
"Hentikan!"
"Pernikahan ini tidak sah!"
Semua mata tertuju ke arah pintu, dimana ada seorang tamu yang tidak diundang datang dan berteriak mengganggu proses ijab kabul yang tengah dilakukan.
"Mohon maaf, kehadiran Anda tidak diinginkan disini," celetus Mala dengan tatapan sinis.
Satria segera bagun dari duduknya dan menghampiri sang istri, lalu menarik wanita hamil itu untuk menjauh dari lelaki yang kini tengah berdiri dengan wajah sangar tersebut.
"Zahra, tolong hentikanlah semua ini," bujuknya seraya mendekati pengantin perempuan. Namun, dihalau oleh Azzam.
"Mohon maaf, Bi. Umi dan Bapak sudah sah," jelas Azzam seraya menahan pergelangan tangan abinya tersebut.
Lelaki itu hanya mampu meneteskan air mata dan terjatuh ke lantai. Tubuhnya lemas, seolah-olah kehilangan kekuatan untuk berdiri lagi. Dia mendengar berita burung tentang pernikahan mantan istrinya dengan mantan iparnya tersebut segera mencari tahu. Namun, sayang ia datang disaat sang mempelai lelaki telah mengucapkan ijab kabul.
"Pernikahan ini tidak sah!" teriaknya tidak terima.
"Udin! Kamu serakah! Kamu telah menikahi adik Zahra dan sekarang kamu mau menikahi Zahra juga? Dia itu istriku, aku tidak ridho Zahra, tidak akan pernah ridho," ujarnya frustasi seraya menunjuk-nunjuk Udin yang masih duduk di samping Azzahra.
Semua orang hanya diam memperhatikan drama live tersebut, hingga akhirnya Azzahra mengeluarkan suaranya.
"Aku bukan istrimu lagi, Ziz! Kita sudah bercerai lama! Terserah kamu mau rudho atau tidak terhadapku? Namun, satu hal yang harus kamu tahu. Kalau aku bukan siapa-siapa kamu, begitupun sebaliknya. Kita tidak memiliki ikatan apapun kecuali Azzam!" balas Azzahra dengan sorot mata tajam, seolah-olah ingin menguliti seseorang hidup-hidup.
Aziz mengusap wajahnya kasar, cairan bening yang keluar tanpa dipinta tersebut membuatnya nampak lemah 'tak berdaya. Dengan dibantu sang putra, Aziz bangun dan menatap Azzahra dengan sorotan mata yang memerah.
"Zah, pernikahan kalian tidak sah! Udin itu ayah kandung Mala! Dan kamu Ibu susu Mala, di mana ada darah kamu dan Udin yang mengalir di tubuh Mala. Hukumnya pernikahan kalian Haram!" hardik Azizi dengan sisa tenaga yang ia miliki.
__ADS_1
Semua orang diam membisu, ada yang sependapat dengan Aziz. Namun, ada pula yang tidak. Akhirnya Ikbal angkat bicara, agar masalah ini cepat selesai, selaku orang tua Satria, ia merasa wajib ikut campur.
"Mohon maaf, Pak. Saya mungkin orang luar dan tidak terlalu memahami hubungan kalian yang sangat rumit ini! Namun, yang saya bisa tangkap adalah hubungan sedarah antara Azzahra dengan Mala dan Udin dan Mala?" Ikbal menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapnya, mengisi rongga paru-parunya agar berfungsi dengan baik.
"Jika yang menikah adalah Mala dan Azzam, maka hukumnya haram. Namun, disini yang menikah adalah Azzahra dan Udin, maka hukumnya sah. Mohon maaf jika penafsiran saya salah, karena saya orang awam. Namun, disini ada Pak Penghulu, mungkin Beliau bisa menjelaskan dengan baik dari pada saya."
Ucapan bijak dari Ikbal sedikit mengurangi ketegangan yang tercipta begitu saja, dan akhirnya sang penghulu menjelaskan hukum pernikahan yang dilakukan oleh Udin dan Azzahra.
"Mohon maaf, saya sangat mengenal Udin dan Azzahra. Mereka berdua adalah saudara ipar karena Udin menikahi Azizah adik kandung Azzahra. Hukum pernikahan mereka Mubah (boleh) karena ipar bukan Mahram dan yang bukan Mahram boleh menikah. Apa yang disampaikan oleh Bapak Ikbal benar sekali, jika yang menikah disini adalah Mala dan Azzam? Maka hukumnya haram, karena mereka terikat darah yang berarti Mahram. Mohon maaf sekali Pak Aziz, saya hanya menyampaikan ilmu yang saya miliki."
Setelah mendengar penjelasan penghulu tersebut semua orang kembali diam, kecuali Aziz yang tersenyum sinis sambil menatap pasangan pengantin tersebut.
"Kalian pasti senang melihat aku menderita!" teriak Aziz menggema seluruh ruangan.
"Semua orang pasti senang kecuali Anda saja yang menderita melihat Umi dan Bapak menikah," celetus Mala sambil tersenyum mengejek kearah Aziz.
Aziz naik pitam, ia hendak menghampiri Mala. Namun, dihalangi oleh Azzam.
Aziz hanya mampu membuang nafas panjang, tanpa pamitan ia pergi meninggalkan ruangan itu. Hatinya terlalu sakit dan sesak melihat pemandangan yang amat menyiksa tersebut. Apalah Aziz yang tidak memiliki pendukung sama sekali, putranya sekalipun tidak ada niat untuk membelanya. Lelaki itu pergi dengan luka hati mendalam.
Setelah kepergian Aziz semua kembali duduk dan menenangkan hati sejenak dari gejolak tadi. Kedatangan lelaki itu memang jadi pengganggu yang membuat rusuh acara ijab kabul yang seharusnya berjalan dengan hikmat, ini malah menjadi runyam.
Azzam mulai membuka suara setelah melihat keadaan yang mulai kondusif, "Baiklah, kita mulai lagi acara ijab kabulnya."
Udin membuang nafas panjang sebelum berbicara, "Ijab kabulnya ini sah atau mau diulang?"
Mereka saling menatap, antara bingung dan merasa tidak nyaman. Namun, suara penghulu yang mengeluarkan momentum.
__ADS_1
"Ijab kabulnya sah! Sah dimata Allah karena tidak ada kesalahan di saat Pak Udin mengucapkannya tadi, akan tetapi belum di sahkan oleh para saksi," jelas sang penghulu berpendapat.
"Mohon maaf Pak, tapi menurut saya dari pada kita ragu? Lebih baik kita ulang lagi, lagian batas ijab kabul 'kan tiga kali," ujar Ikbal menimpali.
Semua orang mengangguk tanda setuju akan usulan Ikbal, akhirnya ijab kabul diulang lagi untuk yang ketiga kalinya. Benar-benar acara pernikahan yang penuh akan drama, setelah diganggu oleh sang pengacau. Kini Udin dan Azzahra telah sah menjadi pasangan suami--istri.
Tidak akan mudah dalam menjalani sesuatu yang baik, ujian akan selalu menghampiri. Ada sebuah istilah 'jika menanam padi, maka rumput akan tumbuh. Namun, jika menanam rumput, maka padi tidak akan pernah tumbuh'.
Ketika kita ingin menanam kebaikan, maka keburukan pasti akan mengikuti. Namun, jika kita menanam keburukan, tidak akan mungkin kebaikan akan tumbuh.
Itulah makna mendalam dari kutipan kata yang selalu diucapkan orang-orang yang memberi semangat untuk melakukan kebaikan. Walaupun kebaikan itu sulit untuk dijalani, akan tetapi percayalah pasti akan membuahkan kebaikan pula disuatu hari nanti. Insya Allah… .
"Alhamdulillah, selamat ya Udin, Zahra, semoga hubungan kalian sampai akhirat," ucap sang penghulu tulus kepada pasangan pengantin tersebut.
"Ehem, jangan lupa malam pertamanya," goda Ikbal yang membuat wajah Azzahra memerah karena malu.
"Jangan!" teriak Mala membuat semua mata tertuju kearahnya 'tak terkecuali sang bapak.
"Kenapa, Nak? Bukanlah wajib Bapak memberi nafkah batin kepada istrinya Bapak?" tanya Udin dengan sorot mata binggung menatap sang putri, seolah menunggu jawaban yang pasti. Namun, hal itu membuat Azzahra semakin malu.
"Aku!"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...