
Hari ini akan menjadi hari yang lain dari biasanya, karena penghuni rumah yang hanya ada Mala dan Satria. Pasangan suami--istri itu tetap melakukan rutinitas seperti biasanya, bangun subuh untuk sholat dan setelah itu mandi. Mala dan Satria kembali melakukan hal yang kemarin sempat tidak pernah mereka lakukan karena ada Suci dan sekarang mereka harus melakukannya.
"Nur, sini aku bantu," pinta Satria yang kesekian kalinya. Dia tidak tega melihat istrinya yang sedang hamil itu melayaninya seperti seorang raja.
"Ini sudah selesai, Kak," jelas Mala dengan senyum yang lebar seraya mendekati suaminya itu dan meletakan lauk--pauk di atas meja.
Pasangan suami--istri itu kembali ke masa mereka baru menikah dulu, di mana semua pekerjaan mereka lakukan berdua. Tuhan punya caranya sendiri untuk mengingatkan Hamba-hamba-Nya, Mala menyadari hal itu. Wanita hamil itu bersyukur atas semua masalah yang sempat tertimpa kepada mereka, walaupun semuanya belum terselesaikan. Namun, Mala paham kalau setiap hari harus selalu belajar agar lebih bersabar dan ikhlas atas ketentuan Sang Robb.
Terkadang Manusia lalai dalam memahami maksud dari Sang Pencipta. Ketika mereka ditimpa oleh sebuah musibah, maka mereka akan mengatakan 'Tuhan sedang tidak mau bersahabat dengannya'. Namun, ketika kesenangan yang datang? Maka mereka akan mengatakan 'Semua ini atas kerja kerasku selama ini'. Itulah sifat buruk Manusia, yang hanya ingin manisnya saja, tanpa mau menerima rasa pahit yang ada dalam sebuah musibah.
"Kak, aku mau menjaga minimarket kita ya," pinta Mala di sela mengunyah makanannya.
"Uhuk."
Satria tersedang setelah mendengar permintaan istrinya tersebut. Mala dengan sigap memberikan gelas yang berisi air putih kepada sang suami yang disambut dengan cepat oleh lelaki itu dan minum hingga kandas tidak tersisa.
Satria mengatur nafasnya sambil mengelus dadanya yang terasa tersenggal sebelum berbicara, "Nur! Hari ini aku akan mengajakmu ke tempat yang indah? Di sana kita akan menikmati surga dunia."
Mala hanya menatap nanar suaminya tanpa bisa berkata-kata apapun. Antara senang dan bingung, mau tau tidak? Wanita itu tidak tahu harus menjawab apa.
Sesuai janji Satria, setelah selesai makan mereka akan bersiap-siap untuk pergi. Menurut lelaki itu, mereka patut untuk bepergian. Pasangan suami--istri itu sudah di dalam mobil, Satria sudah menyiapkan semuanya dari malam tadi. Maka hanya diam dan mengikuti perintah suaminya itu tanpa bertanya atau membantah. Hingga mereka mobil mereka meninggalkan halaman rumah.
Kendaraan beroda empat yang dikendarai oleh Satria itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya menuju tempat yang indah menurut lelaki itu. Senyum Satria terus mengembang tidak henti-hentinya, lelaki itu yakin kalau rencananya untuk healing bersama istri tercintanya ini akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan oleh wanita hamil yang kini tengah melamun sambil memandang keluar jendela mobil.
"Kita sudah sampai," jelas Satria sambil mematikan mesin mobil dan keluar meninggalkan istrinya yang hanya memandang sekitarnya dengan heran.
"Kak!" teriak Mala sambil keluar mobil menyusul suaminya yang tengah mengeluarkan koper milik mereka.
__ADS_1
"Ada apa?" jawab Satria dengan tangan yang membawa koper. Lelaki itu sudah menyiapkan semuanya dengan matang sebelum meminta izin istrinya. Malam tadi Satria memasukan beberapa baju dan barang pribadi istrinya ke dalam koper.
"Kita akan melakukan apa di sini?"
Satria hanya tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya tersebut sambil berlalu.
"Kak!" teriak Mala kesal karena diacuhkan oleh suaminya yang berlalu begitu saja tanpa menjelaskan apapun kepadanya, dengan langkah gontai Mala mengekor langkah lelaki itu hingga sampai di sebuah rumah kecil yang ada seorang pemuda tersenyum kepada suaminya. Karena penasaran, Mala mempercepat langkah kakinya mendekati suaminya tersebut.
"Gue kira lo bercanda, Bro!" jelas pemuda itu sambil menepuk bahu Satria pelan.
"Gue pengin heling, Bro. Lo tahu kalau gue nggak kuliah lagi? Nggak ada kegiatan, suntuk!" jelas Satria kepada teman satu kampusnya dulu itu. Dia meminta agar temannya menyiapkan tempat yang nyaman untuk dirinya dan sang istri tercinta untuk healing.
"Duitnya sudah gue transfer malam tadi," tambah Satria.
"Iya, iya, gue sudah cek. Ini kuncinya, selamat berbulan madu dan gue doakan supaya cepat dapat momongan."
Setelah itu mereka tertawa bersama, akan tetapi Mala yang mendengar ucapan rama--tamah suaminya dengan pemuda itu sedikit tidak suka.
"Kak! Aku ingin berbicara," pinta Mala kepada suaminya.
"Bro, gue balik dulu ya. Nanti, jika perlu apa-apa? Kontek aja, gue stay buat lo," jelas pemuda itu yang tidak ingin mengganggu privasi pasangan suami--istri tersebut dan memilih pergi.
Setelah pemuda tadi pergi dan menjauh, Mala mulai mengeluarkan pertanyaan yang membuat suaminya itu tersudutkan, "Apa maksud Kakak berbicara seperti tadi?"
Satria menelan silvernya kasar, karena ditatap tajam oleh istrinya, "Nanti aja ya penjelasannya? Kita masuk dulu, berat ini kopernya!"
Mala hanya membuang nafas kasar dan mengikuti langkah suaminya yang sudah membuka pintu rumah itu. Setelah masuk, Mala tergaga melihat isi ruangan tersebut. Tempat yang minimalis dengan semua barang yang tersusun dengan rapi membuat hati sejuk memandang.
__ADS_1
"Ayo duduk sini dulu, aku mau jelasin semuanya sama kamu," pinta Satria sambil menepuk sofa di sampingnya. Istrinya itu hanya menurut dan duduk dengan cantik guna mendengar jawaban Satria.
"Nur, aku ngajak kamu kesini untuk healing. Kita lupakan sebentar ya masalah yang menimpa rumah tangga kita, aku ingin kamu merasa senang selama di sini. Aku juga tahu kalau kamu belum pernah ke pantai bukan? Nanti kita main pasir, atau memancing di laut bersama temanku tadi. Pokoknya untuk tiga hari ini aku ingin kita happy."
Penjelasan panjang lebar Satria bagaikan angin lalu buat Mala, dia bukan memikirkan hal itu. Namun, ada yang menjanggal hatinya. Satria yang melihat istrinya yang hanya diam saja akhirnya bertanya, "Nur! Ada apa?"
Mala menatap sendu suaminya, dia tahu maksud lelaki itu baik. Namun, Mala tidak suka akan sikap suaminya tadi saat bersama temannya.
"Kak, aku hanya tidak suka Kakak menceritakan aib kita kepada orang lain. Kakak harus ingat jika Kakak menceritakan hal sensitif atau hal yang berbau kamar kita? Hal itu tidak boleh, Kak. Jika ada seseorang menceritakan seperti apa dia di gauli atau tentang ranjangnya kepada orang lain? Itu sama saja dia… ."
"Hentikan!"
Satria tidak tahan lagi dengan penjelasan istrinya itu, dia paham kalau salah. Namun, semua itu terjadi begitu saja tanpa disadarinya sama sekali. Satria segera mendekati wanita hamil itu sambil menggenggam tangannya kuat-kuat, seolah-olah tidak ingin terpisahkan.
"Nur aku… ."
Brak… .
"Apa yang kalian lakukan?"
.
.
.
...Bersambung … ....
__ADS_1
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...