Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Memulai aksi pemusnahan.


__ADS_3

Pagi menyingsing menyibak semua awan mendung, hari ini adalah hari esakusi untuk masalah yang di hadapi oleh keluarga para pengejar cinta Robb. Pagi yang diawali dengan basmallah, setelah sarapan di rumah Azzahra mereka berempat berpamitan untuk pulang ke rumah. 


"Hati-hati di jalan," pesan Azzahra kepada anggota keluarganya tersebut. 


Kendaraan beroda empat yang di kendarai oleh Ikbal melaju membelah jalan raya yang mulai memadat, beberapa kali lelaki itu membuang nafas panjang, ketika melihat semrawut  kendaraan yang lain. Mala dan Satria hanya diam dengan pemikiran masing-masing, entah apa yang ada di dalam benak pasangan itu. Sedangkan Marissa, wanita itu selalu berdecak kesal melihat ponselnya, entah apa yang wanita itu lihat. Namun, guratan kekecewaan kentara di wajahnya. Waktu berlalu lebih lambat dari biasanya, sehingga mereka sampai di halaman rumah dengan perasaan yang tidak menentu. 


"Assalamualaikum."


Salam Suci bagaikan angin lalu bagi keluarga itu, mereka berlalu begitu saja meninggalkan gadis malang itu dengan sejuta pertanyaan di dalam benaknya. Mereka berempat kompak mengacuhkan gadis berselimut domba itu. 


"Apa yang terjadi?" batin Suci.


Entah bagaimana ceritanya, namun yang pasti mereka memulai aksi yang lain dari yang lain. Dari datang hingga sore sekalipun, keluarga itu tidak memperdulikan Suci. Ini adalah salah satu teknik pemusnahan mereka, membuat gadis itu terasingkan dan marah. Di saat gadis itu dikuasai oleh perasaan emosi yang memuncak, maka disitulah mereka bisa mencarinya  sebab--musabab masalah yang berkaitan dengan gadis itu. 


Malam harinya pun mereka masih mendiamkan gadis itu, lebih parahnya mereka tidak mau menatap wajah Suci. Kejam! Memang kejam apa yang mereka lakukan, akan tetapi dibalik itu semua ada hal yang memang membuat mereka harus melakukannya.


Setelah makan malam bersama, mereka masuk ke kamar masing-masing, meninggalkan Suci yang harus berjibaku dengan piring-piring kotor. 


"Apa salahku?" batin Suci. Gadis itu menangis sambil mencuci piring, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Hingga akhirnya praduga pun menghantuinya. 


Di kamar Mala dan Satria.


Kedua pasangan itu tengah berbaring sambil berpelukan, Mala menjadikan lengan suaminya sebagai bantal penyangga kepala. Perasaan nyaman menyeruak di kala ia memandang wajah sang suami yang semakin hari semakin tampan dan berkarismatik. 


"Kak, apa yang kita lakukan ini tidak berlebihan?"


Satria menatap sendu wajah istrinya, dia tahu kalau wanita yang berbaring di sampingnya tengah merasa tidak enak hati, "entahlah, Nur! Kita ikuti permainan ini."

__ADS_1


Hanya kata-kata itu yang mampu diucapkan sebagai penenang hati untuk istrinya, mereka sudah membuat rencana dan berharap rencana itu akan berhasil. Mengungkap sesuatu yang tersurat itu sulit, akan tetapi dengan membuat yang tersurat itu. Namun, jika yang tersirat itu diangkat ke permukaan, mungkin mereka bisa melihat dengan jelas, apa yang ada di dalamnya.


"Besok kamu ikut ke kantor ya," ajak Satria. Dia ingin istrinya untuk tidak terlalu memikirkan masalah ini. Wanita hamil itu hanya mengangguk pelan di dalam dekapan suaminya, hingga tidak berapa lama dia terlelap.


Satria mengelus sayang puncak kepala istrinya, gadis yang dulu sangat ia dambakan


 Kini telah berubah menjadi wanita yang luar biasa. Wanita yang bisa mendampinginya, di kala susah dan senang. Wanita yang tidak ada hubungan darah dengannya, akan tetapi bersedia menemani dalam suka dan duka. 


"Nur, jika Tuhan izinkan. Aku ingin sekali hidup bersama denganmu lebih lama lagi. Jujur aku takut, kamu akan pergi! Di dalam rahimmu ada tumor, aku takut hal itu akan membuat kita berpisah. Jika, Tuhan izinkan! Maka aku akan dengan senang hati menggantikan posisi kamu. Aku sayang kamu karena Allah, dan aku akan berpisah juga dari kamu karena Allah. Aku tidak Ridho, jika kita terpisahkan oleh Makhluk."


Kata-kata harapan yang diucapkan oleh Satria tulus dari hati, sebagai seorang suami ia merasa terbebani akan penyakit yang diderita oleh istrinya. Namun, apalah daya? Ia hanya Manusia biasa, yang hanya bisa berdoa dan berharap belas--kasihan dari Sang Pencipta.


"Suci! Kamu harus bertanggung jawab," batin Mala. Sebenarnya ia tidak benar-benar tidur, dan ia mendengar dengan jelas semua unek-unek suaminya. Hal itu yang membuat ia semakin kuat untuk membongkar kedok serigala berbulu domba yang mereka pelihara selama ini. Sesal memang tidak bisa di hilangkan dari dirinya karena telah menerima gadis itu, akn tetapi selama masih ada waktu!? Semuanya bisa diperbaiki. 


...***...


Seperti yang telah Satria sampaikan kepada istrinya semalam, jika akan membawa wanita hamil itu untuk ikut berangkat ke kantor menemaninya bekerja. 


Perintah Satria kepada istrinya yang masih mengenakan baju, sebab baru habis mandi. Dia tidak ingin terlambat ke kantor, sebab akan ada pertemuan dengan para petinggi perusahaan. Semua sudah sah menjadi miliknya, maka dari itu akan ada pertemuan sebagai klasifikasi kedudukan. 


Di meja makan sudah ada Ikbal dan Marissa yang makan dalam diam, Suci hanya sebagai pajangan di sana. Satria segera menarik kursi dan duduk menghadap ke arah kedua orang tuanya. 


"Mana Mala?" 


Satria menatap papinya sebentar lalu mengarahkan pandangannya ke kamar, seolah paham Ikbal mengangguk pelan dan tidak berapa lama muncullah Mala dengan pakaian syar'i. Hijab yang menjuntai panjang dan gamis yang longgar dengan warna cerah. Suci yang melihat tampilan Mala tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. 


"Mbak, mau ke mana?"

__ADS_1


Semua mata tertuju ke gadis itu, membuat Suci menunduk takut. Dia paham kalau ucapannya salah. 


"Ci, mana kunci minimarket?"


Pertanyaan Mala benar-benar memporak-porandakan hati gadis itu, dengan tangan gemetaran ia menyerahkan sesuatu yang selama ini di pegangnya. Walau tahu diri kalau itu bukanlah miliknya.


"Letakan di atas meja!" bentak Mala keras membuat semua orang terlonjak kaget. Namun, detik kemudian mereka kembali mengatur perasaan agar normal, seolah tidak terjadi apa-apa.


Suci hanya menangis dalam diam, karena tidak tahan lagi dengan sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekelilingnya yang berubah drastis setelah kepergian mereka malam tadi, akhirnya gadis itu pergi ke kamar. Membawa rasa sakit hati yang mendalam.


Ikbal membuang nafas panjang lalu menatap Satria dan Mala bergantian, "apa kalian benar-benar akan melakukan semua ini?"


"Ikuti rencana yang ada!" pekik Marissa sambil menatap tajam suaminya. 


"Sebenarnya aku tidak tega," lirih Satria mengutarakan isi hatinya. 


"Dia saja tega melakukan itu se… ."


"Mami! Mami mau ikut kami?" Mala memotong ucapan mertuanya dan segera mengalihkan pembicara, ia yakin sekali kalau Suci tengah menguping pembicaraan mereka. 


"Melakukan apa?"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung… ....


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2