
"Opa dan oma meninggal dunia"
"Apa? " Teriak Mala dan Satria kompak, mereka benar-benar syok akan berita yang dibawa oleh sang papi.
"Papi kesini ingin meminta sesuatu kepada kalian boleh? " Tanya Ikbal meminta izin telebih dahulu.
"Boleh pi, jika kami sanggup maka akan kami berikan" Balas Satria.
"Papi ingin kalian datang kepemakaman opa kalian besok karna oma kalian sudah dikebumikan tadi siang"
...Mendengar berita itu membuat Mala dan Satria sama-sama terkejut, terlebih lagi tidak ada yang memberitahukan berita duka itu kepada mereka....
...Mala merasakan perasaan yang aneh masuk kedalam hatinya, ada perasaan bahagia mendegar berita meninggalnya oma Yolanda dan perasaan sedih menjadi satu....
...Jika Mala tidak mengengam iman maka dia akan jadi orang yang pertama bersorak gembira atas meninggalnya oma Yolanda, wanita sosalita yang sombong....
...Namun Mala masih memiliki iman dia berdoa dengan tulus dan telah memaafkan kesalahan oma Yolanda karna tidak baik menyimpan dendam terlebih kepada orang yang sudah meninggal dunia....
...Perkara yang memberatkan Manusia dipadang Masyhar adalah perkara sesama Manusia itu sendiri, hal itu yang membuat Mala mengikhlaskan semua yang pernah terjadi....
"Hanya itu pi? " Tanya Satria ragu, sebab papinya adalah tipe orang yang tidak pernah meminta sesuatu jika dia bisa melakukannya sendiri.
"Papi boleh meminta kamu untuk kuliah? Sebab papi akan pergi ke Amerika mengurus perusahaan Permata Grub disana, papi akan meninggal kamu lagi untuk waktu yang lama. Papi ingin setelah kembali kamu memiliki wawasan yang luas untuk menjalankan perusahan Permata Grub yang akan diwariskan kepada kamu nanti, sebab papi tidak memiliki hak atas itu semua"
...Mendegar penjelasan panjang lebar sang papi membuat Satria menatap sang istri seolah meminta pendapat....
...Mala paham akan keadaan lalu mengelus tangan sang suami yang masih digengamnya dengan tangan yang satunya....
"Kakak harus memikul tanggung jawab yang besar"
"Apa kamu mengizinkannya Nur? "
"Tentu, semua ini sudah jalan dari Allah"
Akhirnya satu masalah dapat diatasi.
"Pi, dimana mami? " Tanya Satria penasaran.
"Mami kamu masuk RSJ, kali ini benar-benar gila" Ucap Ikbal sambil tersenyum.
__ADS_1
...Mereka melanjutkan cerita yang hangat sambil melepas rindu akibat terpisahkan oleh jarak dan waktu....
...Satria memaksa sang papi untuk bermalam karna besok mereka pun akan pergi bersama menyambut kepulangan mayat opa Malik yang mereka sayangi....
...Berada dalam kehidupan yang sama namun memiliki jalur yang berbeda, ketika oma Yolanda meninggal semua seolah tidak berarti berbeda dengan meninggalnya opa Malik semua orang berkumpul menanti kepulangannya....
"Semua sudah siap? " Jelas pak Ikbal kepada sang pengacara yang mendapat angukan kepala.
...Semua orang menanti kepulangan lelaki yang beribawa tersebut dengan suka duka....
...Mayat opa Malik telah mendarat dan akan dibawa masuk keambulan lalu dibawa ke TPU setempat. Dimakamkan didekat sang istri seperti semasa hidup selalu berdampingan ketika meninggalpun mereka masih saling berdampingan hanya terpisah oleh sekat tanah....
...Mayat opa Malik yang sudah dimandikan dan disolatkan sebelum datang ketanah air membuat banyak orang merasa kecewa sebab tidak ikut andil akan perkara fardhu kifaya itu....
...Begitupun dengan Satria dan pak Ikbal mereka berniat setelah pulang pemakaman akan solat goib untuk almarhum yang mereka sayangi....
...Semua orang menuntun sang mayat masuk kedalam tempat peristirahan terakhirnya dengan tangis duka yang mendalam....
...Satria masuk kedalam liang lahat yang hanya berukuran sempit bersama sang papi guna menyambut mayat sang opa....
...Lantunan Yasin terdengar menyayat hati membuat semua orang menahan tangis yang tiada berhenti. Satria mengazankan sang opa untuk terakhir kalinya sebelum ditimbun dengan tanah....
"Makasih bang" Balas Satria menatap Azzam dengan senyum pahit.
...Kini telah selesai tugas Manusia terhadap sang mayat, meninggalkannya seorang diri didalam tempat yang gelam dan pengap hanya sunyi yang menemani....
...Satu demi persatu orang meninggalkan TPU begitu pula denga anggota keluarga, teman karib, orang yang terkasihi. Hanya diri sendiri berteman amal ibadah....
"Sat, ayo pulang" Pinta sang papi.
"Aku masih ingin disini pi"
"Kak, jangan cengeng" Ejek Mala.
"Aku gak cengeng Nur, cuma sedih aja" Kilah Satria yang enggan mengakui.
"Kalau begitu papi balik dulu ya banyak yang harus dikerjakan" Ucap Ikbal sambil berlalu meninggalkan TPU karna memang tugasnya sangat banyak.
...Kini hanya tersisa Mala dan Satria diatas pusaran makan orang yang tersayang....
__ADS_1
"Kak, sudah nagisnya kita pulang yuk, aku laper" Regek Mala kepada sang suami yang masih setia duduk sambil menatap batu nisan sang opa.
"Nur, kamu ingat ketika kita kesini mengantar kepergian nenek kamu" Tanya Satria sambil menatap sang istri.
"Ya ingat lah, kan baru aja beliau meninggal" Jelas Mala.
"Sekarang aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan waktu itu, ternyata sakit ya Nur"
"Sakit kalau dirasakan, apa lagi dihayati hanya akan merusak jiwa. Kita Manusia harus siap dengan segala cobaan yang Allah berikan kak, kayak aku yang tidak pernah melihat ibu kandungku tidak membuat aku rapuh apa lagi sampai berputus asa kepada Allah malahan aku semakin mengejar cinta-Nya"
"Kakak tahu bagaimana cara Allah mencintai hambanya? " Tanya Mala yang mendapat gelengan kepala sang suami.
"Cintanya Allah itu terlihat dari seberapa berat ujian yang dilalu seorang hamba, ingat kepada Rosullulah yang adalah kekasih Allah mendapat ujian yang sangat berat, sebelum beliau lahir kedunia meninggal ayahnya, baru merasakan kasih sayang sang kakek meninggal sang kakek, baru mendegar berita akan memiliki seorang putra meninggal putranya"
"Jika kita mengaku sebagai orang yang merasa ujian hidup kita yang paling berat dan sulit maka kita harus malu dengan Rassulloh yang dijamin masuk syurga tanpa transit"
...Mendegar penjelasan panjang lebar sang istri membuat hati Satria menghangat, dia harus merasa malu jika mengaku ujiannya berat apa lagi sampai bilang tidak mampu menghadapi sebab Allah tidak menguji hamba-Nya diluar batas kemampuanya....
"Nur, dimana makam ibumu? " Tanya Satria penasaran.
"Kakak mau menemuinya?"
...Satria menganggukan kepala menagapi ucapan sang istri....
...Akhirnya mereka mampir ketempat ibu Mala setelah beberapa bulan menikah, kini Satria bisa menemui ibu mertuanya yang bertaruh nyawa melahirkan sang istri....
"Assalamualaikum ya ahli kubur" Ucap Mala dan satria bersamaan ketika berada di atas pusaran ibu Azizah wanita yang menaruhkan hidupnya demi kehidupan yang baru.
...Mereka tertawa sambil bercanda didepan makam mungkin jika orang melihat akan mengatakan mereka gila, namum seperti itulah cara mereka berkomunilasi dengan orang yang terkasihi yang telah pergi selamanya....
.
.
.
...Bersambung.......
*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*
__ADS_1