Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Nasehat Untuk Diingat


__ADS_3

"Satria!"


Satria segera berbalik badan melihat siapa yang memanggilnya, ternyata yang memanggilnya adalah Marcel mantan kekasih sang mami yang dikira dulu adalah ayah biologisnya. 


Dengan nafas ngos-ngosan lelaki itu menghampiri Satria, dia yang kebetulan kerumah sakit menjenguk rekan kerja nya untuk keperluan bisnis tidak sengaja melihat Satria lalu memanggilnya.


"Kamu ngapain di rumah sakit?" tanyanya setelah berada tepat dihadapkan Satria. 


Satria akhirnya mengatakan yang terjadi, bahwa istrinya telah dioperasi dan sedang dirawat dirumah sakit tersebut. Marcel yang merasa iba mendengar cerita Satria akhirnya memutuskan meminta izin untuk ikut menjenguk Mala.


Satria dan Marcel naik ke lantai 2 sesuai informasi yang dijelaskan lelaki yang sebelumnya Satria temui. Satria memasuki ruangan cantik lalu membuka pintu tersebut perlahan. Terdengar suara seseorang mengaji dan ternyata adalah sang bapak. Satria berbalik menatap Pak Marcel dan menaruh telunjuknya di bibir memberi isyarat untuk diam. 


Perlahan Satria membuka pintu lalu berjalan menuju sofa dan diikuti oleh Pak Marcel, mereka berdua menjatuhkan pantat di atas sofa yang empuk sambil menatap Pak Udin yang mengaji di samping tempat tidur Mala. 


Surah Ar-Rahman yang dibacakan oleh sang bapak mengiris hari Satria, terlalu banyak nikmat Tuhan yang telah ia dustakan termasuk saat ini. Nafas yang masih bisa berhembus, detak jantung yang masih berdetak, serta aliran darah yang masih mengalir tanpa henti adalah nikmat. 


Namun, tidak berapa lama datang sang umi dengan tergesa-gesa sambil membawa kantong kresek dan berteriak memanggil sang bapak.


"Mas, aku beliin …, ucapan Azzahra terhenti ketika melihat Satria bersama seorang lelaki yang belum ia kenal. 


"Ra, sudah  berapa kali aku ingatkan ag …," ucapan Udin pun ikut terhenti ketika berbalik melihat ke arah padangan sang istri. Udin segera menghapus sisa cairan bening yang tadi sempat keluar ketika mengaji dan menghampiri Satria yang bersama tamunya tersebut.


"Nak, bagaimana penjelasan Dokter tadi?" tanya Udin yang sedari tadi menunggu kedatangan Satria. 


"Alhamdulillah, Pak. Operasi berjalan lancar," balas Satria sambil menelan silvernya pahit menjawab pertanyaan sang bapak.


Azzahra mendekat dan mengeluarkan makanan yang tadi ia beli di kantin rumah sakit. Mereka akhirnya makan siang bersama dengan perasan dan pikiran yang berbeda-beda hingga akhirnya makanan yang mereka makan kandas.


Satria mulai membuka suara dan mengenalkan Pak Marcel sebagai rekan kerja kedua orang tuanya kepada sang bapak dan umi. 

__ADS_1


Marcel paham akan alasan utama Satria mengatakan hal itu, baginya tidak masalah karena niatnya tadi hanya ingin menjenguk Mala. Setelah selesai Marcel pun pamit undur diri sebab masih memiliki janji bertemu dengan klien yang lainnya. Terlebih kata suster yang datang memantau Mala mengatakan kemungkinan wanita hamil itu siuman dari efek obat bius malam nanti. 


Setelah kepergian Marcel, Udin mengajak Satria untuk sholat Dzuhur di mushola rumah sakit. Solat Zuhur yang sudah mereka tunda cukup lama membuat hati lelaki itu tidak tenang. Dia juga menyuruh istrinya solat didalam ruangan Mala sekalian jagain putri mereka. 


***


Setelah sholat berjamaah dengan Udin menjadi imam dan Satria menjadi makmum, kini Udin mengajak Satria duduk di taman rumah sakit. Ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada menantunya tersebut. 


"Nak Satria, Bapak boleh meminta sesuatu sama kamu?" tanya Udin pelan setelah mereka duduk di kursi yang tersedia ditaman tersebut.


"Insya Allah, Pak. Jika Satria bisa berikan, maka akan Satria berikan."


Udin hanya tersenyum tipis menanggapi jawaban Satria, kini tatapannya lurus kedepan seolah-olah melihat apa yang akan terjadi.


"Nak Satria, Bapak mungkin bukan orang yang baik! Bahkan bisa dikatakan bukan orang tua yang baik juga."


Satria hanya diam mendengarkan dan mencoba mencerna baik-baik apa yang ingin sang bapak sampaikan kepadanya. 


"Bapak tahu kalau kamu suami yang baik, hal itu yang membuat Bapak yakin kalau kamu bisa menuntun Mala kejalan yang benar."


"Bapak tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga kalian, akan tetapi jika kalian ingin berbagi keluh kesah atau mencoba menyelesaikan masalah? Mungkin Bapak dan Umi kalian bisa bantu."


"Bapak juga sudah berkali-kali menasehati Umi kalian agar tidak ikut campur rumah tangga kalian, belajar dari rumah tangga Umi kalian yang kandas akibat orang tua yang suka ikut campur dalam rumah tangga sang anak."


"Bapak tidak menyalahkan Abi kalian, sebab baktinya seorang anak laki-laki ialah kepada ibunya. Sedangkan baktinya seorang istri ialah kepada suaminya. Namun, yang harus kamu ingat sebagai seorang anak dan juga suami agar seimbang dalam memberikan hak serta kewajiban agar tidak berat sebelah."


Satria sangat paham akan arah pembicaraan sang Bapak dan berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk berlaku adil terhadap dua wanita yang sangat berarti dan berjasa dalam hidupnya.


"Satu hal lagi yang Bapak ingin kamu ingat baik-baik, kata ini juga pernah Bapak dengar dari seseorang yang berjasa dalam hidup Bapak. 'Cintanya Sang Robb terlihat dari seberapa besar ujian yang menerpa seorang hamba, semakin besar ujian tersebut? Maka semakin besar pula cintanya Sang Robb untuk Hamba-Nya'."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut Udin mengajak Satria untuk kembali keruangan Mala, akan tetapi Satria menolak secara halus dengan alasan masih ingin menghirup udara segar di taman. 


Udin yang paham jika menantunya itu ingin menenangkan harinya sejenak dengan cara menyendiri akhirnya memilih membiarkan dan berlalu.


Satria diam sambil menadahkan wajahnya ke langit dan bergumam, "Ya Maha Besar, aku akan terima semua badai yang akan Engkau berikan."


Kemudian Satria menatap lurus kedepan di mana banyak sekali tanaman bunga di taman tersebut dan bergumam lagi, "Namaku Satria diambil dari kata kesatria yang berarti berani. Aku tidak akan mundur dari medan perang sekalipun dan aku akan menjadi perisai untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi."


"Apa kamu sudah tidak waras? Sehingga berbicara sendiri?"


Satria terlonjak kaget mendengar ucapan lelaki yang sebelumnya ia temui, lelaki yang sudah  dua kali berbicara dengannya. Namun, ia tidak mengenalnya. 


"Anda siapa?"


Lelaki itu hanya tersenyum menanggapi Satria membuat perasaan Satria semakin penasaran akan siapakah lelaki yang tengah berdiri dihapannya ini.


"Anda siapa?" tanya Satria lagi. Namun, lelaki itu masih saja diam tidak menjawab membuat Satria merasa takut.


"Apakah dia hantu?" batinnya.


Cukup lama lelaki itu berdiri didepan Satria dan akhirnya mendekat dan duduk di samping Satria seraya berkata, "Bayar hutangmu!."


"Apa?"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...*Setelah baca wajib like end comen ya 😇*...


__ADS_2