Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Mala Sakit


__ADS_3

Setelah mendegar ucapan sang istri, Satria segera membawa perempuan hamil muda itu masuk ke dalam guna menghindari hal yang tidak diinginkan.


"Ayo masuk, Nur. Kamu istirahat di kamar ya? Nanti aku suruh Suci bawakan kamu makanan," jelas Satria sambil menuntun istrinya masuk.


Mala hanya mampu diam dan mengikuti ajakan suaminya, sebab perasaannya tidak nyaman terlebih di bagian perut yang terasa sakit.


"Loh, Kalian mau ke mana?" tanya Azzahra heran melihat pasangan suami--istri tersebut.


"Mala sakit, Umi. Mual dan pusing," keluh Mala manja kepada sang Umi.


"Ya sudah, istirahat sana."


"Suci, tolong bawakan makanan ke kamar," pinta Satria ketika meilhat gadis itu membawa sepiring nasi dan lauk--pauk.


"Biar Umi saja, kamu bantuin Azzam menghidangkan makanan di depan," perintah Azzahra mengambil alih piring yang ada di tangan gadis itu dan berlalu menyusul Satria dan Mala yang sudah terlebih dahulu berlalu.


Ketika semua orang tengah sibuk di dalam, Ikbal dan Marissa sendang berseteru hebat dihadapan tamu sepasial.


"Mami kenapa mengundang Mereka?" tanya Ikbal kesal akan sikap semaunya sang istri.


"Mami hanya mengundang Elissa, bukan Dia!" balas Marissa sengit sambil menujuk wajah Marcel.


Membuat Marcel terpancing emosi, "Saya kesini karna Elissa yang meminta!"


"Ded, jangan marah-marah," pinta Elissa malu.


"Ded? Apa dia Dedy kamu?" tanya Marissa terkejut begitu juga sang Suami. Elisaa hanya mengangguk mengaggapi ucapan wanita dihadapanya.


"Allahu Akbar, dunia memang begitu sempit," ucap Ikbal yang tidak menduga kalau Elissa adalah putri dari Marcel mantan kekasih sang istri, lelaki yang telah membuat Marissa hamil dan mengandung Satria.


"Kamu lagi bercandakan, Saa?" tanya Marissa meyakinkan kalau berita tadi bohong.


"Dedy Marcel adalah Ayah kandunnya Eliss, Mi," jelas Elissa dengan sorot mata serius.


"Kalau begitu kamu dan Satria adalah saudara," celetus Ikbal beramsumsi.


"Maksudnya?" tanya Elissa binggung.

__ADS_1


"Jadi, benar Satria itu adalah putraku?" tanya  Marcel dengan sorot mata berbinar mendegar penuturan suami Marissa tersebut.


"Bukan!" bentak Merissa tidak terima. Rencananya bisa berantakan jika Elissa benar adalah saudari Satria, sebab sebelumnya.


Flashback on


Setelah kepergian Satria dari kamarnya, Marissa segera mengambil ponsel dan menghubungi Elissa lagi. Dia telah berunding dengan Elissa sejak beberapa hari yang lalu, setelah mendegar berita kehamilan Mala. Mereka menyusun rencana untuk memisahkan Satria dan Mala. Marissa benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk lebih lama berpura-pura baik di hadapan semua orang. Dia benar-benar tidak menyukai Mala, itu berlaku sampai kapan pun. Dan dia berniat memisahkan pasangan suami--istri tersebut dengan menikahkan Satria dan Elissa, sebab mereka memang sudah mengatur perjodohan tersebut jauh sebelum Satria menikahi Mala.


"Halo," sapa Marissa ketika sambung teleponya terhubung.


"Halo, Mi. Are you redy?" tanya Elissa dari seberang sana.


"Sudah, jangan basa-basi. Segera ke sini!" pinta Marissa tidak sabaran.


"Oke." Setelah kata itu Elissa menutup telepon mereka, sebab dia sudah mulai memasuki gang perumahan menuju rumah Satria.


"Kamu yakin di sini alamatnya?" tanya Marcel ragu akan jalanan yang mereka lalui. Sebenarnya Marcel tengah berada di kantor mengurusi berkas-berkas perkerjaan. Namun, permintaan sang Putri yang ingin mertemu Mami angkatnya yang baru di ketahui adalah Marissa, dia segera meninggalkan pekerjaannya dan memilih menemani sang Putri untuk bertemu Marissa. Marcel terlalu sibuk di kantor dan tidak memperhatikan pergaulan sang Putri. Setelah meninggalnya Momy Elissa, Marcel lebih memilih menyibukan diri di kantor dari pada mengurus putrinya. Semua itu sebab Marcel menaruh dendam kepada keluarga sang istri yang memaksanya untuk menikahi Momy Elissa dan meminta anak kepadanya. Membuat Marcel harus meninggalkan sang kekasih Marissa, dia melakukan semua itu demi harta--benda semata. Kekayaan Momy Elissa sangat mengiurkan dari pada sebuah CINTA.


"Ded, itu dia rumahnya!" teriak Elissa dengan mata berbinar melihat rumah bercat putih tersebut.


Teriakan Elissa membuyarkan lamunan Marcel, dan menatap rumah yang di maksud oleh sang Putri. Marcel memakirkan mobil miliknya dan tidak berapa lama datang sosok yang dia kenal. Dia adalah Ikbal Satiwan Permata, pemilik pemilik Permata Grub suami Marissa mantan kekasihnya. Mereka keluar mobil, lalu berhadapan dengan Ikbal namun, tidak berapa lama Marissa datang.


"Mami!" bentak Ikbal keras membuat Marissa terpaku. Jika sang Suami sudah mengeluarkan suara tinggi itu pertanda lelaki itu sudah marah dan jika dia marah maka akan berat memujuknya kembali. Membuat Marisaa diam seribu bahasa, jika suaminya sudah seperti itu.


"Kita masuk dulu, semuanya kita jelaskan di dalam," pinta Ikbal kepada tamunya tersebut, sebab tidak baik berbicara sesuatu yang penting di luar terlebih banyaknya mata orang yang lalu--lalang lewat memperhatikan mereka sedari tadi. Marcel mengangguk dan mengandeng tangan sang putri masuk, dia juga penasaran akan kebenaran Satria putranya atua bukan?


"Papi," lirih Marissa namun, tidak di tanggapi sang Suami yang berlalu begitu saja meninggalkannya.


"Aku salah mengambil langkah?" batin Marissa menyesal sambil ikut masuk.


Disinilah mereka duduk lesehan di atas karpet dengan hidangan bermacam-macam kue dan hidangan lainnya. Marcel berfikir kalau keluarga Permata sudah jatuh miskin, sebab keadaan sederhana yang tersajikan di hadapannya membuat amsumsi-amaumsi lainya bermunculan.


"Kalau Permata Grub jatuh miskin? Aku tidak akan pernah mengakui Satria sebagai putraku," batin Marcel.


"Wah, ada tamu?" celetus Azzahra sambil mendekat membawa minuman.


"Diamlah!" bentak Marissa yang memang tidak menyukai Uminya Mala tersebut.

__ADS_1


"Zahra, ayo kita ke dalam," ajak Udin yang tahu kalau di sini bukan ranah urusan mereka. Azzahra mengangguk dan mengikuti Udin setelah menghidangkan minuman yang sebelumnya dia bawa.


"Mereka ART di sini?" tanya Marcel setelah dua orang tadi berlalu.


"Itu bukan urusan Anda!" balas Marissa ketus.


"Mami, tolong panggilkan Satria," pinta Ikbal kepada sang istri yang mendapat gelengan kepala.


"Kalau begitu, biar Papi saja," ucapnya sambil bangun dari duduknya namun, ditahan oleh sang istri.


"Biar Mami saja," jelasnya sambil bangun dan berlalu. Setelah sang istri berlalu, Ikbal memulai pembicaraan dengan tamunya.


"Jadi, begini Pak Marcel. Sebenarnya Satria sudah tahu kalau Anda ayah biologisnya karna kadatangan Anda kemarin ke RSJ," jelas Ikbal sambil mengatur nafas.


"Tolong!" teriak Mami.


"Siapkan Mobil!" teriak Satria sambil mengendong sang istri yang tidak sadarkan diri.


Marissa yang masuk kedalam kamar Satria dikejutkan oleh keadaan Mala dengan wajah yang pucat, dia melihat Satria yang sedang solat di samping tempat tidur. Dia mendekati Mala dan melihat keadaan sang Menatu yang lemah dengan wajah pucat merasa tidak enak hati.


"Kenapa dengannya?" batin Marissa sedih. Dia seorang ibu, pernah hamil dan melahirkan jelas dia tahu bagaimana susah-payah melewati dua hal itu. Ketika Satria selesai solat Marissa segera menyuruh sang putra mendekat.


"Ada apa Mami?" tanya Satria binggung.


"Bawa istri kamu ke rumah sakit!" pintanya cemas.


"Nur kenapa?" tanya Satria panik.


"Dia pingsan!"


.


.


.


Bersambung… .

__ADS_1


*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*


__ADS_2