
Pagi-pagi sekali keadaan rumah sudah ricuh, Azzahra teriak-teriak memaki sang suami Udin. Sudah dari subuh wanita itu mengoceh-ngoceh tidak hentinya, ada-ada saja hal yang menjadi amarah wanita tersebut. Membuat semua orang jegah.
Azzahra menyiapkan semua kebutuhan mereka selama menemani Mala yang akan melakukan operasi, wanita itu ingin semuanya terlihat sempurna. Tidak ada cacat atau kekurangan sama sekali.
Namun, wanita itu melupakan hal yang paling penting yaitu 'Tidak ada Manusia yang memiliki kesempurnaan'. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa, kesempurnaan hanyalah milik Sang Kuasa.
Pertanyaan Mala sukses menghentikan aktifitas sang umi, wanita itu menghampiri sang putri dan berkata, "Kita ada berempat? Jadi, kopernya juga harus ada empat."
"Umi, koper untuk aku? Ditinggal aja," pinta Mala yang memang tidak memerlukan koper tersebut.
Dahi Azzahra mengkerut, bibirnya dimonyongin seking kesal akan ucapan sang putri. Ia yang telah susah payah memilihkan baju ganti untuk putrinya tersebut, kini wanita hamil itu dengan mudahnya mengatakan hal tersebut.
Sambil berkacak pinggang Azzahra meluapkan kekesalannya, "Nur Mala Sari putri Azizah dan Azzahra, kamu memerlukan semua yang ada dalam koper tersebut."
Mala menampilkan senyum mengejeknya dan berkata, "Umi, aku nanti dioperasi tidak mengenakan baju."
Semua orang tercengang akan kata-kata wanita hamil tersebut, memang apa yang dikatakannya tidak ada yang salah. Namun, bisa juga disalahartikan sehingga Satria menarik tangan istrinya itu keluar rumah dan masuk kedalam mobil.
Udin dan Azzahra saling berpandang melihat tingkah pasangan suami istri tersebut, akhirnya Udin menegur istrinya tersebut, "Ra, kamu tinggal saja kopernya Mala. Nanti, jika memang ada yang di perlukan? Kita bisa pulang mengambilnya atau membelinya di rumah sakit."
Itulah lelaki, mereka suka berpikir logis. Berbeda dengan wanita yang hanya menuruti hawa nafsu, mungkin memang dari ibunya yang bernama Hawa tersebut yang membuat para kaum wanita tidak bisa berfikir dulu sebelum bertindak.
***
Alasan terbesar kenapa Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa dikeluarkan dari Surga adalah karena memakan buah Khuldi, buah yang Allah larang dimakan. Namun, Siti Hawa yang dihasut oleh Syaitan sehingga mendesak dan memaksa suaminya Nabi Adam untuk memenuhi hasratnya sehingga mendapatkan murka dari Sang Robb sehingga mereka diusir dari Surga.
Satu hal yang akan selalu Nabi Adam ingat adalah pesan Allah yang mengatakan 'Sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh nyata bagimu'
Bagaimana seseorang yang bertemu musuh? Yaitu menampakkan kebengisan dan ketidaksukaan terhadap lawannya. Jangan pernah takut dengan Syaitan sesungguhnya mereka hanyalah Makhluk yang lemah, yang membuat mereka bisa kuat adalah Manusia. Manusia yang memberikan energi dari rasa takutnya dan membuat Syaiton menjadi kuat.
***
Azzahra mengangguk dan mengerjakan perintah suaminya tersebut, segarang-garangnya Azzahra dia adalah wanita soleh yang paham akan kodratnya sebagai istri yang tidak boleh melawan perintah suaminya selagi yang diperintahkannya masih di jalan yang benar dan baik.
Udin menyeret dua koper sedangkan Azzahra hanya satu, yaitu koper yang berisi barang miliknya berbeda dengan suaminya yang membawa koper berisi barang milik suaminya dan Satria.
Tanpa banyak berbicara mereka masuk kedalam mobil dengan Udin yang menjadi supir dan istrinya duduk disamping.
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, mereka diam membisu. Mereka semua memikirkan hal yang sama yaitu operasi Mala. Berharap akan kabar baik yang nanti akan mereka terima.
Ketika mobil yang dikendarai oleh Udin mulai memasuki area rumah sakit, tiba-tiba ada petugas keamanan yang mengarahkan mereka menuju area parkir khusus IGD. Sang petugas keamanan tersebut mengatakan jika mereka sudah ditunggu oleh para jajaran Dokter disana.
Udin hanya mengikuti arahan dan mengarahkan mobilnya menuju area pakir khusus, benar apa yang dikatakan oleh petugas keamanan tersebut jika mereka sudah ditunggu.
Satria menuntun istrinya keluar mobil dan disambut oleh Dokter Tasya beserta jajaran Dokter lain.
"Selamat datang Ibu Mala dan Bapak Satria," sapa Dokter Tasya ramah dan mengarahkan pasangan suami istri tersebut menuju ruang operasi.
Satria menggenggam erat tangan istrinya seolah tidak ingin berpisah dari wanita hamil tersebut, hingga mereka sampai di depan ruangan operasi dan Dokter Tasya menghentikan langkah Satria agar tidak masuk kedalam.
"Mohon maaf, Pak Satria. Anda boleh menunggu di luar," pinta Dokter Tasya sopan.
Satria seakan tidak mendengar ucapan sang Dokter, pikiran dan hatinya tertuju kepada sang istri. Dengan tatapan sendu ia berkata, "Nur, apa kita akan berpisah?"
"Hahahaha," tawa Mala pecah seketika membuat semua orang menatap wanita hamil itu heran.
Setelah melerai tawanya, Mala berkata sambil melepaskan genggaman tangannya dari sang suami, "Kak, yang mampu memisahkan kita hanyalah Allahu ta'alla."
Tubuh Satria mematung ketika setelah mendengar ucapan istrinya tersebut, akan tetapi detik kemudian.
Cup… .
Mala mencium pipi sang suami sama seperti dulu ketika mereka baru menikah dan menjenguk sang mami ketika menjadi pasien dirumah sakit ini.
__ADS_1
Satria tidak bisa menahan perasaan haru dan memeluk sang istri sambil terisak, "Nur, berjuanglah. Aku sebagai suami ridho atas dirimu."
Kata-kata yang keluar dari mulut Satria adalah perasaan hatinya yang telah ikhlas dan ridho akan ketentuan-Nya. Dia yang Maha pemilik kehidupan, Satria hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Dia. Menitipkan sang istri kepada yang menciptakan adalah jalan yang harus ditempuh.
Satria teringat akan kata-kata istrinya malam tadi, jika mereka pasti akan berpisah selama hidup didunia yang fana ini. Namun, jika itu terjadi? Maka Satria harus mengembalikan perasaannya sama seperti saat mereka belum bertemu dan mengenal.
Mala masuk kedalam ruangan operasi bersama jejeran Dokter, ketika Dokter Tasya ingin menutup pintu. Dokter wanita itu sempatkan diri untuk memberi semangat untuk Satria yang dulu merupakan teman kampusnya.
"Pak Satria, saya bukanlah orang yang paham akan agama. Namun, yang saya ketahui. Jika doa seorang suami yang ridho terhadap istrinya akan dikabulkan oleh Allah."
Setelah mengatakan hal itu, Dokter Tasya menghilang dibalik pintu yang ditutup rapat dan nampak di atas pintu tersebut tulisan 'Sedang Operasi' dengan warna merah menyala.
Satria terkejut ketika ada yang menepuk pundaknya dan segera menatap lelaki yang kini tengah menatapnya sendu.
"Serahkan semuanya kepada Sang Pemilik Kehidupan, Dia tahu apa yang terbaik untuk Hamba-Nya."
Setelah mengatakan hal itu lelaki itu pergi meninggalkan Satria yang diam mematung sambil menatap punggung lelaki tersebut yang telah pergi menjauh, hingga suara sang umi terdengar memanggil namanya.
"Sat, Mala sudah masuk kedalam?" ucap Azzahra ketika di hadapan Satria.
Satria hanya mengangguk dan memilih duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan operasi sang istri dan menatap nanar pintu yang tertutup rapat tersebut yang dimana ada sang istri dengan perasaan yang sulit diartikan.
"Nur, janji adalah hutang? Aku berjanji akan membayar hutang milikmu nanti jika memang Sang Robb lebih menyayangimu dari pada aku," batin Satria.
.
.
.
13/09 Hari menegangkan
Pagi-pagi sekali keadaan rumAh sudah ricuh, Azzahra teriak-teriak memaki sang suami Udin. Sudah dari subuh wanita itu mengoceh-ngoceh tidak hentinya, ada-ada saja hal yang menjadi amarah wanita tersebut. Membuat semua orang jegah.
Azzahra menyiapkan semua kebutuhan mereka selama menemani Mala yang akan melakukan operasi, wanita itu ingin semuanya terlihat sempurna. Tidak ada cacat atau kekurangan sama sekali.
Namun, wanita itu melupakan hal yang paling penting yaitu 'Tidak ada Manusia yang memiliki kesempurnaan'. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa, kesempurnaan hanyalah milik Sang Kuasa.
Pertanyaan Mala sukses menghentikan aktifitas sang umi, wanita itu menghampiri sang putri dan berkata, "Kita ada berempat? Jadi, kopernya juga harus ada empat."
"Umi, koper untuk aku? Ditinggal aja," pinta Mala yang memang tidak memerlukan koper tersebut.
Dahi Azzahra mengkerut, bibirnya dimonyongin seking kesal akan ucapan sang putri. Ia yang telah susah payah memilihkan baju ganti untuk putrinya tersebut, kini wanita hamil itu dengan mudahnya mengatakan hal tersebut.
Sambil berkacak pinggang Azzahra meluapkan kekesalannya, "Nur Mala Sari putri Azizah dan Azzahra, kamu memerlukan semua yang ada dalam koper tersebut."
Mala menampilkan senyum mengejeknya dan berkata, "Umi, aku nanti dioperasi tidak mengenakan baju."
Semua orang tercengang akan kata-kata wanita hamil tersebut, memang apa yang dikatakannya tidak ada yang salah. Namun, bisa juga disalahartikan sehingga Satria menarik tangan istrinya itu keluar rumah dan masuk kedalam mobil.
Udin dan Azzahra saling berpandang melihat tingkah pasangan suami istri tersebut, akhirnya Udin menegur istrinya tersebut, "Ra, kamu tinggal saja kopernya Mala. Nanti, jika memang ada yang di perlukan? Kita bisa pulang mengambilnya atau membelinya di rumah sakit."
Itulah lelaki, mereka suka berpikir logis. Berbeda dengan wanita yang hanya menuruti hawa nafsu, mungkin memang dari ibunya yang bernama Hawa tersebut yang membuat para kaum wanita tidak bisa berfikir dulu sebelum bertindak.
***
Alasan terbesar kenapa Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa dikeluarkan dari Surga adalah karena memakan buah Khuldi, buah yang Allah larang dimakan. Namun, Siti Hawa yang dihasut oleh Syaitan sehingga mendesak dan memaksa suaminya Nabi Adam untuk memenuhi hasratnya sehingga mendapatkan murka dari Sang Robb sehingga mereka diusir dari Surga.
Satu hal yang akan selalu Nabi Adam ingat adalah pesan Allah yang mengatakan 'Sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh nyata bagimu'
Bagaimana seseorang yang bertemu musuh? Yaitu menampakkan kebengisan dan ketidaksukaan terhadap lawannya. Jangan pernah takut dengan Syaitan sesungguhnya mereka hanyalah Makhluk yang lemah, yang membuat mereka bisa kuat adalah Manusia. Manusia yang memberikan energi dari rasa takutnya dan membuat Syaiton menjadi kuat.
***
__ADS_1
Azzahra mengangguk dan mengerjakan perintah suaminya tersebut, segarang-garangnya Azzahra dia adalah wanita soleh yang paham akan kodratnya sebagai istri yang tidak boleh melawan perintah suaminya selagi yang diperintahkannya masih di jalan yang benar dan baik.
Udin menyeret dua koper sedangkan Azzahra hanya satu, yaitu koper yang berisi barang miliknya berbeda dengan suaminya yang membawa koper berisi barang milik suaminya dan Satria.
Tanpa banyak berbicara mereka masuk kedalam mobil dengan Udin yang menjadi supir dan istrinya duduk disamping.
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, mereka diam membisu. Mereka semua memikirkan hal yang sama yaitu operasi Mala. Berharap akan kabar baik yang nanti akan mereka terima.
Ketika mobil yang dikendarai oleh Udin mulai memasuki area rumah sakit, tiba-tiba ada petugas keamanan yang mengarahkan mereka menuju area parkir khusus IGD. Sang petugas keamanan tersebut mengatakan jika mereka sudah ditunggu oleh para jajaran Dokter disana.
Udin hanya mengikuti arahan dan mengarahkan mobilnya menuju area pakir khusus, benar apa yang dikatakan oleh petugas keamanan tersebut jika mereka sudah ditunggu.
Satria menuntun istrinya keluar mobil dan disambut oleh Dokter Tasya beserta jajaran Dokter lain.
"Selamat datang Ibu Mala dan Bapak Satria," sapa Dokter Tasya ramah dan mengarahkan pasangan suami istri tersebut menuju ruang operasi.
Satria menggenggam erat tangan istrinya seolah tidak ingin berpisah dari wanita hamil tersebut, hingga mereka sampai di depan ruangan operasi dan Dokter Tasya menghentikan langkah Satria agar tidak masuk kedalam.
"Mohon maaf, Pak Satria. Anda boleh menunggu di luar," pinta Dokter Tasya sopan.
Satria seakan tidak mendengar ucapan sang Dokter, pikiran dan hatinya tertuju kepada sang istri. Dengan tatapan sendu ia berkata, "Nur, apa kita akan berpisah?"
"Hahahaha," tawa Mala pecah seketika membuat semua orang menatap wanita hamil itu heran.
Setelah melerai tawanya, Mala berkata sambil melepaskan genggaman tangannya dari sang suami, "Kak, yang mampu memisahkan kita hanyalah Allahu ta'alla."
Tubuh Satria mematung ketika setelah mendengar ucapan istrinya tersebut, akan tetapi detik kemudian.
Cup… .
Mala mencium pipi sang suami sama seperti dulu ketika mereka baru menikah dan menjenguk sang mami ketika menjadi pasien dirumah sakit ini.
Satria tidak bisa menahan perasaan haru dan memeluk sang istri sambil terisak, "Nur, berjuanglah. Aku sebagai suami ridho atas dirimu."
Kata-kata yang keluar dari mulut Satria adalah perasaan hatinya yang telah ikhlas dan ridho akan ketentuan-Nya. Dia yang Maha pemilik kehidupan, Satria hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Dia. Menitipkan sang istri kepada yang menciptakan adalah jalan yang harus ditempuh.
Satria teringat akan kata-kata istrinya malam tadi, jika mereka pasti akan berpisah selama hidup didunia yang fana ini. Namun, jika itu terjadi? Maka Satria harus mengembalikan perasaannya sama seperti saat mereka belum bertemu dan mengenal.
Mala masuk kedalam ruangan operasi bersama jejeran Dokter, ketika Dokter Tasya ingin menutup pintu. Dokter wanita itu sempatkan diri untuk memberi semangat untuk Satria yang dulu merupakan teman kampusnya.
"Pak Satria, saya bukanlah orang yang paham akan agama. Namun, yang saya ketahui. Jika doa seorang suami yang ridho terhadap istrinya akan dikabulkan oleh Allah."
Setelah mengatakan hal itu, Dokter Tasya menghilang dibalik pintu yang ditutup rapat dan nampak di atas pintu tersebut tulisan 'Sedang Operasi' dengan warna merah menyala.
Satria terkejut ketika ada yang menepuk pundaknya dan segera menatap lelaki yang kini tengah menatapnya sendu.
"Serahkan semuanya kepada Sang Pemilik Kehidupan, Dia tahu apa yang terbaik untuk Hamba-Nya."
Setelah mengatakan hal itu lelaki itu pergi meninggalkan Satria yang diam mematung sambil menatap punggung lelaki tersebut yang telah pergi menjauh, hingga suara sang umi terdengar memanggil namanya.
"Sat, Mala sudah masuk kedalam?" ucap Azzahra ketika di hadapan Satria.
Satria hanya mengangguk dan memilih duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan operasi sang istri dan menatap nanar pintu yang tertutup rapat tersebut yang dimana ada sang istri dengan perasaan yang sulit diartikan.
"Nur, janji adalah hutang? Aku berjanji akan membayar hutang milikmu nanti jika memang Sang Robb lebih menyayangimu dari pada aku," batin Satria.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...