
"Sampai matipun aku tidak akan menjawab," lirih lelaki.
"Baiklah, maka selamat tinggal di rumah baru kalian," ujar Mala sambil mendekati meja kecil yang terdapat telepon rumah dan menelpon seseorang.
"Halo."
"Iya, halo. Dengan siapa saya berbicara"
"Ini kantor polisi, bukan?"
"Iya, dengan Ibu siapa?"
"Saya mau melaporkan kasus penyerangan di rumah saya yang berada di jalan Merpati tepat di depan minimarket Nur Mala Sari."
"Mohon maaf, apa Anda yakin? Karena kami takut ini hanya pengaduan palsu, sebab Anda berbicara dengan sangat tenang."
Mala menarik seulas senyum mendengar penuturan polisi yang di telepon, seharusnya mereka yang disebut pelayan masyarakat bisa lebih ramah terhadap apa pun yang dilaporkan dan bisa lebih sigap.
"Kalau Anda tidak percaya? Maka, siap-siap menerima kiriman mayat," balas Mala sambil menutup telepon. Namun, tiba- tiba di dikejutkan oleh kehadiran suaminya yang menatap tajam sambil mendekat.
"Siapa yang kamu telepon?" tanya Satria yang sedari mendengar semua ucapan istrinya, walau tidak mendengar jawaban lawan bicara yang ditelepon oleh istrinya.
"Polisi," jelas Mala sambil menghampiri lelaki tadi.
"Uhuk, uhuk,"
"Anda kenapa?" tanya Mala yang melihat gelagat aneh lelaki itu.
"Se--elam--mat ti--ing--gal di rum--mah ba--aru-mu," lirihnya sebelum hilang kesadaran.
"Nur! Jangan kamu sentuh lagi!" teriak Satria mencegah istrinya yang ingin menyentuh tubuh lelaki itu.
"Dia, kenapa Kak?" tanya Mala bingung.
"Dia …,"
"Ada apa?" tanya Ikbal tiba-tiba mengagetkan pasangan tersebut.
Ikbal menatap lelaki yang tadi di hajar menantunya dengan seksama dan menyimpulkan, "dia telah mati."
"Apa?" teriak Mala dan Satria kompak karena terkejut.
__ADS_1
***
Tidak berapa lama datang mobil polisi, semua orang di bawa ke kantor polisi. Sedangkan ke empat lelaki yang datang ke rumah Mala masuk ke rumah sakit. Nasi telah menjadi bubur, tidak bisa dirubah menjadi beras kembali. Malang memang nasib Mala, maksud hati hanya ingin melindungi keluarganya. Namun, apalah takdir yang seolah tidak mau konformi sama sekali. Mala kini hanya bisa bersabar, dia harus masuk bui sebab melukai orang-orang yang datang dengan maksud jahat ke rumahnya. Kata tidak adil memang harus diucapkan, akan tetapi mengeluh pun tidak ada gunanya. Disinilah mereka.
"Nur, biar aku saja yang menggantikanmu," pinta Satria yang kesekian kalinya. Dia berharap istrinya bisa bebas, tidak sanggup ia melihat wanita hamil itu harus merasakan dinginnya jeruji besi.
"Papi, akan berusaha mengeluarkan kamu, Nak," jelas Ikbal menatap sendu menantunya tersebut, entah bagaimana hukum di Negaranya ini. Siapa yang seharusnya bersalah dan siapa yang menjadi korban.
"Papi, sudah telepon pengacara?" tanya Satria tanpa mengalihkan tatapannya kepada sang istri. Mereka mau tidak mau membiarkan wanita hamil itu bermalam di penjara selama kasus masih berjalan.
"Sudah, beliau akan datang pagi ini."
Satria hanya bisa mengembuskan nafas panjang mendengar penuturan lelaki di sampingnya tersebut.
"Sabar Kak, semuanya pasti ada hikmahnya." Mala mencoba menenangkan suaminya yang gusar melihat keadaan seperti ini.
"Pak Ikbal! Alhamdulillah, semua urusan sudah lancar."
Semua mata tertuju kepada seseorang yang datang dan memanggil Ikbal ternyata dia adalah sang pengacara yang mereka tunggu kedatangannya.
"Alhamdulillah, Pak. Jadi, istri saya bisa keluar?" tanya Satria antusias. Dia tidak menduga polisi dengan kejam mengurung istrinya.
Mendengar ucapan sang pengacara membuat Ikbal dan Satria hanya mampu membuang nafas kasar. Sebegitu buruknya kah? Apa yang dilakukan oleh wanita hamil itu.
"Mohon maaf, saya akan membukakan sel untuk mengeluarkan Ibu Mala."
Mereka semua memberi jalan polisi tersebut untuk melakukan tugasnya.
"Terimakasih, Pak," ujar Mala tulus yang mendapat anggukan kepala lelaki itu. Akhirnya mereka semua pulang ke rumah didampingi pengacara keluarga Permata yang ingin memberikan beberapa aset yang tertinggal kepada Marissa dan Satria sebagai ahli waris almarhum Malik.
"Silahkan duduk, Pak," pinta Satria sopan kepada lelaki yang sudah banyak jasanya untuk keluarga Permata tersebut. Setelah sampai di rumah, tidak berapa lama datanglah Azzahra yang membawa air minum.
"Silahkan," ucapnya seraya meletakan cawan berisi air tersebut di atas meja ruang tamu dan kembali lagi ke dapur.
"Mohon maaf, Pak. Saya ingin mengantar istri saya ke kamar terlebih dahulu," pinta Satria yang mendapat anggukan kepala lelaki itu.
Setelah Satria dan Mala berlalu masuk ke dalam, Ikbal memulai pembicaraan dengan sang pengacara.
"Mohon maaf, Pak. Ada hal apa yang akan Anda sampaikan?" tanya Ikbal penasaran.
"Mohon maaf, Pak. Kita tunggu Ibu Marissa dan Satria, sebab hal ini harus diketahui oleh mereka."
__ADS_1
Ikbal hanya diam membisu setelah mendengar penolakan halus lelaki yang duduk di depannya tersebut, dia sadar statusnya yang hanya menantu Pak Malik. Tidak lama kemudian Satria datang bersama maminya.
"Maaf menunggu, Pak. Ayo Mi, duduk disini," pinta Satria.
Hening menemani mereka sesaat, setelah itu sang pengacara memulai membuka pembicaraan.
"Mohon maaf sebelumnya jika hal ini agak berat untuk kalian." pengacara tersebut menjeda ucapannya sesaat untuk menghirup udara segar. Seperti sangat berat baginya untuk menjelaskan apa yang akan terjadi.
"Ibu Marissa dan Satria," Dia menatap bergantian ibu dan anak itu, "kalian mendapatkan anak cabang perusahaan Permata Group dan satu buah rumah peninggalan Yolanda."
Mata Satria melotot, dia tidak paham dengan apa yang terjadi. Semua masalah yang datang tanpa jeda membuat ia depresi. Namun, berbeda dengan kedua orang tuanya yang hanya mampu membuang nafas kasar, sebab mereka sudah tahu akan hal ini.
"Ini surat asli dari aset yang saya sebutkan tadi, rumah atas nama Ibu Marissa dan anak cabang perusahaan Permata Group atas nama Satria."
Satria hanya melongo mendengar penuturan lelaki yang berada di depannya, dia sulit mencerna semua kata yang diucapkan lelaki itu.
"Maksud Bapak, ini apa?" tanya Satria meminta penjelasan.
"Anda bisa tanyakan kepada Ibu Marissa dan Pak Ikbal. Mohon maaf, saya ingin undur diri ada urusan yang lain."
Setelah kepergian sang pengacara, Satria langsung meminta penjelasan dari kedua orang tuanya tentang masalah ini.
"Papi! Mami! Tolong jelaskan masalah ini!"
Ikbal dan Marissa hanya mampu membuang nafas panjang, bagaimana menjelaskan sesuatu yang mereka sendirian tidak mengetahui dengan pasti.
"Ada seseorang yang berinisial SS, dia mengalih namakan perusahaan kita atas nama itu."
Satria menatap wajah papinya setelah mendengar penuturan lelaki itu. Dia tidak paham kemana arah pembicaraan ini? Baru saja mereka menerima coban, sekarang diuji lagi! Tuhan seolah tidak mau membiarkan keluarga ini walau hanya untuk berehat sejenak.
"Siapa SS?"
.
.
.
...Bersambung… ....
...*Setelah baca wajib like end comen 😇*...
__ADS_1