Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Bahagia Itu Sederhana


__ADS_3

Setelah dari TPU Satria mengajak putrinya dan sang istri jalan-jalan sejenak. Satria ingin sekali membawa orang yang sangat berarti dalam hidupnya untuk merasakan nikmat dunia. 


Selagi masih bersama, maka selama itu juga Satria akan membahagiakan istri dan putrinya.


Lelaki itu mengajak dua wanita cantiknya keempat permainan, disaan ia ingin menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang. Walaupun Satria tahu jika istrinya akan mengomel dengan alasan 'Mumajir, membuang-buang uang'.


"Kakak, kenapa tersenyum sendiri?" tanya Mala heran. 


"Ah---tidak apa-apa, ayo kita turun," terang Satria sambil keluar dari mobil.


Lelaki itu memutar dan membukakan pintu mobil untuk istri dan juga putrinya. Mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan dengan senyum yang mengembang. 


Mala merasa senang dan bahagia bersama Satria yang kini sebagian suaminya. Tidak ada penyesalan didalam diri Mala menikah dengan lelaki yang kini menggendong putri mereka.


"Kakak, makasih atas segalanya," kata Mala sambil duduk didekat suaminya. 


Mereka duduk ditepi kolam mancur ditenagah taman bermain yang mereka sambangi. 


Cahaya tertawa lepas melihat ikan emas yang mengemaskan berenang kesan-kemari. Putri Mala dan Satria itu, ikut merasakan kebahagiaan sama seperti orang tuanya. 


"Berterimakasih pada Yang Maha Kuasa, karena DIA yang Maha atas segalanya," terang Satria sambil memengang tubuh sang putri agar tidak terjebur kedalam kolam. 


Putri Mala dan Satria yang sudah mulai aktif membuat mereka tidak boleh lengah, bisa saja putri mereka terjatuh atau menangis. 


Menjadi orang tua harus selalu siaga, itu menurut Satria. Sebab ia tidak ingin menyesal dikemudian hari akibat kelalaliannya sendiri.


Mala hanya terdiam sesaat mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya. Terkadang sebagai Manusia, sering kali lalai dan lupa akan Sang Pemberi Kehidupan. 


Berharap dan merasa apa yang didapatkan adalah sebuah hasil dari usaha yang diperbuat. Namun, ketika kekecewaan yang didapat maka akan berprasangka bahwa ini sebab Tuhan. 


Itulah Manusia, yang sering lalai dan lupa akan siapa yang Maha Kaya dan Maha Tahu atas segala apa yang ada dibumi maupun yang ada dilangit. 


"Nur, kamu mau naik itu tidak?"


Pertanyaan tiba-tiba suaminya membuyarkan lamunan Mala, ia menatap permainan yang berputar-putar dan tinggi. 


"Aku takut, Kak," lirih Mala. Nyalinya menciut melihat kincir angin yang besar tersebut.


"Kamu jangan takut, 'kan ada aku. Lagian aku sudah lama tidak naik kincir angin," ajak Satria sambil menarik tangan istrinya dengan Cahaya yang sudah berada digendongnya. 

__ADS_1


Mala hanya mengikuti apa yang suaminya katakan, walaupun ia takut. Selama hidup didunia ini, Mala tidak pernah naik benda seperti itu. Hal itu yang semakin membuatnya takut. 


Setelah membeli karcis, Satria membawa anak dan istrinya masuk kedalam wahana kincir angin. 


Satria sudah lama tidak naik permainan itu, membuatnya semakin bersemangat. Berbeda dengan sang istri yang nampak pucat pasih. Apalagi ketika kincir angin yang mulai berputar. 


"Kak, aku mual!" teriak Mala dengan menutup mulutnya dengan tangan.


Perasaannya sangat tidak nyaman, terlebih perutnya yang terasa diobok-obok. Membuat Mala seolah ingin muntah. 


"Apa mungkin kamu hamil, Nur?" 


Mala ingin sekali mencekik suaminya yang dengan enteng mengatakan hal itu. 


"Masih pakai balao KB? Bagaimana bisa jadi anaknya?" batin Mala. 


Akhirnya Mala hanya diam karena kepalanya sangat pusing. Sampai permainan berhentipun, Mala masih diam membuat suaminya merasa tidak nyaman. 


Satria segera membawa istrinya menuju cafe terdekat, karena ia berfikir kalau  istrinya lelah dan kelaparan karena jam sudah menunjukkan makan siang. 


"Ayo, Nur. Kita makan siang, disini banyak menu makanan yang kamu suka."


Mala hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan suaminya, ia marasa tidak semangat.


Namun, makanan yang sudah dipesan oleh Satria dan dihidangkan sekalipun. Wajah Mala masih masam membuat Satria semakin merasa bersalah. 


"Nur, aku minta maaf," lirih Satria ketika mereka telah didalam mobil.


Disebabkan sang istri yang tidak berselera, Satria memutuskan untuk membawa pulang makanan yang sudah dipesannya.


Bagi Satria kebahagiaan sang istri adalah prioritas utama yang tidak boleh ditawar-tawar, karena pondasi paling penting dalam berumah tangga adalah perasaan sang penghuni tentunya. 


Ketika penghuni dalam rumah tangga itu tenang dan baik-baik saja, tentu akan membuat perasaan menjadi nyaman dan tentram. Namun, jika sebaliknya? Maka akan terasa di Neraka.


"Iya gak apa-apa, Kak. Ayo kita pulang, kasihan Cahaya dia sudah tertidur," pinta Mala sambil menatap lembut wajah sang buah hati yang tengah terlelap di pangkuannya. 


Satria segera melajukan mobil meninggalkan tempat hiburan tersebut, maksud hati ingin menghibur istri dan anaknya. Namun, berakhir dengan keadaan yang tidak kondusif.


Bahagia menurut Satria sederhana, ketika bisa melihat wajah istrinya tersenyum itu sudah membuat ia sebagai suami merasa bahagia. 

__ADS_1


Namun, apa 'lah daya? Setiap kali ia membawa sang istri untuk healing, akan tetapi selalu berakhir dengan kejadian yang tidak terduga. 


"Mungkin aku harus melakukan hal itu," batin Satria. 


.


.


.


Matahari terbit dengan cahaya yang terang benderang. Menandakan bahwa sang surya tengah siap untuk melihat penghuni bumi yang akan melewati hari ini dengan berbagai-macam ujian dan aktifitas seperti biasanya. 


Kini Satria tengah memasak di dapur, menyiapkan sarapan untuk istri dan anaknya. Hal yang sederhana, akan tetapi sangat berarti bagi seorang istri. Dimana suami menggantikan pekerjaan sang istri walaupun hanya sehari, bagi seorang istri bagaikan mendapatkan angin sepoi-sepoi.


Namun, hal ini mungkin terbalik dengan Mala. Wanita itu merasa sungkan dan tidak nyaman ketika sang suami melayaninya 'bak Ratu kayangan. 


"Kak, biar aku saja membawa telor itu," pinta Mala yang ingin mengambil alih piring yang berisi telor ceplok buatan sang suami. Namun, dihalau oleh lelaki itu. 


"Nur! Kamu mau durhaka? Ingat melawan perintah suami itu dosa," jelas Satria dengan seringainya. 


Satria paham akan kelemahan sang istri yang tunduk akan hukum agama, apalagi istrinya yang bercita-cita menjadi istri soleha. 


Mala hanya mengangguk dan duduk di kursinya sambil memperhatikan sang suami yang menata makanan dimeja makan. Cahaya yang sudah mulai berceloteh membuat suasana pagi itu menjadi semakin syahdu. 


Hingga tanpa Mala sadari air matanya menetes tanpa dipinta, Satria yang melihat hal itu segera bertanya, " Nur, kamu kenapa?"


"Aku bahagia, Kak. Makasih atas segalanya, kamu telah menjadi suami yang baik untukku," jelas Mala dengan mata yang berkaca-kaca menahan perasaan haru dan bahagianya memiliki suami seperti Satria.


"Kamu itu bicara apa sih? Aku melakukan semua ini, karena memang tanggung jawabku juga. Nur, kita ini patner dalam menjalani hidup dan kita saling bahu-membahu," jelas Satria sambil mengusap pucuk kepala sang istri. 


Sebagai suami ia paham jika perasaan wanita seringkali berubah-ubah karena sudah kodratnya. Satria hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik dan belajar memahami perasaan sang istri.


"Kak, aku mau hamil!"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2