
"Kamu!"
"Mohon maaf jika saya mengganggu waktunya," jelas seorang lelaki paruh baya seraya sambil mengembangkan senyuman terbaiknya.
Azzahra bingung mau bagaimana hingga datang Udin dan Satria menghampiri karena penasaran kenapa sang umi hanya berdiri didepan pintu tanpa mempersilahkan sang tamu untuk masuk.
"Ra, siap …," ucapan Udin terhenti ketika di depan sang istri. Tubuh lelaki itu diam membeku seketika begitupun dengan Satria yang datang mendekat.
"Mohon, maaf sekali lagi. Apakah saya boleh masuk?"
Pertanyaan dari lelaki paruh baya tersebut menyadarkan lamunan mereka seketika, Azzahra dibuat salah tingkah dan menjadi malu sendiri. Udin yang juga bingung harus bagaimana akibat terkejut akan kedatangan seseorang yang tidak diduga sama sekali.
Satria yang masih menatap lelaki paruh baya itu dan ikut mengekor dari belakang menjadi heran lalu membatin, "Apakah mereka saling mengenal?"
Pertanyaan demi pertanyaan bergentayangan di benak Satria, praduga demi praduga membuatnya gusar hingga lahirnya ia angkat bicara.
"Apakah kalian saling mengenal?"
Udin dan Azzahra menatap Satria dengan tatapan bingung, entah apa yang akan mereka jelaskan kepada Satria tentang siapa lelaki paruh baya yang di hadapan mereka ini.
Karena merasa lelah berdiri, lelaki paruh baya itu masuk dan berlalu begitu saja menuju sofa.
__ADS_1
"Duduk disini, Nak," panggil lelaki itu sambil menepuk pelan sofa di sampingnya.
Satria, Udin dan Azzahra seolah terhipnotis oleh kata-kata lelaki paruh baya itu dan hanya menurut saja.
"Apa kabarmu, Zahra?" tanyanya sambil menatap Azzahra dengan tatapan penuh akan kerinduan yang mendalam.
Azzahra yang mendapatkan pertanyaan tersebut menjadi salah tingkah dan gugup setengah mati. Udin yang memahami keadaan dan situasi sang istri akhirnya menjawab pertanyaan lelaki paruh baya tersebut.
"Alhamdulillah, baik Om. Kalau Om bagaimana?" tanya Udin balik seraya menatap nanar lelaki paruh baya tersebut.
"Alhamdulillah, baik juga. Lama sekali ya Om tidak pernah mampir lagi ke rumah kalian."
"Anda siapa?"
Pertanyaan Satria menarik perhatian mereka yang ada dalam ruangan tersebut.
"Apa kamu di pondok pesantren tidak pernah diajari tentang Akhlak yang baik ketika bertemu dengan orang tua?" tanyanya dengan ketus.
Satria bungkam seketika, dia paham sekali tentang Akhlak yang baik ketika bertemu dengan orang yang lebih tua darinya. Namun, terkadang perasaan menguasai Manusia dan membuat Manusia itu sendiri sulit untuk mengontrol sikap.
"Kenapa diam? Apa kamu tahu cara bersikap yang baik? Bukankah Akhlakul karimah yang dicontohkan oleh Baginda kita Rasulullah yang menjadi suri tauladan kita telah ditanam sejak kecil? Ataukah kedua orang tua kamu tidak mengajarkannya?"
__ADS_1
Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh lelaki paruh baya itu membuat Satria merasa tidak terima dan mengeluarkan ucapan yang tidak pantas.
"Anda, bukan siapa-siapa? Apalagi Anda tidak punya hak untuk menjatuhkan nama orang tua saya," balas Satria dengan emosi yang berada di ubun-ubun.
Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum tanpa merasa tersinggung sama sekali, dia menanggapi ucapan Satria dengan bijak dan membuat Satria bungkam seketika.
"Saya tidak menjatuhkan nama orang tua kamu! Karena saya tidak mengetahui siapa nama kedua orang tuamu."
Sunyi sejenak menemani mereka, Satria benar-benar tidak mampu bersuara lagi. Udin dan Azzahra semakin gusar, bagaimana caranya menghadapi lelaki paruh baya ini. Hingga tidak lama kemudian suara yang sangat mereka kenal terdengar nyaring memanggil seseorang.
"Kakek!"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...
__ADS_1