
Setelah mendegar penuturan sang dokter bahwa istrinya bukan hamil anak kembar, malainkan ada tumor yang ikut tumbuh bersama sang janin membuat Satria pingsan seketika.
Alam bawah sadar Satria.
"Assalamualaikum, Nak, apa kabarmu?" sapa seseorang yang tidak Satria kenal.
"Waallaikum sallam, Anda siapa?" tanyanya binggung. Satria mengedarkan penglihatanya, semua yang ia lihat aneh. 'Tempat apa ini?' batin Satria.
"Ini tempat Ibu, Nak," jelasnya sambil tersenyum. Seolah-olah tahu akan pikiran Satria.
"Ibu siapa?" tanya Satria lagi.
"Ibu Azizzah."
Deg… .
Jantung Satria berdetak dengan cepat setelah mendegar jawaban itu, tubuhnya terasa dingin. Satria binggung harus takut atau bagaimana? Di hadapannya ada Ibu mertua yang telah lama wafat.
"Jangan takut, Ibu sama sepertimu. Kita makhluk ciptaan Allah," balasnya dengan lemah--lembut.
"Saya ingin pulang, kasihan Nur."
Ketika Satria teringat akan istrinya, ia benar- benar khawatir. Setelah berita yang ia dengar tentang adanya tumor di rahim sang istri.
"Hidup dan matinya seorang Makhluk ada di tanggan Robbnya. Jangan pernah berputus asa akan Rahmat-Nya jika Engkau sedang di uji," setelah mengatakan hal itu, wanita itu memudar. Lama--kelamaan menghilang dari pandangan Satria, samar-samar Satria mendegar lantunan ayat al-Qur'an.
"Arrohhman"
"'Allamal qur'an"
"kholakol ingsan"
Satria membuka matanya perlahan-lahan dan melihat sang Mami yang mengenggam erat tangganya.
"Pi, Satria mulai siuman!" teriaknya senang.
"Mi, di mana Nur?" lirih Satria sambil mengerjap berberapa kali akibat silau akan cahaya lampu yang masuk ke matanya.
"Dia---"
"Aku di sini, Kak," ujar Mala yang mendekat memotong ucapan Marissa.
"Nur," lirih Satria.
"Iya, Kak," balas Mala sambil mengengam erat tangan sang suami, mengalirkan energi positif yang ia miliki.
__ADS_1
"Kamu hamil anak kembarkan?" tanya Satria yang masih belum bisa menerima kenyataan.
Mala hanya mampu menggeleng, sebenarnya ….
Flhasback on
Udin panik setengah--mati melihat keadaan Satria yang tiba-tiba pingsan.
"Dok, bagaimana ini?" tanya Udin binggung.
"Coba Anda baringkan di sana!" perintah sang dokter sambil menunjuk tempat tidur yang tidak jauh dari posisi mereka. Udin menganggkat tubuh Satria dengan susah payah hingga sampai di tempat tidur.
"Dok---"
Belum selesai Udin berbicara, sang dokter menyuruhnya untuk keluar, "Anda bisa tunggu di luar? Saya ingin memeriksa keadaan pasien," jelasnya. Mau--tidak mau Udin hanya bisa menyetujui permintaan dokter tersebut. Dengan langkah gontai ia keluar ruangan dan ketika dirinya baru menutup pintu. Dia dikejutkan oleh terikkan Azzahra.
"Udin! Mala …," teriak Azzahra sambil mendekat.
"Kenapa dengan Mala?" tanya Udin panik.
"Dia menolak untuk di operasi," jelasnya.
Tanpa banyak berbicara lagi, Udin segera menuju ruangan ICU di mana sang putri berada. Azzahra mengekor dari belakang. Ketika di depan ruangan Udin mendegar suara Ikbal yang tengah berbicara.
"Kenapa, Nak?"
"Mala enggak mau di operasi! Titik!" jelasnya dengan lantang.
"Kenapa, Nak?" lirih Udin sedih dengan penolakan sang putri. Hal yang membuat Udin lebih sedih adalah melihat keadaan Mala yang di gelayuti oleh selang infus, membuat hati Udin sakit.
"Bapak, anak itu adalah anugerah dari Allah. Amanah yang besar tanggung jawabnya, hisapnya anak sampai Yaumul Akhir. Mala tidak mau membunuh janin yang tidak berdosa dengan alasan demi kebaikan."
Semua orang tertegun tidak terkecuali Marcel, dirinya benar-benar tertampar akan pernyataan itu. Dia yang tadinya sudah berjanji akan melakukan tes DNA dengan Satria, melakukan registrasi terlebih dahulu di bagian administrasi rumah sakit sambil menunggu Satria kembali. Namun, ketika dia selesai dengan urusannya, ia di kejutan akan Azzahra yang berlari tergesa-gesa. Terlebih dia juga mendengar perdebatan antara istri--Satria dengan Ikbal dari luar ruangan, karna penasaran akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam ruangan tersebut.
"Mala, kita tidak mau kehilangan kamu, Nak!" jelas Azzahra mencoba bernegosiasi dengan Mala.
"Umi, aku adalah makhluk ciptaan Allah. Jika, Dia menghendaki aku kembali pada-Nya? Maka, tidak ada yang mampu mengehentikannya," jelas Mala dengan sorot mata tajam. Ia benar-benar tidak mengerti, mengapa keluarganya seolah tidak mempercayai akan kuasa Sang Robb. Dia yang Maha Mengetahui dan Maha Pemberi, terlalu mudah bagi-Nya. Cukup kunfayakun.
"Baiklah, kalau itu kemauan kamu? Papi, ingin kamu mintak izin terlebih dahulu kepada Satria sebagai suamimu," jelas Ikbal mengalah. Menurutnya ini adalah hak Mala, mereka tidak bisa memaksa.
"Di mana, Kak Satria?" tanya Mala.
Semua mata tertuju kepada Udin, sebab lelaki itu yang terakhir kalinya bersama Satria. Udin yang ditatap oleh mereka pun akhirnya menjelaskan.
"Satria, pingsan. Sekarang dia berada di ruangan dokter yang akan menagani Mala," jelas Udin.
__ADS_1
"Ayo kita ke sana," ajak Marissa yang sedari hanya diam memperhatikan. Namun, mendengar berita kalau putranya pingsan menjadi panik. Ikbal hanya mengangguk menggapi ucapan istrinya.
"Zahra, kamu di sini saja! Jagain Mala," pinta Udin mencegat wanita itu ketika akan melangkah.
"Tapi---," belum selesai dia berbicara, Udin sudah memotongnya. "Jagain Mala, dia putrimu juga."
Azzahra hanya mampu menghela nafas berat, dia kasihan juga jika Mala di tinggal sendirian. Akhirnya ia memilih menemani Mala.
Ketika ingin memasuki ruangan Dokter Aditiya, tiba-tiba ponsel milik Marcel berdering.
"Mohon maaf saya mau mengangkat telpon terlebih dahulu," jelasnya sambil berlalu.
"Lebih baik, dia tidak usah ikut--campur," batin Marissa kesal.
Udin mengetuk pintu dan tidak lama kemudian munculah sang dokter, lalu mempersilahkan mereka masuk.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Marissa tidak sabaran.
"Putra Anda, baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan mengalami dehidrasi," jelasnya.
"Syukurlah," ucap Ikbal lega.
"Dok, bagaimana dengan keadaan Mala? Dia tidak mau di operasi," tanya Udin yang ingin mendengar penjelasan dokter muda di hadapannya.
"Oh, untuk Ibu Mala. Saya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kalau memang Beliau tidak mau di operasi sekarang? Tidak apa-apa. Sebab, pihak kami juga punya prosedur yang harus di jalankan jika ingin melakukan operasi."
Mereka yang mendegar penjelasan dari sang dokter merasa lega, setidaknya untuk sekarang. Namun, ketika mereka sedang berbincang pintu ruangan di buka. Dan menampakkan Mala duduk di kursi roda dengan Azzahra yang mendorongnya masuk ke ruangan.
"Kenapa, kamu bawa Mala ke sini?" tanya Udin kesal.
"Dia ingin bertemu suaminya," jelas Azzahra sambil menatap tajam Udin.
"Kamu perlu banyak istirahat, Nak," jelas Ikbal menasehati.
"Tidak apa-apa, Pak. Karna ada Ibu Mala di sini? Sekalian saya periksa dan nanti bisa di rujuk ke ruangan inap bersama suaminya," jelas Aditiya yang memahami ikatan antara pasangan suami--istri tersebut.
Flhasback off
.
.
.
...Bersambung …....
__ADS_1
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*