir Azzahra yang datang tiba-tiba mengagetkan kedua lelaki itu. 


"Umi!" teriak Azzam kesal karna kaget. 


"Jangan, teriak-teriak! Sudah tengah malam."


Udin dan Azzam membuang nafas panjang, dan setelah itu Udin berpamitan sebab merasa tidak nyaman berada di rumah itu lebih lama lagi. Apa lagi, sang tuan rumah yang telah terang-terangan mengusir dirinya. Setelah kepergian Udin, Azzahra ingin kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya di hentikan oleh ucapan Azzam. 


"Umi, apa yakin akan menerima pernikahan ini?"


Azzahra segera menatap wajah putranya, "Umi akan melakukan apa yang bisa Umi lakukan."


Azzam berdiri dari duduknya dan berlalu melewati Uminya lalu berujar, "jangan pernah ada penyesalan di kemudian hari."


Azzahra terkejut mendegar ucapan putranya, ia memandang punggung pemuda itu yang berlalu dan menghilang di balik pintu kamar. 


"Umi, hanya bisa berusaha, setidaknya Umi bisa mengurangi rasa bersalah terhadap almarhum Ibu Mala," batin Azzahra.


Entah dosa apa yang pernah di lakukan oleh wanita itu? Namun, yang pasti hal itu bagaikan mimpi buruk yang selalu membayangi setiap langkah yang akan dilalui oleh Umi Mala tersebut. 'Sebaik-baiknya Manusia, ialah mereka yang selalu mengingat kesalahannya kepada orang lain dan melupakan kebaikannya'. Pesan itu yang selalu melekat kepada Azzahra dari kecil dan membuat wanita itu akan selalu merasa bersalah jika tidak bisa menjadi garda terdepan untuk keluarganya. 


Manusia punya cara masing-masing untuk menyelesaikan  masalah, akan tetapi jadilah Manusia yang bisa berguna bagi orang lain. Jadilah Manusai yang selalu tolong-menolong dalam hal kebaikan. Mereka inilah para pengejar cinta Robb. 


.


.


.


...Bersambung… ....


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...

__ADS_1


__ADS_2