Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Janji Adalah Hutang


__ADS_3

Udin merasa lega setelah bisa menyampaikan apa yang seharusnya ia sampaikan, lelaki itu melangkah kembali ke ruangan sang putri. Pelan namun pasti, Udin menapakkan kakinya di ubin mamer rumah sakit tersebut, hingga hentakkan kaki terdengar menggema di lorong-lorong yang dilewati. 


Ketika telah sampai di depan pintu ruangan sang putri, Udin sempatkan melafaskan asma Allah. 


"Ya Rahman, ya Rahim. Ridhoilah setiap niat hamba," batin Udin. 


Udin langsung membuka pintu perlahan, nampak sang putri yang masih terbaring belum sadarkan diri di atas tempat tidur rumah sakit dan Azzahra yang duduk disamping sambil mengelus puncak kepala Mala. 


Udin langsung masuk dan menghampiri sang istri yang nampak sendu, "Ra, ikhlaskan semuanya."


Azzahra menatap tajam suaminya dan berkata, "Malaku belum mati, Mas!"


Wanita itu merasa tidak terima akan pernyataan suaminya tersebut, akan tetapi Udin hanya tersenyum sambil menarik satu kursi yang lain dan ikut duduk di samping sang istri.


"Ra, Mas hanya ingin kamu ikhlas. Bukan berarti, Mas mendoakan Mala meninggal," balas Udin sambil menatap wajah sang istri dengan perasaan yang sulit diartikan. Cukup lama mereka diam saling memandang satu sama lain, mengagumi ciptaan Tuhan yang sempurna. Hingga kedatangan Satria yang tergesa-gesa membuat mereka terkaget. Seolah seperti seorang maling yang tertangkap basah sedang mencuri? Mereka menjadi kalang kabut, padahal mereka tidak melakukan hal apa pun. 


Namun, ada sesuatu yang membuat mereka menatap sang menantu dengan heran. Melihat Satria yang datang dengan tiba-tiba dengan keringat mengucur deras dan nafas yang tidak beraturan memunculkan pertanyaan besar dalam benak mereka. 


"Bapak, Umi. Aku mau berbicara sebentar," terang Satria kepada kedua mertuanya tersebut dan duduk di sofa sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat berlari. 


"Kamu kenpa, Nak?" tanya Udin yang penasaran lalu menghampiri Satria dan duduk disamping sang menantu di ikuti oleh istrinya. 


"Pak, aku mau tanya masalah hukum, boleh?"

__ADS_1


Tubuh Udin ketika tegang mendengar penuturan sang menantu dan mengalihkan pandangannya kepada sang istri, seolah meminta pendapat.


Azzahra yang paham akan maksud sang suami mengaggukkan kepala tanda memberi izin. 


Udin yang mendapatkan anggukkan kepala sang istri kembali menatap Satria dengan perasaan yang sulit diartikan. 


"Ada apa, Nak? Coba jelaskan, supaya kami bisa mengerti."


Satria membuang nafasnya panjang sebelum memulai pembicaraan dengan kedua sang mertua yang tengah menunggu penjelasannya. Setelah merasa cukup tenang, Satria mengutarakan sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. 


"Pak, aku mau tanya masalah hukum yang sulit aku mengerti."


Udin dan Azzahra masih setia menunggu ucapan selanjutnya dari Satria. Terlihat sekali jika menantu mereka tersebut tengah tertekan. 


Udin mencerna baik-baik ucapan sang menantu sebelum memberi jawaban yang tepat, hingga ia menyampaikan apa yang dirinya ketahui tentang masalah itu. 


"Hukumnya janji itu adalah hutang, Nak. Hal yang harus kamu ingat adalah jika hutang wajib dibayar, bahkan salah satu ciri orang munafik adalah jika berjanji ia ingkar. Hanya itu yang Bapak ketahui."


Setelah mendegar keterangan sang Bapak menambah keyakinan Satria untuk menunaikankan janji, akan tetapi ia masih ragu dan kembali bertanya. 


"Pak, apa hukumnya jika orang lain berjanji dan melimpahkan janjinya untuk ditunaikan oleh orang lain?"


Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari bibit Satria dengan hati yang was-was. 

__ADS_1


Udin tersenyum sebelum membalas pertanyaan sang menantu, "Jika yang berjanji adalah orang lain? Lalu dia meminta agar orang lain menjalankannya? Maka hukumnya adalah janji yang diwariskan. Bukan hanya harta benda yang diwariskan? Janji atau ucapan pun bisa."


Satria semakin gusar dibuat oleh pertanyaan tersebut, ia seakan tidak mampu mengatakan yang sebenarnya. Namun, yang namanya orang tua? Jika sang anak memendam sesuatu? Mereka akan mengetahuinya. 


"Kamu ada masalah? Jika kamu merasa sulit mengatasinya atau ingin mencari solusi? Insya Allah, Bapak dan Umi bisa bantu."


Walaupun dengan berat hati, Satria mulai menceritakan apa yang tengah ia hadapi. Satria menceritakan jika bertemu dengan seseorang yang membuatnya harus membayar janji yang pernah diucapkan oleh sang isrti. 


Udin mengangguk dan berfikir keras bagaimana menghadapi persoalan tersebut, hingga suara pintu diketuk terdengar. 


Tokkk… .


Azzahra dengan sigap segera melangkah dan membukakan pintu, akan tetapi  betapa terkejutnya mereka melihat siapa tamu tersebut.


"Kamu!"


.


.


.


...Bersambung ••• •...

__ADS_1


...*Setelah baca wajib like end comen ya😇*...


__ADS_2