Mengejar Cinta ROBBKU

Mengejar Cinta ROBBKU
Kedatangan Sang Pemecah Masalah


__ADS_3

"Ada apa, kumpul disini?"


Semua mata menatap lelaki yang baru datang tersebut. 


"Ya Robb, salah alamat sepertinya," batinya.


Wajah Mala berubah pias seketika, ketika ia melihat siapa yang datang.


Dengan perlahan lelaki itu mendekati Azzahra yang masih duduk di lantai sambil dipegangi oleh Udin dan Satria. 


Keadaan di ruangan itu terasa mencekam, akan tetapi terdengar sebuah pertanyaan yang membuat mereka semua tercengang.


"Apa kamu merasa sakit? Seharusnya iya, bukan? Ini, memang pantas untuk kau terima," ucap lelaki itu dengan tenang sambil menatap Azzahra. 


"Apa yang Om katakan?" lirih Udin yang tidak kuasa akan kecambuk dalam hatinya. 


"HUKUM KARMA! Apa yang kau tanam? Maka, itu yang kau petik."


Semua orang menatap lelaki itu dengan tatapan penuh akan tanda tanya. 


"Sari, kamu tahu bukan? Siapa Kakek ini?" tanyanya dengan wajah serius menatap Mala. 


Mala segera menganggukkan kepalanya menagapi ucapan sang kakek. 


"Jelaskan!"


Mala menelan silvernya kasar, ia seolah tahu akan maksud sang kakek. Sebab, Mala sangat mengenal. Siapa, lelaki itu. 


"Kakek Sulaiman adalah saudara Kakek Ibrahim."


"Hanya itu?" tanyanya dengan raut wajah yang serius.


Mala bingung mau mengatakan apa, biasanya ia yang mengintimidasi orang. Namun, kali ini dirinya di intimidasi. 


Helaan nafas terdengar sangat panjang dari lelaki tua itu, seraya duduk di sofa. Ia menatap wajah orang disekitarnya satu per-satu hingga berhenti ke arah Azzahra. 


"Ra, Om ini adalah saudara Bapakmu. Kamu tahu apa artinya itu?"

__ADS_1


Azzahra hanya mampu menundukkan kepala, tidak mampu berbicara sama sekali. Lidahnya terasa kaku dan kelu seketika.


"Artinya Anda merupakan orang tua untuk Umi Zhara," jawab Suci yang sedari tadi diam kini angkat bicara. 


Walau tidak mengerti akan maksud kedatangan Kakek sulaiman. Namun,  ia bisa menagkap satu hal yang tadi lelaki itu katakan akan hukum karma. 


Suci berpikir logis, pasti ada suatu aib yang mereka semunyikan dari semua orang. Sebab, Manusia memiliki sikap baik dan buruk. 


"Siapa kamu?" tanya Sulaiman sambil menatap nanar Suci yang asing di penglihatannya.


"Nama saya Sulastri," jelas Suci seraya mendekati Kakek Sulaiman sebagai bentuk adab yang muda kepada yang tua ketika di ajak berbicara. 


"Jadi, kamu madunya Sari?" tanyanya. 


Suci hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan tersebut. Walaupun ada perasaan tidak enak akan kata madu.


"Baik 'lah, saya harap semuanya bisa duduk dan kita akan menyelesaikan masalah ini dengan hati serta kepala yang dingin."


Semua orang menuruti permintaan Kakek Sulaiaman, tidak ada bantahan sama sekali. Setelah keadaan mulai tenang, Sualaiman pun membuka pembicaraan akan hukum berumah tangga. 


"Udin, Zahra," panggil Sulaiman sambil menatap kedua orang itu. 


"Kalian tahu jika sebagai orang tua dan mertua, kalian punya batasan. Kalian hanya boleh memberi masukan dan nasehat untuk anak dan menantu. Kalian tidak boleh mencampuri masalah mereka, kecuali mereka yang meminta. Itupun dengan cara KEDEWASAAN."


Kali ini, Azzahra benar-benar tidak bisa mengeluarkan argumennya. Ia paham betul akan hukum yang telah dilanggar olehnya. Namun, ia masih enggan untuk mengakui hal itu.


"Satria."


Satria yang merasa namanya dipanggil oleh Kakek Sulaiman seketika tegang. Ia merasa sedang diadili saat ini. Keringat mengucur deras dari telapak tanganya. 


Suci dan Mala yang melihat perubahan sang suami segara memegang tangan lelaki itu. Mala menggenggam tangan kanan Satria dan Suci di sebelah kiri. 


Sulaiman yang melihat hal itu, menarik seulas senyuman. Ia yakin jika Satria mampu membimbing kedua istrinya. Sulaiman yang melihat dengan jelas, bagaimana mereka saling menguatkan dan menjaga. 


"Satria! Sebagaimana kita tahu jika hukum poligami itu mubah (boleh). Tapi, berikan Kakek  alasan yang tepat untuk menerima poligami yang kamu lakukan."


"Bismillahi,  saya menikahi Suci sebagai istri kedua. Karena permintaan Mala istri pertama saya. Sebagai suami Mala, saya bertanggung jawab penuh akan dirinya. Dan, dikarenakan Mala yang telah bernazar dan berjanji. Sebagaimana jika hal itu adalah hutang, maka wajib bagi saya untuk membayarnya sebagai bentuk dari tanggung jawab terhadap istri saya."

__ADS_1


Prokkk,,, 


"Selamat, kamu lulus," jelas Sulaiman dengan penuh akan perasaan puas akan jawaban yang Satria berikan. Sambil mengulurkan tangannya ke arah Satria yang membuat semua orang tercengang.


"Apa maksudnya, Kakek?" tanya Satria yang masih syok akan apa yang terjadi.


Sulaiman Pun akhirnya menjelaskan jika Satria mampu untuk membina rumah tangga yang baik dengan kedua istrinya. Karena, inti dari semua hal adalah keadilan. Jika, Satria bisa  memberikan hak istri-istrinya dengan adil. Maka, tidak masalah. 


Lelaki itu juga memberi nasehat kepada Udin dan Azzahra agar tidak mencampuri urusan rumah tangga anak mereka. Kecuali dipinta, itupun dengan batas-batasan yang harua dipertimbangkan dengan baik. 


Semuanya dikembalikan kepada niat, dalam hati Satria tidak ada niat untuk menikah lagi. Namun, ia mau menikahi Suci itu karena membayar janji yang telah istrinya ucapkan dan sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai suami. 


Semua masalah bisa diselesaikan dengan hati dan pikiran yang tenang. Karena, sesungguhnya amarah itu sifatnya syetan. 


Hingga akhirnya mereka saling meminta maaf dan berpelukkan. Menyadari jika semuanya hanya gara-gara emosi yang tidak bias dikontrol. Membuat jalinan silaturahmi mereka menjadi renggang.


ini 'lah hidup, tidak ada kata yang lain. Kecuali UJIAN. Hidup didunia harus melewati ujian demi ujian, sebab disitulah wujud cinta dari Sang Robb. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa bulan kemudian. 


Badai telah usai, gemuruh di dalam dada pun telah sirna. Kini hanya ada senyum dan tawa yang menemani keluarga Satria, Mala, dan juga Suci. Mereka terikat akan sebuah hubungan yang menurut sebagian orang rumit. 


Banyak cacian dan makian yang mereka terima, akan tetapi tidak membuat mereka goyah sekalipun. Karena mereka paham, jika semua itu hanya bentuk kasih sayang Sang Robb kepada mereka. 


Mereka yakin jika ini cara Robb mencintai Hambanya, tidak ada kata yang mereka ucapkan, selain Alhamdulillah.


Alhamdulillah, masih bisa makan. 


Alhamdulillah, masih bisa berjalan. 


Alhamdulillah, masih bisa bernafas. 


Semuanya adalah nikmat dari Ilahi yang selalu mereka syukuri, ditambah akan hadirnya Cahaya ditengah keluarga mereka membuat rumah tangga itu sakinah, mawadah, warohmah.


Karena sesungguhnya kebahagian itu, kita sendiri yang menciptakan. Buatlah Jannah di rumah dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Karena Allah telah berfirman "Sesungguhnya, Aku adalah prasangka Hamba-Ku." Maka, senang tiasa 'lah berprasangka baik kepada Allah. 

__ADS_1


Dapatkan cinta Sang Pencipta, maka akan mudah mendapatkan cinta makhluk-Nya. Hal ini yang mereka para pengejar cinta Robbku yakini. Karena semua terlalu mudah bagi Allah, cukup kun fayakun (terjadilah, maka terjadi).


Tamat. 


__ADS_2